Sukses

Selain Produksi dan Akses Pangan, Pakar Minta Masalah Gizi Dibahas di Debat Capres

Liputan6.com, Jakarta Kedua calon presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tampaknya memperlihatkan kepedulian dalam mengatasi masalah gizi di Indonesia. Karena itu, keduanya diharapkan bisa mengangkat isu tersebut pada debat capres kedua yang akan diadakan pada Minggu malam.

Hal tersebut karena masalah gizi sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari isu yang akan dibahas nanti, yaitu pangan. Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Doddy Izwardy mengatakan, sesungguhnya bahan pangan akan selalu tersedia. Namun, sebenarnya masalah terkait gizi ada di dalamnya.

"Saya melihat bahwa soal pangan kita selalu bicara produksi dan akses. Orang tidak pernah bicara soal pemanfaatan pangan itu," kata Doddy ketika ditemui Health Liputan6.com beberapa waktu lalu di Tangerang Selatan, Banten. Ditulis pada Minggu (17/2/2019).

"Lihat deh, ada kemandirian pangan, ada kedaulatan pangan, tapi tidak pernah bicara ketahanan gizinya," tambah salah satu pembina Persatuan Ahli Gizi tersebut.

Doddy mengatakan, dalam Undang-Undang tentang Pangan Nomor 18 tahun 2012, sesungguhnya telah diamanatkan berdirinya Badan Ketahanan Pangan dan Gizi. Namun, dia melihat saat ini hanya ada Badan Ketahanan Pangan.

"Gizinya ini yang orang tidak pernah bahas," imbuhnya. Selain itu, Doddy melihat bahwa selama ini Indonesia masih 'memisahkan' antara masalah pangan dengan gizi. Padahal, keduanya penting. Apalagi melihat angka stunting di Indonesia masih terbilang tinggi.

Doddy melihat, selama ini kebijakan hanya sekadar regulasi saja. Namun, belum ada konsep utuh terkait implementasi di lapangan.

"Kalau Kementerian Pertanian mungkin akan bilang, sayur ada, buah ada. Bagaimana pemanfaatannya? Pasti bilangnya, itu urusan (Kementerian) Kesehatan. Karena apa? Tidak dibangun dari atas," tambah Doddy.

Doddy mengusulkan agar dalam debat capres nanti, kedua kandidat bisa merujuk dari Peraturan Presiden Nomor 83 tahun 2017 tentang Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi. Hal yang harus dilihat adalah soal ketahanan baik pangan maupun gizi.

 

2 dari 4 halaman

Apresiasi ahli gizi

Beberapa waktu sebelumnya, Ketua Feligium Ilmu Gizi Persatuan Ahli Gizi Indonesia Arum Atmawikarta menyatakan bahwa dirinya mengapresiasi bahwa kedua capres menyoroti isu terkait perbaikan gizi.

"Walaupun belum disampaikan dalam debat, perhatian terhadap masalah gizi itu tinggi," kata Arum pada Januari lalu.

"Siapapun yang menang, tapi kita bersyukur keduanya bahwa keduanya sudah berkomitmen pada perbaikan gizi. Stunting disebut oleh keduanya," kata Arum menambahkan.

Menurut Doddy, apabila dari pemerintah pusat mengatasi dengan baik masalah pangan dan gizi, maka implementasi di lapangan terkait dengan kesehatan juga bisa teratasi. Khususnya, soal stunting dan gizi buruk. Bahkan, ini juga dianggap mampu mengurangi berbagai penyakit.

Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 menyebutkan bahwa angka stunting di Indonesia sebesar 30,8 persen. Ini menunjukkan bahwa stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena masih berada di ambang batas 20 persen.

 

3 dari 4 halaman

Dua capres bicara gizi

Dua calon presiden, baik nomor urut 1 Joko Widodo dan 2 Prabowo Subianto, seringkali memang menyampaikan isu terkait stunting dalam kegiatannya. Baru-baru ini, Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia akan sulit mengejar negara lain jika stunting masih ada.

"Jangan sampai negara lain sudah berbicara virtual realty, internet of things, big data tapi kita berbicara stunting saja belum selesai, urusan angka kematian ibu belum rampung. Bagaimana negara ini akan bersaing, berkompetensi. Seperti ini yang harus kita selesaikan terlebih dahulu," kata Jokowi dalam pembukaan Rapat Kerja Kesehatan Nasional 2019 lalu.

Mengutip Merdeka.com, pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno juga memasukkan masalah kualitas gizi dan stunting dalam salah satu dari 31 Program aksi-nya untuk menyejahterakan rakyat.

"Memperbaiki kualitas gizi, air bersih, dan sanitasi masyarakat dalam mengatasi ancaman stunting (gizi buruk) dengan mendorong gerakan nasional 'Sedekah Putih', serta menghidupkan kembali semangat gotong royong dan solidaritas sosial di tengah masyarakat," bunyi program tersebut.

Debat capres kedua nanti hanya akan diikuti oleh calon presiden yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Acara tersebut akan diadakan di Hotel Sultan, Jakarta Selatan pada Minggu, 17 Februari 2019 mendatang. Dalam debat tersebut, keduanya akan saling beradu gagasan mengenai energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup.

4 dari 4 halaman

Saksikan juga video menarik berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Nobar Debat Capres di Senayan, Timses Jokowi Suguhkan Pagelaran Seni Budaya
Artikel Selanjutnya
Misi Prabowo: Legalkan Ojek Jadi Angkutan Umum hingga Hapus Outsourcing