Sukses

Menkes, Ketahanan dari Keluarga Bantu Remaja Berhenti Merokok

Liputan6.com, Jakarta Meningkatnya prevalensi merokok pada remaja berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 menjadi perhatian Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Riskesdas 2018 mencatat bahwa jumlah remaja yang merokok naik menjadi 9,1 persen dari 7,2 persen (Riskesdas 2013). Selama lima tahun, mengalami kenaikan sebesar 1,9 persen.

"Saya khawatir kalau anak-anak sudah merokok, akan menjadi addict (ketagihan) sampai dia dewasa dan tua, dan tentu penyakitnya akan mengikuti dalam hal ini," kata Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila F Moeloek di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali pada Selasa, 6 November 2018.

Kementerian Kesehatan, kata Nila, terus berupaya agar ke depan jumlah perokok remaja secara perlahan berkurang. Upaya yang dilakukan Kemenkes, dengan memperbanyak kawasan tanpa merokok.

"Kita juga terus mengingatkan di sekolah untuk melarang, dan meminta guru-guru tidak memberi contoh pada anak-anak," ujarnya.

Agar upaya ini benar-benar terlaksana, Menkes mengimbau agar Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Desa (Perdes) segera dibuat.

"Dengan peraturan daerah bisa dibuat dalam hal ini," kata Menkes menekankan.

 

2 dari 3 halaman

Sekolah Saja Tidak Cukup

Di sisi lain, Menkes juga menyadari bahwa seketat apa pun peraturan di sekolah mengenai larangan merokok, anak-anak ini bisa melakukannya di luar halaman sekolah. Terlebih saat para remaja sedang kumpul atau kongkow bersama teman sebaya.

"Makanya peraturan daerah atau peraturan desa (harus dibuat)," katanya.

"Seperti halnya ada sebuah desa yang lurahnya mengeluarkan Perdes, tidak boleh ada yang merokok," ujar dia menambahkan.

 

3 dari 3 halaman

Keluarga Punya Peran

Menkes juga meminta ketahanan dari keluarga itu sendiri. Bagi Menkes itu merupakan hal sangat penting.

"Kita harus memberikan perhatian lebih juga kepada anak-anak kita. Di sekolah (guru-guru) engga boleh merokok, di rumah (orangtua) juga engga boleh merokok. Dengan teman juga," ujarnya.

Menurut Menkes, apabila seorang anak memiliki teman sebaya yang 'jelek', anak pun berisiko tertular hal-hal yang sama.

"Kalau positif dengan berinovasi dan berkreativitas, anak jadi ke arah-arah positif juga," kata Menkes.

Artikel Selanjutnya
Menkes Mau Indonesia Punya Family Doctor Jempolan Kayak di Belanda
Artikel Selanjutnya
Awas, Merokok di Pantai Ini Bisa Didenda Rp 2 Juta