Menanam Pohon Sama dengan Menanam Oksigen, Menebang Artinya Merusak Jantung Manusia Perlahan

Pohon menyaring polusi, menurunkan suhu, dan melindungi jantung. Dokter menegaskan menanam pohon sama dengan investasi oksigen dan kesehatan.

Diterbitkan 24 Desember 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pohon bukan sekadar simbol lingkungan tapi intervensi kesehatan masyarakat yang natural. Siapa sangka, pohon punya peran yang begitu besar untuk jantung dan pembuluh darah.

Dokter sekaligus ahli kesehatan lingkungan, Dicky Budiman, menjelaskan, pohon dapat menyaring polutan dan penurunan suhu lingkungan. Ini dapat menekan risiko masalah denyut jantung, tekanan darah, heat stres alias masalah kesehatan akibat paparan panas.

"Polusi udara meningkatkan stres oksidatif dan inflamasi sistemik yang memicu hipertensi, atherosclerosis, hingga serangan jantung. Nah, pohon itu menurunkan suhu lingkungan. Sehingga denyut jantung, tekanan darah, hingga risiko heat stress ikut menurun," kata Dicky kepada Health Liputan6.com lewat pesan suara pada Selasa, 23 Desember 2025.

Selain baik untuk jantung, pohon juga memiliki manfaat untuk kesehatan paru-paru.

"Untuk paru-paru, pohon itu fungsinya menyaring polutan udara seperti PM 2.5, NO2 (Nitrogen Dioksida), dan ozon. Paparan jangka panjang polutan ini terbukti bisa meningkatkan asma, Penyakit Paru Obstetri Kronis (PPOK), hingga kanker paru," katanya.

"Nah, lingkungan hijau itu menurunkan beban kerja paru dan mengurangi inflamasi atau peradangan saluran napas," tambah Dicky.

Pohon juga memiliki manfaat untuk otot karena dapat meningkatkan keinginan melakukan aktivitas fisik.

"Manfaat pohon untuk otot dan aktivitas fisik ya karena ruang hijau itu membuat orang lebih mau berjalan, jogging, dan berolahraga," ujar Dicky.

"Aktivitas fisik konsisten adalah obat terbaik untuk mencegah penyakit jantung, diabetes, obesitas dan dalam hal ini pohon adalah fasilitatornya," tambahnya.

Manfaat Pohon untuk Kesehatan Mental

 

Lebih lanjut, Dicky juga menyampaikan manfaat pohon untuk kesehatan mental. Menurutnya, paparan alam dapat menurunkan kortisol alias hormon stres.

"Tidak kalah penting manfaatnya untuk kesehatan mental. Jadi paparan alam menurunkan kortisol, hormon stres," ujarnya.

"Stres kronik sendiri adalah faktor risiko penyakit jantung dan gangguan imun," tambahnya.

Menanam Pohon Sama dengan Menanam Oksigen

Dicky menyimpulkan, menanam pohon sama dengan menanam oksigen. Oksigen yang baik dapat menurunkan tekanan darah dan memperpanjang angka harapan hidup.

"Artinya, menanam pohon sama dengan menanam oksigen, investasi oksigen," ujarnya.

Dari sudut pandang medis, lanjutnya, kebijakan deforestasi atau pembabatan hutan berdampak langsung pada kualitas udara. Penurunan kualitas udara ini akan menimbulkan masalah kesehatan di masyarakat.

"Suhu lingkungan yang naik, makin panas, itu akan ada risiko heatstroke dan kematian mendadak saat olahraga," kata Dicky.

 

Dampak Deforestasi

Sebaliknya, deforestasi akan memicu bencana dan masalah kesehatan yang parah.

“Saat ini bisa kita lihat, bencana banjir, longsor, itu juga berdampak pada bukan hanya trauma fisik dan krisis kesehatan mental, tapi juga secara tidak langsung menyebabkan penyakit-penyakit. Misalnya saat mengungsi, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan sebagainya.”

Jika pohon banyak ditebang, risiko lain yang dapat muncul juga peningkatan penyakit tidak menular, bahkan meningkatkan potensi pandemi.

“Bahkan biaya kesehatan bebannya secara lokal atau nasional akan melonjak. Jadi kalau kebijakan pembangunan itu mengabaikan tutupan hijau, maka sistem kesehatan akan membayar mahal, bukan hanya 10 -20 tahun ke depan, tapi tahun ini pun akan terlihat dan terjadi semakin buruk.”

Dicky mengumpamakan, deforestasi seperti merokok pasif berskala nasional.

“Sebagai dokter, kegelisahan saya adalah kita sering mengobati penyakitnya tapi membiarkan penyebab ekologisnya tetap ada. Jadi, kita minum obat hipertensi tapi membiarkan kota tanpa pohon. Kita mendorong masyarakat berolahraga tapi yang ada udara di kota itu udara yang beracun untuk dihirup. Ini paradoks kesehatan publik yang harus dihentikan,” tutup Dicky.