Sukses

Vaksin Booster Bisa Jadi Upaya Perlindungan Jangka Panjang dari COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini, kenaikan kasus di Indonesia tengah terjadi akibat subvarian Omicron baru BA.4 dan BA.5. Data terakhir pun menunjukkan bahwa kasus aktif COVID-19 di Indonesia berjumlah 14.516.

Namun capaian vaksinasi booster saat ini justru masih terbilang rendah. Data yang dihimpun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada Sabtu,  25 Juni 2022 pukul 18.00 WIB menunjukkan bahwa capaian vaksinasi booster di Indonesia baru 23,92 persen.

Artinya masih ada sekitar 76 persen masyarakat di Indonesia yang belum melakukan vaksinasi booster. Banyak pula masyarakat yang telah melewati jangka waktu enam bulan dari vaksinasi kedua namun belum melakukan vaksin booster.

Padahal, efektivitas vaksin primer dari virus SARS-CoV-2 diketahui menurun setelah lewat dari enam bulan pasca pemberian vaksin terakhir.

Berkaitan dengan hal tersebut, Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI), Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, SpAK mengungkapkan bahwa vaksinasi primer dan booster memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada risikonya.

Hinky pun menyebutkan vaksin COVID-19 yang diberikan termasuk vaksin dengan kategori viral vector pun tetap aman untuk vaksinasi primer maupun booster.

"Manfaat yang diperoleh juga jauh lebih besar daripada resiko yang mungkin terjadi," ujar Hinky dalam webinar bertema Perjalanan Vaksinasi COVID-19: Pentingnya Vaksinasi Booster di Masa Pandemi ditulis Senin, (27/6/2022).

"Surveilans KIPI melihat keamanan vaksin dilakukan berkesinambungan untuk memastikan keamanan vaksin dalam upaya peningkatan keselamatan pasien serta menentramkan masyarakat,” tambahnya.

2 dari 4 halaman

Tips Lakukan Vaksinasi Booster

Dalam kesempatan yang sama, Hinky juga menjelaskan bahwa di Indonesia, pemberian dosis vaksin booster terutama bagi lansia di atas 60 tahun dapat dilakukan dengan interval minimal 3 bulan setelah vaksin primer.

Vaksinasi booster dapat dilakukan secara homolog atau heterolog menggunakan regimen vaksin yang tersedia di lapangan dan sudah mendapatkan EUA dari BPOM serta sesuai dengan rekomendasi Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Terlebih, terdapat masyarakat yang memiliki gangguan atau defisiensi respons imun terhadap vaksinasi. Sehingga vaksin booster diharapkan dapat meningkatkan respons imun setelah melakukan vaksinasi primer.

“Vaksinasi yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan titer antibodi yang diinginkan untuk merespons memori untuk mengenali antigen dalam virus COVID-19” ujar Hinky.

Bagi kelompok dengan komorbid sendiri, Kemenkes menyarankan untuk melakukan vaksinasi apabila penyakit dalam keadaan terkontrol.

Misalnya bagi pasien hipertensi dapat divaksinasi jika tekanan darahnya berada di bawah 180/110 MmHg. Sedangkan pasien diabetes dapat divaksinasi sepanjang belum ada komplikasi akut. Begitupun dengan penyintas kanker yang masih dapat tetap diberikan vaksin.

3 dari 4 halaman

Menurunkan Risiko Keparahan

Dalam kesempatan yang sama, turut hadir Ketua ITAGI, Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro, SpAK.

Sri menyebutkan bahwa studi yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa vaksinasi COVID-19 dapat menurunkan kejadian penyakit berat, masuk rumah sakit, dan kematian.

"Artinya, kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan perlindungan dari COVID-19 yakni usia lanjut, komorbid dan kelompok imunokompromais selain kelompok dewasa, remaja dan anak-anak sehat," ujar Sri.

Sri menjelaskan berdasarkan rekomendasi WHO sejauh ini, vaksin booster heterolog merupakan vaksin yang mendapat EUL (Emergency Use Listing) adalah mRNA, viral vektor, dan protein subunit.

“Berdasarkan data, vaksinasi booster heterolog pada vaksin CoronaVac menghasilkan respons antibodi lebih tinggi dan bertahan lebih lama dibandingkan booster homolog," kata Sri.

"Tujuan pemberian booster adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan efektifitas vaksin yang telah menurun” pungkasnya. 

4 dari 4 halaman

Kenaikan Kasus COVID-19 Akibat BA.4 dan BA.

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin sempat mengungkapkan bahwa kenaikan kasus di Indonesia yang terjadi belakangan ini memang disebabkan oleh Omicron BA.4 dan BA.5.

Kenaikan kasus konfirmasi harian tersebut juga telah melewati angka dua ribu dalam satu hari, tepatnya 2.068 tambahan kasus pada Jumat, 24 Juni 2022.

Namun jika berpaku pada landasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia sebenarnya masih masuk dalam kategori negara dengan pandemi COVID-19 yang terkendali.  

"Kenaikan kasus konfirmasi harian sudah mencapai 2.000an kasus per hari. Batas atas Level 1 WHO adalah 7,800 kasus per hari," ujar pria yang akrab disapa BGS seperti dikutip melalui keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Minggu, 26 Juni 2022.

Budi menjelaskan, reproduction rate nasional di Indonesia juga masih terkendali yakni dibawah satu persen. Begitupun dengan positivity rate secara nasional yang masih terkendali meskipun terpantau mengalami kenaikan.

Saat ini, positivity rate secara keseluruhan di Indonesia pun masih dalam kategori terkendali yakni berada dibawah lima persen yakni 3,61 persen.