Sukses

Heboh Video dr Kevin Samuel, Akademisi Unpad: Dokter Profesional Tidak Mengumbar Konten Begitu

Liputan6.com, Jakarta - Video 'persalinan' berdurasi 15 detik buatan dr Kevin Samuel Marpaung yang diunggah di TikTok pada Jumat, 16 April 2021, berbuah petaka.

Konten dokter berusia 20 tersebut menjadi buah bibir setelah viral di Twitter pada Sabtu, 17 April 2021. Bagaimana tidak? Alih-alih membuat sesuatu yang mengedukasi, video dr Kevin Samuel malah mengarah ke pelecehan seksual.

Banyak pihak akhirnya bersuara. Bahkan, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (Kompaks) berharap Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencabut Surat Izin Praktik (SIP) dr Kevin Samuel.

Tak lama setelah kehebohan itu tercipta, muncul video permintaan manfaat dr Kevin Samuel yang diunggah dokter Tirta di akun Twitter pribadinya. Bukannya memeroleh simpati, warganet justru menilai pria yang pada 2020 mengikuti ajang pencarian bakat terbesar di Indonesia seperti tidak serius.

Pihak lain yang menganggap video persalinan tersebut sebagai bentuk pelecehan seksual adalah Antik Bintari.

Akademisi dari Pusat Riset Gender dan Anak Universitas Padjajaran, Bandung, mengatakan, video dr Kevin Samuel tersebut bisa dianggap bentuk pelecehan seksual, bahkan pelecehan terhadap fungsi-fungsi reproduksi perempuan.

Antik pun menilai bahwa konten yang dibuat dr Kevin Samuel bisa merusak kepercayaan serta menimbulkan kekhawatiran dan stereotipe terhadap dokter laki-laki, seperti dikutip dari Regional Liputan6.com pada Senin, 19 April 2021.

 

2 dari 3 halaman

Imbas Video dr Kevin Samuel

Antik menyatakan bahwa konten dr Kevin Samuel menampilkan sebuah sikap seksual yang merendahkan. Kevin secara tak langsung telah melecehkan dan menyepelekan aktivitas perempuan yang padahal konteksnya adalah pertaruhan hidup dan mati.

Konten-konten semacam itu, lanjut Antik, banyak bertebaran. Namun, konten ini dinilai fatalnya lantaran menampilkan analogi dokter dengan isu yang sangat sensitif, yaitu melahirkan.

"Kita tidak bisa memilih apakah akan ditangani oleh dokter laki-laki atau perempuan. Akhirnya, hanya berdasarkan kepada azas kepercayaan. Jangan lupa, ini berkaitan dengan dunia medis yang tingkat kebergantungan kepada dokter itu tinggi," katanya.

 

3 dari 3 halaman

Dokter Tidak Seharusnya seperti Itu

Lebih lanjut Antik mengatakan bahwa pelecehan atau sikap merendahkan alat-alat reproduksi dan organ-organ vital perempuan, dipandang dalam perspektif apapun merupakan hal yang tidak etis.

Profesi dokter memiliki kode etik, maka Antik yakin bahwa tak hanya aktivis perempuan yang pantas bersuara, tetapi juga sejawat dokter lainnya.

Antik, mengatakan, seorang dokter profesional tidak mungkin mengumbar konten demikian.

"Saya langsung menghubungi beberapa rekan saya yang dokter, yang mengajar juga di fakultas tempat dia berkuliah waktu dulu, dan mereka juga langsung kaget. Kemudian setelah diselidiki, akan ada tindak lanjut entah itu teguran atau sanksi," ujarnya.