Sukses

Terkena Komplikasi Flu, Bocah 11 Tahun Meninggal

Liputan6.com, Jakarta Tidak ada yang menyangka bahwa Luca Calanni harus meninggal dunia akibat komplikasi flu. Bocah 11 tahun itu tiada usai mengalami henti jantung.

Anak asal Hamburg, New York, Amerika Serikat itu meninggal karena komplikasi satu bulan usai ulang tahunnya yang ke 11 pada Sabtu pekan lalu. Keluarganya mengatakan bahwa Luca adalah anak yang sehat sebelum meninggal.

"Dia divaksinasi dan kami melakukan segala hal yang mungkin untuk mencegah dan membantunya," kata sang ibu, Ashley seperti dikutip dari Health pada Sabtu (18/1/2020).

"Saya ingin dia diingat sebagai anak yang luar biasa dan bukan kematian terkait flu lainnya," kata Ashley.

Meninggalnya Luka dimulai dari sakit flu yang menyerangnya pada awal pekan lalu. Dia dibawa ke dokter selama tiga hari berturut-turut.

2 dari 3 halaman

Mengalami Henti Jantung

Dikutip dari Fox 35 Orlando, kondisi Luca tidak membaik. Satu-satunya lelaki dari empat bersaudara ini dibawa ke rumah sakit lain. Di Oishei Children Hospital, Luca diberikan cairan karena didiagnosis syok septik. Saat itu, kondisinya sempat terlihat lebih baik.

Sang ibu mengatakan bahwa keadaan Luca memburuk. Hingga akhirnya, dia meninggal karena henti jantung.

"Staf yang luar biasa melakukan apa pun untuk menolongnya. Kami tidak mampu mengucapkan terima kasih dengan cukup," kata keluarga Calanni kepada para dokter dan perawat di rumah sakit itu.

Dikutip dari The Buffalo News, apa yang dialami Luca, yang sudah mendapatkan vaksin namun tetap meninggal, terbilang jarang terjadi.

"Ketika masuk ke sistem Anda, kadang-kadang untuk beberapa orang, itu bisa sangat besar dan benar-benar melumpuhkan respon kekebalan seseorang sehingga mereka tidak bisa melawan infeksi lain," kata Erie County Health Commissioner Dr. Gale Burstein.

3 dari 3 halaman

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

Loading
Artikel Selanjutnya
21-2-1972: Richard Nixon Akhiri 20 Tahun Hubungan Dingin AS dan China
Artikel Selanjutnya
Flu Lebih Mengancam Warga AS Dibanding Virus Corona