Sukses

3 Fakta Razan Ashraf Najjar, Perawat Palestina yang Tewas Ditembak Israel

Liputan6.com, Palestina Kabar tragis menimpa Razan Ashraf Najjar (21), perawat Palestina yang tewas ditembak tentara Israel pada Jumat, 1 Juni 2018 di dekat pagar perbatasan Gaza. Ketika ditembak, para saksi mengatakan, Razan mengenakan seragam perawat berwarna putih dan sedang merawat seorang pengunjuk rasa yang terluka.

US News melaporkan, dari laporan perwakilan rumah sakit Khan Younis, Razan terkena luka tembak di dada. Luka tembak pun menembus hingga ke punggungnya.

Satu jam sebelum matahari terbenam pada hari Jumat, tepat minggu ke-10 unjuk rasa protes Palestina, Razan  berlari untuk membantu seorang demonstran yang terluka. Itu kali terakhir dia melakukan tugasnya, sesuai ditulis Heavy, Senin (4/6/2018).

Penembakan terhadap perawat muda itu masih diselidiki oleh pihak berwenang Israel. UN Special Coordinator for the Middle East Peace Process, Nickolay E. Mladenov mengatakan dengan nada tegas, "Perawat bukanlah target penembakan!"

Dalam sebuah video berita TRT World, Razan menjadi target penembakan. Perawat itu ditembak di dada. Laporan juga menyebut, dua petugas medis lainnya diduga ditembak atau menderita luka pecahan peluru.

Saksi yang merupakan rekan Razan melihat, perawat muda itu tidak menyadari dirinya saat ditembak, tapi ia merasakannya saat peluru keluar dari punggungnya. Ia menunjuk ke punggungnya, lalu jatuh dan terkapar.

Untuk mengingat sosok Razan Ashraf Najjar, ada beberapa fakta soal dirinya yang patut diketahui.

 

 

Simak video menarik berikut ini:

2 dari 4 halaman

Bekerja 13 jam sehari

Habiskan 13 jam sehari di Perbatasan Gaza demi obati warga sipil yang terluka

Razan bekerja selama berjam-jam sebagai tenaga paramedis sukarela. Ia bertugas memberikan pertolongan pertama kepada orang yang terluka sampai mereka tiba di rumah sakit.

Ia membantu mengobati 70 orang yang terluka dalam satu hari, yang kebanyakan menderita luka akibat tembakan peluru karet. Bahkan ia bekerja hingga 13 jam sehari, dari pukul 7 pagi hingga 8 malam.

Dalam sebuah wawancara dengan TRT World pada 1 April 2018, Razan mengungkapkan, ia ingin terus membantu orang lain.

"Kami melakukan pekerjaan ini karena mencintai negara. Ini adalah tugas kemanusiaan,” ungkap Razan.

Ia sempat menceritakan hari pertamanya bertugas sebagai paramedis. Yang paling sulit dihadapi, ia merasa lemas karena tembakan gas air mata sebanyak tiga kali. Seluruh tim medis menjadi sasaran tembak.

3 dari 4 halaman

Pekerjaan perawat juga layak untuk wanita

Menjadi perawat bukan hanya pekerjaan untuk pria, tapi juga layak untuk wanita

“Kami punya satu tujuan, yakni menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang. Dan untuk mengirim pesan ke dunia. Tanpa senjata, kami bisa melakukan apa saja,” Razan menambahkan.

Pada Mei 2018, Razan menunjukkan, wanita juga pantas bekerja sebagai perawat.

"Menjadi tenaga medis bukan hanya pekerjaan untuk pria, itu juga pantas untuk wanita," ucap Razan.

4 dari 4 halaman

Kesedihan dan amarah bagi orang yang ditinggalkan

Rekan medis, keluarga, teman, dan puluhan ribu warga Gaza juga publik dunia ikut sedih.

Kematian Razan yang ditembak tentara Israel menyulut kesedihan dan amarah publik. Ungkapan sedih membanjiri Twitter. Rekan dan relawan menangis karena kehilangan Razan.

“Aku tidak percaya dia telah ditembak. Aku sangat bangga melihat bagaimana dia tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat dan baik hati. Aku ingat, dia waktu kecil suka bermain. Setiap kali dia datang mengunjungi nenek, dia akan mengajakku pergi bermain," curhat Dalia al-Najjar, sepupu Razan.

Dalia pun merasa, hatinya hancur berkeping-keping mendengar kematian Razan. Ibu Razan angkat bicara saat diwawancarai TRT World.

“Aku ingin seluruh dunia melihatnya. Apa kesalahan putriku? Apa kejahatannya sehingga ini (ditembak) terjadi padanya?"

Loading
Artikel Selanjutnya
Ribuan Warga Gaza Hadiri Pemakaman Perawat Palestina yang Tewas Ditembak Israel
Artikel Selanjutnya
Kisah Razan Ashraf Najjar, Perawat Palestina yang Tewas Ditembak Israel