Sukses

Anak Perlihatkan Gejala Serupa Hepatitis Akut, Kapan Mesti ke RS?

Liputan6.com, Jakarta - Sejauh ini hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya memiliki sederet gejala awal yang dapat diwaspadai.

Para ahli mengungkapkan bahwa gejala awal dari hepatitis misterius berupa mual, muntah, diare, sakit perut, hingga demam. Namun, tidak dapat dipungkiri, gejala tersebut juga umum terjadi pada anak.

Lalu, kapankah orangtua perlu membawa anak ke dokter bila muncul gejala-gejala yang serupa dengan hepatitis akut yang misterius tersebut?

Spesialis anak ahli pencernaan dan hati RS EMC Sentul, dr Sumardi Fransiskus mengungkapkan bahwa orangtua bisa melihat lebih dulu gejala yang muncul di awal.

"Pertama memang kita harus lihat dulu, jadi, kita lihat apa ada mual muntah? Kalau mual, muntah, diare kan takutnya dehidrasi karena asupannya sudah kurang. Anak-anak yang dehidrasi bisa ke arah yang berat, boleh kita kasih oralit," ujar Sumardi dalam program Liputan6 Update pada Rabu, 11 Mei 2022.

"Tapi kita observasi satu hari. Kalau semakin memburuk, sebaiknya kita refer ke fasilitas kesehatan atau ke dokter," dia menambahkan.

Sebelumnya, Sumardi juga mengungkapkan bahwa orangtua memang perlu lebih waspada lagi saat ini terutama saat sudah menemukan gejala mual, muntah, diare, dan demam.

Apalagi jika anak sudah terlihat lemas, tidak mau makan, atau terlihat berbeda dari hari-hari biasanya.

Menurut Sumardi, penyakit yang disebabkan oleh virus seperti hepatitis misterius ini biasanya sistemik. Artinya, proses munculnya gejala bertahap dan tidak hanya pada satu tempat saja.

"Jadi perasaan badan tidak enak, baru mual muntah, ada diare. Terakhir baru terjadi kuning ketika hatinya sudah tidak bisa lagi memetabolisme," kata Sumardi.

2 dari 4 halaman

Mengapa Pasiennya Anak-Anak?

Pasien hepatitis akut yang misterius memang mayoritas adalah anak-anak. Menurut Sumardi, ada tiga hal yang berperan dalam hal ini.

Pertama, anak-anak masih dalam fase pertumbuhan yang mana belum memiliki sistem imunitas yang cukup kuat. Sehingga menjadi lebih mudah untuk terkena penyakit.

"Sistem imun bisa maksimal kalau pada usia anak itu nol sampai 18 tahun. Memang pasien-pasien (hepatitis misterius) yang terkena itu dua sampai 16 tahun," ujar Sumardi.

"Jadi, memang pada anak-anak ini kita ketahui ada proses pertumbuhan dan perkembangan. Semua organ itu berkembang, termasuk sistem imun yang terbatas," dia menjelaskan.

Kemungkinan penyebab kedua berkaitan dengan higienitas. Misalnya, menurut Sumardi, anak-anak seringkali memasukan tangannya ke mulut, yang mana belum terjamin kebersihannya.

Sumardi mengungkapkan bahwa hepatitis misterius satu ini juga mungkin merupakan varian baru. Hal tersebut lantaran virus yang ada pada hepatitis sebelumnya tidak terdeteksi pada hepatitis misterius.

"Ketiga, mungkin ini juga varian baru. Seperti SARS-CoV-2 yang kemarin pada anak-anak tidak terlalu berat. Tapi pada ini, kenapa lebih berat? Mungkin dia sifatnya varian baru," kata Sumardi.

3 dari 4 halaman

Gejala Diare Biasa dan Hepatitis Akut

Hingga kini, salah satu kandidat yang diduga menjadi penyebab hepatitis akut misterius adalah Adenovirus 41, yang mana biasanya menjadi virus penyebab diare. Cara membedakannya dapat dilihat dari durasi diare itu sendiri.

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Unit Kerja Koordinasi Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Muzal Kadim, SpAK mengungkapkan bahwa diare pada umumnya akan sembuh dalam waktu singkat dan bersifat ringan.

"Adenovirus itu penyebab diare yang biasanya ringan. Hanya muntah dua tiga hari sembuh," ujar Muzal dalam seminar media IDAI bertema Serba-Serbi Penyakit Lebaran pada Anak pada Selasa, 10 Mei 2022.

Lebih lanjut Muzal menjelaskan bahwa diare yang umumnya terjadi pada anak juga memiliki gejala khas tersendiri. Seperti diawali dengan demam dan muntah lebih dulu.

"Biasanya didahului dengan demam, kemudian anaknya muntah dua sampai tiga kali. Baru kemudian besoknya diare, itu yang paling sering terjadi. Diarenya biasa cair, berbusa, berbau asam, ada kembung, merah di anusnya," kata Muzal.

Sedangkan, Muzal mengungkapkan bahwa pada kasus dugaan hepatitis misterius, diare dan gejala lainnya yang terjadi memiliki lanjutan.

"Jadi biasanya muntah, diare, sakit perut. Demam, karena ini suatu infeksi sering disertai demam. Lalu lebih lanjut lagi ada kuning. Biasanya di kelopak mata itu, di sklera. Jadi kalau kelopak matanya ditarik di sklera mata yang putih itu jadi kuning," ujarnya.

4 dari 4 halaman

Upaya yang Bisa Dilakukan

Selanjutnya, Muzal mengungkapkan bahwa virus tersebut dapat ditularkan oral melalui mulut, tangan yang terkontaminasi dan masuk lewat mulut, alat makan, atau lewat makanan dan minuman secara langsung.

Hepatitis misterius juga bisa menular lewat percikan air liur (droplet). Maka, hal yang bisa dilakukan oleh orangtua sejauh ini dapat berkaitan dengan hal-hal tersebut.

"Jadi sampai saat ini yang paling bisa dilakukan, yang paling baik adalah pencegahan untuk penularan lewat oral," ujar Muzal.

Maka, pencegahan lewat oral dapat dilakukan dengan beberapa hal seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan dari makanan dan sanitasi.

Orangtua juga bisa mengajarkan anak agar taat pada protokol kesehatan COVID-19. Mengingat hepatitis misterius juga dapat menular melalui droplet.

"Kedua, kita lanjutkan sesuai seperti protokol COVID-19 ini. Seperti pakai masker, jaga jarak untuk mengurangi risiko. Disamping COVID-19, juga mengurangi risiko penularan lewat droplet itu," Muzal menuturkan.

Dalam hal asupan makanan, Muzal juga menyarankan orangtua untuk menyiapkan sendiri makanan untuk anak. Serta menghindari mengonsumsi makanan yang tidak terjamin kebersihannya.