Sukses

OPINI: Tuberkulosis & COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Kasus COVID-19 masih terus meningkat di dunia, dan juga di negara kita. Penambahan kasus per hari di Indonesia bahkan sudah ada yang lebih dari 14 ribu orang, dan angka kepositifan (positivity rate) yang tadinya sekitar 20 persen, artinya sekitar satu dari lima orang yang diperiksa ternyata positif COVID-19, bahkan pernah lebih dari 30 persen.  

Kendati dunia dan Indonesia berkonsentrasi penuh menngani pandemi COVID-19 tapi kita harus ingat bahwa penyakit infeksi lain juga masih terus ada dan masih jadi masalah kesehatan penting pula. Salah satu diantarnya adalah tuberkulosis, yang seperti juga COVID-19 akan masuk dan menyerang tubuh manusia melalui paru dan saluran napas. Untuk kita, ini jadi amat penting karena Indonesia tercatat sebagai penyumbang kasus tuberkulosis terbanyak kedua di dunia, berdasar “Global Tuberculosis Report” 2020.

Eliminasi tuberkulosis di dunia tentu terganggu dengan adanya COVID-19, setidaknya terjadi hambatan dari kemajuan yang sedang berjalan sampai 2019. Berbagai pihak mulai membicarakan apakah target  Sustainable Development Goals (SDG) tahun 2030 akan dapat tercapai.

Kita tahu bahwa di tahun 2030 targetnya adalah menurunkan insidens 80 persen dan kematian 90 persen dibandingkan data 2015. Data dunia sampai 2020 yang lalu menunjukkan bahwa insiden turun sebanyak 9 persen (target 20 persen) dan kematian turun 14 persen (target 25 persen). Tiga negara dengan jumlah kasus TB terbanyak di dunia adalah India, Indonesia dan Tiongkok. Analisa menunjukkan bahwa upaya yang perlu ditingkatkan adalah deteksi dengan test, pengobatan, pencegahan dan penguatan riset yang menunjang program.

Data dunia sampai pertengahan 2020 menunjukkan penurunan yang nyata berbagai aktivitas seperti skrining tuberkulosis dan notifikasi kasus baru karena tenaga dan alat serta sumber daya lain banyak berkonsentrasi ke penanganan COVID-19. Di sisi lain juga ada gangguan dalam sistem pengumpulan dan pelaporan data.

Sebagian dari hal serupa mungkin saja juga terjadi di negara kita. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahka kalau notifikasi global turun sebanyak 25–50 persen dalam 3 bulan akibat COVID-19 maka mungkin akan ada tambahan peningkatan 400.000 kematian di tahun 2020. Tambahan peningkatan ini sama jumlahnya dengan semua kematian tuberkulosis di tahun 2012.

 

2 dari 4 halaman

Kasus Tuberkulosis Perlu Mendapat Perhatian di Masa Pandemi COVID-19

Sebuar artikel di jurnal kedokteran internasional The Lancet Global Health melaporkan empat pemodelan manajemen strategik pandemi COVID-19 dengan asumsi Reproductive Number (R0) 3·0 dan bagaimana dampaknya pada kasus baru dan kematian akibat tuberkulosis. Skenario terburuknya adalah akan ada 20 persen peningkatan kematian akibat tuberkulosis di dunia pada tahun 2025.

Tentu saja harapan kita bahwa skenario terburuk ini tidak akan terjadi, setidaknya karena R0 nampaknya tidak sampai 3.0. Tetapi hal ini tentu perlu dapat perhatian untuk diantisipasi dan dilakukan penyesuaian dan penguatan program pengendalian tuberkulosis di dunia, dan utamanya di negara kita.

Pada Juli 2020, Presiden Joko Widodo sudah menyampaikan arahan meminta jajarannya melakukan pelacakan agresif kepada pasien penderita TBC di tanah air. Presiden menilai, pelacakan penderita TBC dapat berjalan beriringan dengan pasien virus Corona Covid-19.

Presiden mengatakan, "Saya kira seperti yang kita lakukan sekarang ini, kita sudah memiliki model untuk Covid yaitu, pelacakan secara agresif untuk menemukan dimana mereka harus dilakukan,".

Arahan dan komitmen Presiden ini tentu merupakan modalitas amat penting dalam pengendalian tuberkulosis di Indonesia pada era pandemi COVID-19 sekarang ini.

Kita harus ingat bahwa tuberkulosis sudah jadi masalah kesehatan penting jauh sebelum COVID-19 melanda, dan tentu kita tidak mengharapkan bahwa situasi tuberkulosis akan memburuk pada dan sesudah pandemi COVID-19 sekarang ini. Untuk itu, perhatian penuh perlu dilakukan sejak sekarang, sejalan dengan upaya maksimal kita semua menangani COVID-19.

 

** Penulis adalah Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas YARSI/Mantan Direktur WHO Asia Tenggara dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

3 dari 4 halaman

Infografis

4 dari 4 halaman

Simak juga Video Menarik Berikut Ini