Sukses

Serba-Serbi Operasi Leher seperti yang Dilakukan Lucinta Luna, Mulai dari Ragam Jenis hingga Risikonya

Liputan6.com, Jakarta Ayluna Putri atau yang akrab disapa Lucinta Luna melakukan operasi pada bagian leher di Korea Selatan. Hal tersebut dilakukan lantaran dirinya ingin mengembalikan suara agar halus.

Kabar ini dibagikan olehnya melalui akun media sosial pribadinya. Lucinta Luna mengawalinya lewat sebuah unggahan berisi potret dirinya saat tengah diperban pada bagian kepala hingga leher. Darah pun terlihat masih mengalir pada bagian tersebut.

"selamat tinggal Ratu Keabadian... selamat tinggal Khodam... selamat datang RATU 9 NYAWA. yang pada nanya Ratu habis operasi apa ? pemotongan leher pembuangan khodam dan operasi bedah wujud," tulis Lucinta Luna melalui akun Instagram @lucintaluna_manjalita pada Rabu, 6 Juli 2022.

Tak hanya itu, Lucinta Luna juga menceritakan latar belakang mengapa ia ingin melakukan operasi dalam video berdurasi 11 menit 14 detik pada kanal Youtube Lucinta Luna TV.

Lucinta Luna menyebutkan bahwa kerongkongannya terasa kering dan sakit. Kondisi tersebut dialaminya usai melakukan operasi wajah sebelumnya di Korea.

"Dari semenjak aku pulang dari Korea, kok tiba-tiba suara khodam aku malah makin keterusan. Tiada guna, enggak berhenti-henti, enggak bisa direm," kata Lucinta Luna.

"Ini bawaannya nih ya di dalam kerongkongan, di tembolok aku rasanya kayak ada sesuatu. Jadi tuh bawaannya kering kering kering mulu," tambahnya.

Bahkan Lucinta Luna mengungkapkan dirinya sudah menempuh upaya-upaya lainnya sebelum operasi yakni dengan membersihkan lidah, minum air hangat, wedang jahe, hingga jeruk nipis dengan kecap.

"Tetap saja enggak bisa (kembali suaranya) sampai sekarang," ujar Lucinta Luna.

2 dari 3 halaman

Operasi Feminisasi Suara

Sejauh ini, belum diketahui secara pasti tindakan apa yang dilakukan oleh Lucinta Luna. Entah operasi untuk pengangkatan jakun atau hanya sepenuhnya mengubah suara.

Namun mengutip laman Mayo Clinic, operasi bedah suara atau feminisasi suara memang memungkinkan dilakukan oleh mereka yang ingin mengubah suaranya.

Hal tersebut banyak dilakukan oleh individu yang memilih untuk menjadi seorang transgender dan ingin menyesuaikan suara mereka untuk berkomunikasi dengan identitas mereka sendiri.

Operasi feminisasi suara juga biasanya hanya berfokus untuk mengubah nada. Fungsinya untuk melakukan feminisasi suara yang dapat meningkatkan nada bicara dan mengurangi kemampuan untuk menghasilkan suara dengan nada yang rendah atau berat.

Dalam beberapa kasus, ada pula pasien yang memilih hanya melakukan terapi suara. Namun bagi beberapa lainnya, operasi pun menjadi pilihan untuk mengubah nada.

Sedangkan mengutip laman Cleveland Clinic, operasi feminisasi suara merupakan prosedur untuk menaikkan nada suara Anda atau membuatnya terdengar lebih tinggi. Pembedahan mengubah panjang, ukuran, atau kekencangan pita suara.

Terdapat pula jenis-jenis operasi untuk feminisasi suara. Berikut diantaranya.

1. Anterior glottal web formation

Operasi satu ini dilakukan untuk memperpendek panjang pita suara Anda. Ini adalah jenis operasi feminisasi suara yang paling umum. Ini juga disebut Wendler Glottoplasty.

2. Cricothyroid Approximation (CTA)

Jenis satu ini dilakukan jika Anda ini meningkatkan keketatan pita suara. Fungsinya untuk mengubah pitch suara agar lebih rileks.

3. Laser Reduction Glottoplasty (LRG)

Sedangkan yang ketiga ini digunakan untuk mengurangi massa, ukuran, dan pita suara. Biasanya hasil operasi satu ini dapat bertahan selama lima tahun dan dibutuhkan operasi tambahan untuk hasil yang lebih maksimal.

3 dari 3 halaman

Risiko Operasi untuk Ubah Suara

Berdasarkan pemaparan dalam laman Mayo Clinic, melakukan operasi untuk mengubah suara juga memiliki risikonya tersendiri. Hal tersebut berkaitan dengan rentang suara secara keseluruhan.

Terdapat risiko bahwa pembedahan dapat menyebabkan suara menjadi terlalu tinggi atau terlalu kasar, serak, atau terengah-engah sehingga membuat komunikasi menjadi sulit.

Sebagian besar hasil dari operasi feminisasi suara ini juga bersifat permanen. Para pasien yang melakukan operasi juga perlu untuk melatih perilaku vokalnya usai menjalani operasi.

Bahkan untuk membiasakan diri dengan suara yang baru, para pasien juga dapat melakukan terapi wicara yang ditujukan untuk feminisasi dan penetralan ucapan.

Operasi yang berfokus untuk melakukan bedah suara akan membutuhkan waktu untuk pemulihan. Serta pasien juga akan membutuhkan waktu untuk benar-benar terbiasa dengan suara barunya tersebut.