Sukses

Dugaan Kematian Akibat Hepatitis Akut di Tulungagung, Dinkes Lakukan Investigasi

Liputan6.com, Jakarta - Menanggapi dugaan kematian hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya di Tulungagung, Jawa Timur, investigasi masih dilakukan oleh dinas kesehatan (dinkes) setempat. Investigasi ini dilakukan oleh Dinkes Kabupaten Tulungagung dan Dinkes Provinsi Jawa Timur.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, salah satu proses investigasi berupa pengiriman sampel dikirim ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta. Kemudian investigasi lanjutan tetap dilakukan dinkes setempat.

"Investigasi dilakukan dinkes kabupaten dan provinsi ya. Sampelnya memang dikirim ke RSPI Sulianti Saroso, tapi kontak investigasi dilakukan dinkes setempat," terang Nadia saat dikonfirmasi Health Liputan6.com melalui pesan singkat pada Senin, 9 Mei 2022.

Pemeriksaan sampel dari kasus dugaan kematian hepatitis akut di Tulungagung, lanjut Nadia, membutuhkan waktu 10 sampai 14 hari.

"Pemeriksaan (sampel) sendiri mebutuhkan wkatu 10 sampai 14 hari," katanya.

Sebelumnya, Dinkes Kabupaten Tulungagung membenarkan adanya laporan seorang anak perempuan berusia 7 tahun meninggal dunia diduga terkena hepatitis akut misterius.

Pasien anak yang tidak disebut identitasnya ini sebenarnya sempat mendapat perawatan intensif di RSUD dr. Iskak Tulungagung. Sayangnya, kondisi terus memburuk dan akhirnya meninggal dunia.

"Ya, sudah konfirmasi (hepatitis of uknown)," kata  Kepala Dinkes Kabupaten Tulungagung, Kasil Rokhmat, Minggu (8/5/2022).

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Sempat Diperiksa tapi Tak Kunjung Sembuh

Kasil Rokhmat mengungkapkan, bocah 7 tahun yang meninggal mengalami ciri-ciri klinis identik dengan penyakit hepatitis. Namun, penyebab dan sumber hepatitis belum diketahui. 

Dari hasil pemeriksaan laboratorium, tidak terdeteksi virus Hepatitis A, B, C, D, dan E. Tanda-tanda ini pun sesuai dengan gejala hepatitis akut misterius.

Gejala di atas, menurut Kasil, juga sesuai dengan kriteria Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya.

"Kriteria itu antara lain, ada gejala penyakit kuning, berusia di bawah 10 tahun, dan tidak ada penyebab lain. Gejala yang muncul berupa demam, diare, urine berwarna lebih pekat, dan feses berwarna pucat," jelasnya.

Temuan kasus terhadap bocah 7 tahun ini berawal saat pasien mengalami demam dan muntah-muntah yang sudah berlangsung sekitar 4 hari. Pasien sempat diperiksa ke salah satu rumah sakit swasta, namun tidak kunjung sembuh.

Akhirnya, bocah tersebut dirujuk ke RSUD dr. Iskak Tulungagung. Namun, pada Jumat (6/5/2022) pasien meninggal dunia. Menurut Kasil, dari dugaan sementara hepatitis akut berhubungan dengan Adenovirus.

"Virus ini diyakini ditularkan melalui makanan dan minuman yang tingkat higienitasnya rendah," tutupnya.

3 dari 4 halaman

Kemungkinan Kena Penyakit Kuning

Pada kesempatan berbeda, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Erwin Astha Triyono mengatakan, pihaknya belum menentukan diagnosis kematian pasien tersebut. Ia masih berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan.

"Kami koordinasi dengan Kementerian Kesehatan. Diagnosis yang paling mungkin untuk kasus yang meninggal di Tulungagung itu adalah sindrom jaundice (penyakit kuning) akut, karena masih perlu data-data tambahan pemeriksaan laboratorium yang saat ini masih dikerjakan," jelas Erwin di Surabaya, Minggu (8/5/2022).

Dinkes Jawa Timur pun sedang dalam proses mengirim sampel pasien RSPI Sulianti Saroso.

"Kami kirim laporan ke RSPI Sulianti Saroso untuk back up. Nanti kalau datanya sudah lengkap akan kami sampaikan diagnosisnya seperti apa," sambung Erwin.

Kembali ditegaskan oleh Erwin, kasus pasien meninggal di Tulungagung belum dapat diklasifikasikan dengan pasti. Diagnosis masih menunggu hasil pemeriksaan sampel lanjutan yang dilakukan di Jakarta.

"Sementara istilahnya itu pending classification, jadi belum bisa dimasukkan ke diagnosis tertentu," imbuhnya.

4 dari 4 halaman

Tidak Masuk Data SKDR Dinkes Jawa Timur

Lebih lanjut, kata Erwin, kasus kematian bocah 7 tahun di Tulungagung juga tidak termasuk dalam data 114 kasus sindrom jaundice yang sebelumnya diungkap Dinkes Jawa Timur melalui Sistem Kewaspadaan Diri dan Respons (SKDR).

"Bukan, beda lagi. 114 itu kan periode lewat sistem SKDR periode Minggu 1 Januari 2022 sampai 5 Mei 2022. Dan itu sudah diklarifikasi teman-teman di lapangan, kalau itu tidak terkait dengan hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya," ujarnya.

Erwin pun mengimbau agar masyarakat tak panik dan tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta protokol kesehatan.

"Kuncinya PHBS dan protokol kesehatan. Karena dengan itu hampir semua penyakit bisa dicegah bukan hanya hepatitis," pesannya.

Seperti diketahui, dari informasi yang diperoleh Kemenkes, data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Jawa Timur, minggu I – minggu 17 Tahun 2022 (per 4 Mei 2022) mencatat, telah ditemukan 114 sindrom jaundice (penyakit kuning) akut.

Data SKDR adalah sindrom jaundice (kuning) akut yang dilaporkan dengan usia secara umum (tidak spesifik ≤ 16 tahun) dan masih perlu verifikasi. Laporan ini juga masih harus didiagnosis lebih lanjut, apakah sindrom jaundice akut tersebut merupakan penyakit hepatitis akut atau penyakit lain dengan gejala sama.