Sukses

Uji Coba Vaksin COVID-19 di Afrika Selatan Diprotes Sekelompok Masyarakat

Liputan6.com, Jakarta Penolakan terjadi terkait dilakukannya uji coba vaksin COVID-19 buatan University of Oxford, Inggris di Afrika Selatan.

Rabu kemarin waktu setempat, sekelompok demonstran berkumpul di University of Witwatersrand, di mana para peneliti di sana juga terlibat dalam uji coba vaksin COVID-19 yang pertama di Afrika ini.

Mereka juga mencontohkan ketakutan yang muncul pada beberapa orang di Afrika atas pengujian narkoba pada mereka yang tidak mengerti akan risikonya.

"Orang-orang yang dipilih sebagai sukarelawan untuk vaksinasi, mereka tampak seolah-olah dari latar belakang yang buruk, yang tidak cukup memenuhi syarat untuk mengerti," kata penyelenggara protes Phapano Phasha kepada Associated Press News, dikutip Kamis (2/7/2020).

"Kami percaya mereka memanipulasi yang rentan," kata Phasha.

2 dari 4 halaman

Menentang Pencatutan

Phasha juga mengutip pernyataan seorang peneliti Prancis, Jean-Paul Mira yang merekomendasikan penelitian terkait vaksin di Afrika. Dia juga membandingkannya dengan beberapa studi terkait AIDS.

"Narasi yang kami dapatkan adalah benua kami merupakan tempat pembuangan sampah," kata Phasha. Dia menambahkan, seharusnya vaksin dipastikan berhasil di tempat lain sebelum dibawa ke Afrika.

Phasha juga mempertanyakan mengapa percobaan tersebut tidak dilakukan pada warga Afrika Selatan yang lebih makmur.

"Saya percaya bahwa sains telah berhasil memecahkan sebagian besar masalah yang dihadapi masyarakat. Saya tidak menentang vaksinasi, saya menentang pencatutan," ujarnya.

3 dari 4 halaman

Bukan Kelinci Percobaan

Beberapa demonstran dalam kelompok kecil itu bernyanyi dan menari dengan spanduk bertuliskan: "Kami bukan kelinci percobaan" dan "Tidak ada vaksin yang aman." Ada juga yang menulis "Mengapa tidak mencoba vaksin Bill Gates ke kulit putih?"

"Jika Anda ingin menguji, lakukan tes di daerah yang mereka sebut sebagai episentrum," kata seorang demonstran bernama Sean Goss. Selain itu, ada juga yang membakar masker mereka.

Pimpinan studi vaksin COVID-19 di Afrika Selatan Shabir Madhi, mengatakan bahwa para peserta telah diberikan penjelasan tentang uji coba dan risiko yang mungkin saja terjadi.

Sementara itu, CEO GAVI vaccine alliance Seth Berkley mengatakan bahwa sentimen anti-vaksin di Afrika adalah yang terburuk yang pernah ia lihat.

"Secara umum, orang-orang di Afrika tahu tentang berbagai penyakit dan ingin saling melindungi," kata Berkley dalam konferensi vaksin African Union pada pekan lalu. Namun ia mengatakan, pada kasus ini, banyak rumor yang beredar secara dramatis.

Sebelumnya, pada 23 Juni lalu, vaksin COVID-19 yang disebut ChAdOx1 nCoV-19 mulai diuji di Afrika Selatan. Belum diketahui kapan para peneliti akan mempublikasikan hasil uji klinis tersebut.

4 dari 4 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini