Sukses

Ilmuwan Temukan Parasit Malaria Kebal Obat di Asia Tenggara

Liputan6.com, Jakarta Asia Tenggara dan dunia terancam kehadiran parasit malaria yang lebih kebal obat. Temuan ini diungkap dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases yang diterbitkan baru-baru ini.

Para peneliti gabungan dari Wellcome Sanger Institute, Oxford University, dan Mahidol University di Bangkok menemukan bahwa satu jenis malaria yang lebih kebal obat mulai menggantikan parasit lokal di Vietnam, Laos, dan timur laut Thailand.

Hal ini terungkap setelah penelitian genom dari parasit Plasmodium yang ada di Asia Tenggara. Mengutip EurekAlert pada Sabtu (27/7/2019), terungkapnya jenis parasit ini mengancam upaya eliminasi malaria di wilayah Asia Tenggara.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan mengambil dan menguji DNA dari 1.673 parasit Plasmodium falciparum yang diambil dari pasien malaria sejak 2008 hingga 2018.

2 dari 4 halaman

Dikhawatirkan Menyebar ke Afrika

Para peneliti menemukan bahwa jenis strain parasit yang dinamakan KEL1/PLA1 lebih kebal obat karena kombinasi mutasi genetik. Dilaporkan, mereka telah menyebar ke seluruh Kamboja tanpa diketahui sejak 2007 hingga 2015.

Olivo Miotto, salah satu pemimpin penelitian mengatakan bahwa ini adalah potensi yang menakutkan. Mereka khawatir bahwa parasit ini akan menyebar ke Afrika, tempat di mana sebagian besar kasus malaria terjadi.

"Strain parasit resisten yang sangat berhasil ini mampu menginvasi wilayah baru dan memperoleh sifat genetik baru," kata Miotto seperti dikutip dari Aljazeera.

3 dari 4 halaman

Dibutuhkan Tindakan Pencegahan dengan Cepat

Miotto menambahkan, dibutuhkan tindakan mendesak untuk mengeliminasi parasit ini untuk mencegah mereka menyebar dan berevolusi lebih lanjut.

Dr. Michael Chew, Infection and Immunobiology Portfolio Manager dari Wellcome Sanger Institute mengatakan bahwa studi ini menunjukkan cepatnya potensi persebaran malaria kebal obat di Asia Tenggara.

Mereka dinilai bisa mempengaruhi jutaan orang di dunia, khususnya pada masyarakat yang tidak memiliki akses ke pengobatan yang efektif.

"Ini berfungsi sebagai pengingat bahwa kita tidak boleh berpuas diri dengan respon terhadap malaria. Ini juga menunjukkan kita memiliki alat untuk secara efektif melacak resistensi obat lintas batas, yang dapat digunakan untuk menginformasikan upaya eliminasi dan kontrol terkoordinasi," kata Chew.

4 dari 4 halaman

Simak juga Video Menarik Berikut Ini