Sukses

POGI: Ibu Hamil Tidak Direkomendasikan Divaksin COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Persatuan Dokter Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) belum memberikan rekomendasi kepada ibu hamil untuk menerima vaksin COVID-19.

"Vaksinasi untuk ibu hamil sampai dengan sekarang belum direkomendasikan karena penelitian yang ada belum melibatkan ibu hamil," kata Ketua Pengurus Pusat POGI dr Ari Kusuma Januarto, SpOG(K)-Obginsos.

Hingga saat ini data megenai pengaruh imunogenitas kehamilan dan ibu menyusui terhadap vaksin COVID-19 masih terbatas. Namun, secara teoritis, kehamilan tidak mengubah efikasi suatu vaksin. "Meski demikian hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut," kata Ari dalam keterangan pers ditulis Minggu (7/3/2021).

Lalu, ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data, dapat terjadi transfer IgG dari ibu ke fetus atau janin. Sehingga bisa memberikan imunitas pasif pada neonatus.

Memang, hingga saat ini belum ada data ilmiah mengenai efektivitas maupun risiko bahaya dari pemberian vaksin COVID-19. Hal ini karena ibu hamil dan menyusui tidak masuk dalam penelitian fase 1,2, dan 3. Sehingga belum ada data khusus tentang efektivitas vaksin maupun keamanan ke ibu hamil dan ibu menyusui.

CoronaVac, yakni vaksin COVID-19 yang diproduksi Sinovac adalah vaksin inactivated, basis RNA virus; subunit protein; atau vektor virus, tidak dapat bereplikasi dibandingkan vaksin lain dengan jenis yang sama seperti vaksin tetanus, difteri, influenza. Jadi, secara umum vaksin jenis ini aman, dapat memberikan proteksi pasif untuk neonatus, dan tidak berhubungan dengan keguguran dan/atau kelainan kongenital.

Namun, studi keamanan vaksin di Indonesia dan Turki tidak melibatkan ibu hamil sehingga belum ada data mengenai efek teratogenik vaksin COVID-19 CoronaVac.

"POGI mendorong untuk dapat terlaksananya penelitian berbasis pelayanan yang melibatkan ibu hamil dan menyusui pada fase 3 terutama dari kalangan tenaga Kesehatan sebagaimana yang telah direkomendasikan oleh organisasi Kesehatan di dunia (FIGO dan WHO). Apalagi ibu hamil dan menyusui termasuk dalam kategori populasi yang rentan tertular virus ini," kata Ari.

Sementara itu, soal vaksinasi COVID-19 pada ibu menyusui sejumlah badan dunia, organisasi profesi, lembaga kesehatan nasional maupun internasional terkait tentang vaksin COVID-19 yang memiliki reputasi terpercaya telah mengeluarkan rekomendasi bisa diberikan ke ibu menyusui. Beberapa diantaranya adalah Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE) dari World Health Organization (WHO) lalu Updated Advice on COVID-19 Vaccination in Pregnancy and Women Who are Breastfeeding dari Royal College of Obstetricians & Gynaecologists (RCOG).

Berdasarkan hal tersebut, POGI pun merekomendasikan bahwa vaksinasi untuk ibu hamil sampai sekarang belum direkomendasikan karena penelitian yang ada belum melibatkan ibu hamil. Sedangkan ibu menyusui diperbolehkan divaksinasi sepanjang tidak ada kontraindikasi.

 

2 dari 3 halaman

Rekomendasi POGI Soal Vaksinasi COVID-19

Berdasarkan hal-hal di atas, berikut rekomendasi POGI terkait vaksinasi COVID-19:

- Tenaga kesehatan garis terdepan menjadi prioritas menerima vaksinasi COVID-19

- Vaksinasi untuk ibu hamil sampai dengan sekarang belum direkomendasikan karena penelitian yang ada belum melibatkan ibu hamil. Sedangkan ibu menyusui diperbolehkan divaksinasi sepanjang tidak ada kontraindikasi.

- Ibu hamil dan menyusui termasuk populasi rentan yang harus dilindungi dengan cara patuhi protokol 3M serta suami atau anggota keluarga dewasa di rumah segera divaksinasi.

- Bagi perempuan yang berencana untuk mengikuti program kehamilan, disarankan untuk menunda dulu kehamilannya sampai mendapatkan vaksinasi COVID-19. Penundaan program kehamilan dapat dilakukan paling lama 1 bulan (4 minggu) setelah mendapatkan vaksinasi terakhir COVID-19, untuk menghindari KIPI (Kejadian ikutan Pasca Imunisasi).

- Untuk perempuan yang tengah melaksanakan vaksinasi lain, dan diharapkan dapat tercapai titer yang tinggi dalam waktu singkat, maka dianjurkan untuk menyelesaikan vaksinasinya terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan vaksinasi COVID-19. Pemberian vaksin lain, selanjutnya yang bersifat booster dapat ditunda setelah pemberian vaksinasi COVID-19 selesai.

Meski demikian, dr Ari menegaskan bahwa tidak menutup kemungkinan terdapat perubahan pada rekomendasi ini di kemudian hari, karena perkembangan yang dinamis dari COVID-19 dan ditemukan bukti-bukti ilmiah yang terbaru.

Hal ini sejalan dengan International Federation of Obstetrics and Gynecology (FIGO) yang telah memberikan penegasan secara kuat untuk mengikutsertakan ibu hamil dan menyusui pada fase 3 penelitian vaksin COVID-19 untuk seluruh produsen vaksin COVID-19.

3 dari 3 halaman

Infografis