Sukses

Anak Kerap Mendramatisasi Keadaan? Ini Saran Psikolog

Liputan6.com, Jakarta Ketika tidak dibelikan mainan kesukaan, beberapa anak kerap jadi ‘drama'. Misalnya dengan mengungkapkan ‘Ibu enggak sayang sama aku lagi, aku sebel sama Ibu’. Pernah mendapati pengalaman seperti itu? Jika iya, Anda perlu mengetahui makna ucapan yang sesungguhnya. 

Tak hanya kala kesal, anak juga bisa mendramatisasi keadaan ketika tidak sesuai dengan keinginannya. Ada baiknya mencari tahu maksud hati dari sang buah hati. Belum tentu apa yang dia ucapkan itu maksud yang sesungguhnya. Selengkapnya seperti dilansir Parents.

- " Aku gak punya apa-apa untuk dimainkan"

Hal ini sering dilontarkan anak padahal mainannya menumpuk di kotak penyimpanan. Apa penyebabnya? Menurut Michael Bradley, EdD, seorang psikolog klinis, hal itu karena anak terbiasa permainan terstruktur.

"Mereka jarang bermain dengam barang seadanya dan sendirian. Anak juga terlalu sering bermain dengan gadget dan menonton televisi," ungkap Bradley.

Berikan barang-barang di rumah yang bukan mainan. Biarkan si kecil bermain sendirian sesuka hati. Tak perlu menunjukkan bagaimana menyusun atau memainkannya.

 

2 dari 2 halaman

- " Aku gak bisa melakukannya, susah banget"

Sebagian besar anak-anak akan sangat khawatir saat mencoba aktivitas baru. Pernyataan tersebut dilontarkan biasanya karena mereka takut mengalami kegagalan.

"Ungkapkan pada anak kalau ingin menjadi juara harus mencoba segalanya, berikan cerita lucu untuk memotivasinya. Hal terpenting adalah membuatnya menaklukan rasa takut lebih dulu," kata Bradley.

- " Aku sebal sama mama/papa"

Biasanya pernyataan ini keluar saat hukuman atau konsekuensi terjadi. Jangan terpancing emosi, karena malah bakal memperburuk keadaan. Biarkan anak mengeluarkan emosinya.

Tinggalkan sementara agar tak terpancing. Jika suasana susah tenang baru jelaskan dan beri ia pelukan. Jelaskan kepada si Kecil alasan Anda memberi ia hukuman. 

 

Penulis: Mutia/Dream.co.id

 

Saksikan juga video menarik berikut

Loading
Artikel Selanjutnya
Gawai Jadi Pemicu Gangguan Jiwa Anak
Artikel Selanjutnya
Bentuk Karakter Anak lewat Tokoh Animasi Edukatif