Sukses

Ini Dia Teknik Operasi Minim Luka dan Pendarahan

Liputan6.com, Jakarta Salah satu prosedur dalan mengatasi masalah kesehatan seperti urologi dan jantung adalah dengan teknik yang bersifat minimal invasif. Prosedur semacam ini diklaim mampu menghindarkan pasien dari tindakan bedah konvensional.

Selain itu, prosedur yang bersifat minimal invasif juga dianggap memiliki risiko timbulnya komplikasi lebih kecil bila dibandingkan dengan bedah konvensional.

"Kalau dilihat dari efek samping, tidak mungkin lebih tinggi daripada pembedahan terbuka," ujar dokter Spesialis Bedah Urologi rumah Sakit Pondok Indah, dr Hery Tiera SpU kepada Health Liputan6.com di Kuningan, Jakarta, Rabu (29/8/2018).

Prosedur yang disebut minimal invasif adalah tindakan bedah dengan luka sayatan yang minimal. Setelah dilakukan tindakan tersebut, pasien hanya merasakan nyeri yang lebih sedikit, risiko komplikasi lebih rendah, serta masa pemulihan yang lebih singkat apabila dibandingkan dengan bedah konvensional.

Komplikasi, lanjut Hery, bisa saja terjadi tapi dalam prosedur yang sifatnya minimal invasif tentu lebih rendah.

"Setiap tindakan pasti ada komplikasi. Orang mau operasi angkat tahi lalat saja ada risiko. Misalnya alergi terhadap zat-zat anestesi yang diberikan ataupun ada infeksi. Jadi, komplikasi atau efek samping semua tindakan ada. Bukan berarti minimal invasif tidak ada risiko sama sekali, tapi lebih rendah," ujar Hery.

 

 

2 dari 2 halaman

Minimal Invasif Tindakan yang Seperti Apa?

Selain itu, sebelum melakukan perawatan, pasien tentunya harus melewati tahap-tahap tertentu. Tidak bisa langsung ke prosedur minimal invasif.

"Kalau ada treatment, kita biasanya konservatif treatment dulu yang tanpa tindakan medis apa-apa, lalu dengan tindakan yang sifatnya non-invasif, baru naik ke minimal invasif baru naik ke open surgery," kata Hery.

Sehingga menurut Hery, tidak mungkin efek samping yang ada di prosedur minimal invasif lebih berbahaya daripada pembedahan terbuka.

Hery, menambahkan, di bidang urologi sendiri hampir 90 persen kasus bisa ditangani dengan prosedur yang sifatnya minimal invasif. Selain itu, teknik ini juga diklaim memiliki risiko komplikasi yang lebih kecil dibanding bedah terbuka.

Salah satu tindakan minimal invasif bisa dilakukan pada mereka yang mengalami kondisi batu di saluran kemih. Pemilihan tindakan yang dilakukan pada pasien ditentukan berdasarkan lokasi, ukuran, dan jenis batu yang terbentuk.