Asap Kebakaran TNWK makin Tebal, Ranting Gosong Serbu Permukiman

Asap kebakaran menyelimuti permukiman selama hampir dua bulan, bahkan mulai menghalangi jarak pandang warga.

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 22:49 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Lampung mulai mengganggu aktivitas warga di sekitar perbatasan kawasan hutan. Asap kebakaran menyelimuti permukiman selama hampir dua bulan, bahkan mulai menghalangi jarak pandang warga.

Salah seorang warga Kampung Caba, Kecamatan Bandar Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, Edi Alamsyah mengatakan, asap kebakaran semakin terasa dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dikhawatirkan memburuk seiring dengan meningkatnya ketebalan asap.

"Kalau warga sebetulnya belum ada dampak yang serius. Tapi kalau asapnya, itu sudah lumayan menutupi pandangan," kata Edi, Jumat (23/10/2026).

Menurut dia, asap kebakaran telah dirasakan warga selama hampir dua bulan. Sementara itu, ranting dan dedaunan yang hangus terbakar terbawa angin hingga masuk ke pekarangan rumah warga sekitar setengah bulan terakhir.

Kondisi tersebut menambah kekhawatiran masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Terlebih, asap disebut semakin tebal pada siang hari dan dapat bertahan hingga malam.

"Yang terjadi dari siang tadi sudah mulai terasa sampai malam. Asapnya semakin tebal," ujarnya.

Meski demikian, Edi menyebut warga sejauh ini belum merasakan gangguan kesehatan yang berarti akibat paparan asap. Aktivitas masyarakat masih berjalan seperti biasa, tetapi warga mengkhawatirkan dampak yang mungkin muncul jika kondisi tersebut terus berlangsung.

"Belum ada dampak yang dirasakan masyarakat, masih seperti biasa. Tapi entah kalau selanjutnya, karena semakin lama asapnya semakin tebal," katanya.

 

Edi menjelaskan, Kampung Caba merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan TNWK. Jarak rumah warga yang berada di ujung kampung dengan kawasan hutan diperkirakan hanya sekitar 100 meter.

Kedekatan permukiman dengan kawasan hutan membuat warga berpotensi terus terpapar asap ketika kebakaran berlangsung, terutama saat asap terbawa angin menuju tempat tinggal mereka.

Di tengah kondisi tersebut, Edi mengaku belum melihat adanya peninjauan langsung dari pemerintah setempat ke wilayahnya untuk merespons keluhan warga mengenai asap karhutla.

Menurut dia, keberadaan permukiman yang tidak terlalu jauh dari pusat kecamatan membuat kondisi tersebut semestinya dapat diketahui oleh pemerintah setempat.

"Belum ada peninjauan. Sebetulnya mereka tahu, karena camat di sini tidak seberapa jauh dari tempat kita," ungkapnya.

Edi berharap kondisi yang dialami masyarakat di sekitar kawasan hutan mendapat perhatian.

"Apalagi, asapnya ini makin tebal dan material sisa kebakaran yang terbawa angin mulai dirasakan warga dalam beberapa minggu terakhir. Kami khawatir kalau kebakaran terus terjadi, asapnya semakin tebal di pemukiman warga," tandasnya.