Sukses

COVID-19 atau Tidak, Pakai Masker di Luar Ruangan Tetap Penting bagi Warga Jakarta

Liputan6.com, Jakarta Kasus COVID-19 yang sempat menurun membuat pemerintah Indonesia mencabut mandat masker luar ruangan pada Mei.

Namun, apakah COVID-19 menjadi satu-satunya alasan bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga Jakarta, untuk tetap menggunakan masker di luar ruangan?

Seperti diketahui, Jakarta memiliki masalah polusi udara. Menurut sebuah studi IQAir, Air Quality Index (AQI) menempatkan Jakarta sebagai salah satu kota paling tercemar di Indonesia dan di seluruh dunia. Pada 20 Juni, AQI Jakarta mencapai 196, hampir masuk kategori “Sangat Tidak Sehat”.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan pada 2020 mengakui bahwa “polusi udara adalah masalah kesehatan yang signifikan di ibu kota, menyebabkan lebih dari 5 juta penyakit per tahun,” mengutip CNA, Senin (1/8/2022).

Menurut laporan Energy Policy Institute di University of Chicago’s Air Quality Life Index yang dirilis pada bulan Juni, penduduk Jakarta dapat kehilangan tiga hingga empat tahun harapan hidup karena polusi udara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa hampir satu dari delapan kematian di seluruh dunia dapat dikaitkan dengan polusi udara.

Jadi pandemi atau tidak, ada manfaat yang jelas bagi warga Jakarta untuk tetap menggunakan masker jika tidak melakukannya dapat membawa konsekuensi kesehatan yang serius, bahkan mematikan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Situasi Udara Semakin Parah

COVID-19 telah menjadi alasan utama orang Jakarta memakai masker. Bahkan setelah mandat masker dicabut, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengimbau warga untuk tetap menggunakan masker saat berada di luar ruangan, mengingat situasi polusi udara yang semakin parah.

Banyak warga Jakarta yang tetap memakai masker, mengingat pandemi belum resmi dinyatakan berakhir. Ini adalah salah satu dampak positif tidak langsung dari pandemi – orang yang masih memakai masker karena kekhawatiran COVID-19 bisa mendapatkan perlindungan terhadap polusi udara, ancaman yang lebih berbahaya.

Mengenakan masker polusi udara yang sangat efektif telah terbukti membantu mengurangi risiko paparan partikel halus tingkat atmosfer, atau PM2.5, dan partikulat udara lainnya. Ini sekaligus mengurangi kemungkinan penyakit dan kematian terkait polusi udara.

Sebuah studi tahun 2018 di China menunjukkan bahwa masker dengan penyaringan setara dengan N95, KN95 atau FFP2 paling efektif untuk menyaring PM2.5 dan jelaga diesel.

Meskipun masker wajah bedah lebih umum dan nyaman digunakan, tapi filter-nya kurang efektif (untuk polusi). Namun, penelitian menunjukkan bahwa ini masih membantu mengurangi jumlah partikel berbahaya yang dihirup.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Di Negara Lain

Sebelum pandemi, beberapa warga Jakarta memakai masker secara teratur mengingat kualitas udara yang buruk.

Sebuah operasi ride-hailing yang populer di Indonesia biasa membagikan masker kepada penumpang yang menggunakan layanan ojeknya.

Masyarakat di kota-kota besar Asia tidak asing dengan penggunaan masker untuk menghindari polusi udara. Di Jepang, misalnya, orang telah memakai masker sejak 1950-an sebagai perlindungan terhadap polusi udara yang meningkat. Di Vietnam, masker sama lumrahnya dengan helm untuk sepeda motor dan skuter di jalan-jalan Hanoi.

Meski begitu, masker diumpamakan sebagai salep, bukan obat untuk masalah polusi udara Jakarta.

Tingkat polusi yang berbahaya, lebih dari 20 juta kendaraan bermotor dan merokok merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari bagi banyak orang. Ini bisa menjadi kombinasi yang mematikan.

“Jadi, mengimbau warga untuk terus memakai masker adalah langkah yang tepat, penanganan masalah polusi udara secara lebih serius harus menjadi prioritas pemerintah kota,” kata linguis sekaligus penulis di CNA, Dr. Muhammad Ersan Pamungkas.

4 dari 4 halaman

Peningkatan Transportasi Umum

Salah satu perubahan struktural yang dapat dilakukan adalah peningkatan transportasi umum kota yang terkenal buruk.

Dengan transportasi umum yang lebih baik dan lebih andal, lebih banyak orang akan didorong untuk meninggalkan kendaraan mereka di rumah, yang berpotensi berkontribusi pada langit yang lebih bersih.

Kota ini sebenarnya telah membuat kemajuan dalam hal ini dengan meluncurkan moda transportasi baru seperti Mass Rapid Transit dan Light Rail Transit Jakarta, yang keduanya jauh lebih nyaman dan andal daripada moda transportasi lain di kota.

Indeks Lalu Lintas TomTom menempatkan Jakarta sebagai kota terpadat ke-46 pada tahun 2021, turun dari peringkat 10 pada tahun 2019 (tahun peluncuran MRT) yang menunjukkan lebih sedikit kendaraan di jalan.

Menanam lebih banyak pohon juga bisa menjadi pilihan yang baik. Jakarta “mungkin” menjadi rumah bagi lusinan mal dan pusat perbelanjaan yang berkembang, tetapi sangat kekurangan ruang hijau.

Kota ini hanya memiliki 3.131 ruang terbuka hijau (RTH) atau hanya sekitar 10 persen dari total luas lahan di kota. Jauh di bawah persyaratan 30 persen yang diatur dalam UU Penataan Ruang yang berlaku.

Tebet Eco Park yang baru dibuka di Jakarta Selatan telah menarik sejumlah besar warga Jakarta yang berbondong-bondong ke taman terutama selama akhir pekan, bahkan memaksa pemerintah kota untuk sementara menutup taman karena menarik terlalu banyak orang.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak warga Jakarta yang menginginkan dan mencari ruang terbuka hijau tersebut.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS