Liputan6.com, Reykjavik: Usia ayah berhubungan dengan kemungkinan penyakit yang diderita sang anak. Sebuah studi mengungkapkan bahwa ayah yang sudah tua mewariskan sebagian besar gen yang rusak terkait dengan kondisi seperti autisme dan skizofrenia.
Â
Penelitian yang dilakukan deCode Genetics Inc di Reykjavik, Islandia, itu merupakan yang pertama kalinya yang menganalisis kode genetik dalam upaya mencari tahu alasannya.
Para ilmuwan menemukan, sebanyak 97 persen dari mutasi genetik disebabkan usia ayah. Sedangkan usia ibu tidak berpengaruh sama sekali, Kamis (23/8).
Anak dari seorang ayah yang berusia 40 tahun dua setengah kali berpotensi mengalami mutasi yang merusak dibandingkan yang ayah yang berusia 20 tahun.
Â
Mereka menemukan, pada dasarnya ayah yang lebih tua meneruskan lebih banyak variasi DNA baru (seperti mutasi) dibandingkan ayah yang masih muda. Ini kemungkinan yang bertanggung jawab atas perbedaan dalam tingkat penyakit.
Â
Mereka menemukan, seorang ayah yang setiap tahun menunggu memiliki seorang anak akan melewati dua tambahan mutasi. Seorang ayah berusia 20 tahun rata-rata 25 mutasi yang ditransmisikan kepada anaknya, sementara ayah yang 40-tahun, yang tertua dalam studi itu sekitar 65 yang ditransmisikan.
Â
Alexey Kondrashov, penulis studi dan profesor biologi evolusi di University of Michigan di Ann Arbor, mengatakan bahwa temuan mereka bisa sangat mencerahkan dalam kasus autisme.
Â
"Sungguh beralasan untuk mengasumsikan bahwa kenaikan dalam prevalensi autisme pada manusia bisa saja terjadi, setidaknya sebagian, dengan akumulasi mutasi yang dihasilkan dari usia ayah yang rata-rata lebih tua," jelasnya.
Â
Dia juga mengatakan bahwa jika temuan studi mereka benar, ini bisa menjadi alasan yang baik bagi laki-laki muda untuk menyimpan sperma mereka di bank sperma untuk kemudian digunakan. Ini telah lama menjadi rekomendasi bagi perempuan yang memilih untuk memiliki anak di kemudian hari.
Â
Ini mungkin tampak seperti tindakan pencegahan paranoid, tapi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sperma mungkin lebih bertanggung jawab terhadap risiko penyakit dari telur. Sedangkan mutasi bisa disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti paparan radiasi. Namun para peneliti masih menunggu untuk menyelidiki faktor genetik lain untuk benar-benar mengkonfirmasi hubungan langsung antara usia ayah dan risiko autisme. (dailymail/blisstree/MEL)
Â
Penelitian yang dilakukan deCode Genetics Inc di Reykjavik, Islandia, itu merupakan yang pertama kalinya yang menganalisis kode genetik dalam upaya mencari tahu alasannya.
Para ilmuwan menemukan, sebanyak 97 persen dari mutasi genetik disebabkan usia ayah. Sedangkan usia ibu tidak berpengaruh sama sekali, Kamis (23/8).
Anak dari seorang ayah yang berusia 40 tahun dua setengah kali berpotensi mengalami mutasi yang merusak dibandingkan yang ayah yang berusia 20 tahun.
Â
Mereka menemukan, pada dasarnya ayah yang lebih tua meneruskan lebih banyak variasi DNA baru (seperti mutasi) dibandingkan ayah yang masih muda. Ini kemungkinan yang bertanggung jawab atas perbedaan dalam tingkat penyakit.
Â
Mereka menemukan, seorang ayah yang setiap tahun menunggu memiliki seorang anak akan melewati dua tambahan mutasi. Seorang ayah berusia 20 tahun rata-rata 25 mutasi yang ditransmisikan kepada anaknya, sementara ayah yang 40-tahun, yang tertua dalam studi itu sekitar 65 yang ditransmisikan.
Â
Alexey Kondrashov, penulis studi dan profesor biologi evolusi di University of Michigan di Ann Arbor, mengatakan bahwa temuan mereka bisa sangat mencerahkan dalam kasus autisme.
Â
"Sungguh beralasan untuk mengasumsikan bahwa kenaikan dalam prevalensi autisme pada manusia bisa saja terjadi, setidaknya sebagian, dengan akumulasi mutasi yang dihasilkan dari usia ayah yang rata-rata lebih tua," jelasnya.
Â
Dia juga mengatakan bahwa jika temuan studi mereka benar, ini bisa menjadi alasan yang baik bagi laki-laki muda untuk menyimpan sperma mereka di bank sperma untuk kemudian digunakan. Ini telah lama menjadi rekomendasi bagi perempuan yang memilih untuk memiliki anak di kemudian hari.
Â
Ini mungkin tampak seperti tindakan pencegahan paranoid, tapi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sperma mungkin lebih bertanggung jawab terhadap risiko penyakit dari telur. Sedangkan mutasi bisa disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti paparan radiasi. Namun para peneliti masih menunggu untuk menyelidiki faktor genetik lain untuk benar-benar mengkonfirmasi hubungan langsung antara usia ayah dan risiko autisme. (dailymail/blisstree/MEL)
liputan6
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/117674/original/120823sperma-ortu.jpg)