Sukses

Jakarta Masuk Daftar Kota dengan Polusi Terburuk di Dunia, Begini Efek Jangka Panjangnya

Liputan6.com, Jakarta Kemarin pada Rabu, 22 Juni 2022, kota Jakarta baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 495 tahun. Bertepatan dengan hari tersebut, Jakarta justru mendapatkan kado dari IQAir, sebuah perusahaan teknologi yang bergerak dibidang kualitas udara.

Kado tersebut berupa pernyataan bahwa Jakarta menjadi kota dengan polusi udara tertinggi di dunia pada HUT-nya tersebut.

Mengutip laman IQAir pada Kamis, (23/6/2022), data terbaru hingga pukul 11:58 WIB menunjukkan bahwa Jakarta masih masuk dalam tiga besar sebagai kota dengan polusi udara tertinggi.

Hanya saja posisinya turun menjadi peringkat tiga hari ini. Dikalahkan oleh Dubai, Uni Emirat Arab dan Riyadh, Arab Saudi.

Jakarta memiliki AQI US sebesar 143 yang berarti masuk dalam kategori 'Tidak Sehat' menurut IQAir. Persoalan polusi udara sudah cukup lama dipermasalahkan oleh berbagai pihak.

Tak heran, hal tersebut lantaran polusi udara tak hanya soal debu, asap, dan kawan-kawannya. Polusi udara sendiri memiliki efek jangka panjang pada kesehatan lho.

Lalu, apa sajakah efek jangka panjang untuk kesehatan dari polusi udara? Berikut diantaranya.

Mengutip laman Medical News Today, efek dari polusi udara dapat menyebabkan seseorang kesulitan bernapas ringan hingga persoalan kardiovaskular yang parah, termasuk penyakit jantung, stroke, hingga kanker paru.

Gas dan partikel berbahaya ditimbulkan dari berbagai macam jenis polusi udara. Seperti asap knalpot kendaraan, asap tembakau (rokok), atau asap dari pembakaran batu bara.

Lalu, apa sajakah efek jangka panjang untuk kesehatan dari polusi udara? Berikut diantaranya.

2 dari 4 halaman

Sederet Efek Jangka Panjang Polusi Udara

1. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

Paparan partikel dari polutan dapat menyebabkan PPOK. Hal tersebut didukung oleh pendapat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan bahwa polusi udara menyebabkan 43 persen kasus PPOK di seluruh dunia.

PPOK merupakan penyakit yang menyebabkan kesulitan bernapas, seperti emfisema dan bronkitis kronis. Penyakit ini menyumbat saluran udara dan membuat seseorang kesulitan untuk bernafas.

2. Kanker paru

Menurut WHO, polusi udara menyebabkan 26 persen dari semua kasus dan kematian yang ada dari kanker paru.

Hal tersebut lantaran partikel yang ada dalam polutan, yang mana ukurannya sangat kecil memungkinkan mereka masuk dan mencapai saluran pernapasan bagian bawah.

3. Penyakit kardiovaskular

Polusi udara dapat memicu stroke dan serangan jantung. Fakta tersebut tertuang dalam studi yang dipublikasikan dalam National Library of Medicine. Para peneliti menemukan bahwa tinggal di daerah dengan tingkat polusi udara yang tinggi dapat meningkatkan risiko kematian akibat stroke.

Global Burden of Disease Study juga ikut memperkirakan bahwa polusi udara ikut bertanggung jawab atas 19 persen kematian kardiovaskular pada tahun 2015. 21 persen kematian akibat stroke dan 24 persen kematian akibat penyakit jantung juga disebabkan oleh polusi udara sebagai biang keroknya.

3 dari 4 halaman

Ikut Berdampak pada Janin

Efek jangka panjang polusi udara tak berhenti pada PPOK, kanker paru, dan penyakit kardiovaskular. Namun juga ikut berdampak pada kondisi janin yang dikandung oleh seorang ibu.

Menurut penelitian dalam International Journal of Environmental Research and Public Health, paparan udara yang tercemar dapat membuat wanita hamil lebih mungkin untuk mengalami persalinan prematur.

Para peneliti menemukan bahwa kemungkinan kelahiran prematur berkurang dengan penurunan paparan.

Lebih lanjut menurut International Agency for Research on Cancer, polusi udara di luar ruangan adalah karsinogen, yang mana dapat menyebabkan kanker.

Hal tersebut disebabkan oleh udara yang tercemar mengandung partikel dan bahan kimia terpisah, yang masing-masing memiliki efek berbeda pada kesehatan.

Sedangkan dari sisi efek jangka pendek, paparan polusi udara dapat menyebabkan infeksi pernapasan, penurunan fungsi paru, kerusakan pada mata dan saluran pernapasan, serta mengiritasi kulit.

Terpapar polusi udara juga dapat memperburuk gejala asma yang dialami oleh seseorang.

 

4 dari 4 halaman

Hal yang Bisa Dilakukan

Efek kesehatan dari polusi udara memang bisa begitu serius karena faktanya menurut WHO, sepertiga kematian yang ada akibat stroke, kanker paru, dan penyakit jantung memang disebabkan oleh polusi udara.

Apalagi ternyata, efek paparan polusi udara juga memiliki efek yang setara dengan merokok, dan jauh lebih tinggi daripada efek makan terlalu banyak garam.

WHO mengungkapkan bahwa polusi udara sulit untuk dihindari, tidak peduli seberapa kaya area tempat tinggal Anda. Hal tersebut lantaran polusi udara memang ada di sekitar kita.

"Biaya sebenarnya dari perubahan iklim akan terasa di rumah sakit dan paru-paru kita. Beban kesehatan dari sumber energi yang mencemari lingkungan sekarang begitu tinggi," ujar Direktur Kesehatan Masyarakat, Lingkungan, dan Determinan Sosial WHO, Dr Maria Neira dalam laman resmi WHO.

"Sehingga beralih pada pilihan yang lebih bersih dan berkelanjutan untuk pasokan energi, transportasi, dan sistem pangan merupakan cara yang paling efektif," tambahnya.