Sukses

Belajar Mengendalikan Diri dengan Puasa

Liputan6.com, Jakarta Bagi umat Muslim, puasa adalah ibadah yang wajib dilakukan di bulan Ramadan. Sementara bagi sebagian orang, puasa juga dilakukan sebagai bentuk terapi bagi dirinya. Puasa tidak berarti hanya menahan nafsu makan, tetapi juga menahan nafsu atas apapun yang kita suka. Di samping itu, puasa memiliki berbagai macam manfaat, termasuk berkenaan dengan kesehatan mental seseorang.

Menahan Diri Saat Puasa

Saat puasa, kita merasakan keadaan di mana harus menunda keinginan untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan, seperti makan, minum, gosip, mengumpat, atau ekspresi marah lainnya. Proses menahan diri itu pun dapat menyebabkan munculnya perasaan kesal, stres, atau tidak sabar.

Akan tetapi, puasa melatih kita untuk mengendalikan keadaan tersebut dengan lebih baik dan membuatnya menjadi hal yang biasa. Kita tidak semudah itu untuk mengekspresikan amarah, tidak semudah itu untuk langsung mengonsumsi makanan atau minuman yang diinginkan.

Ketika berhasil menahan diri, ada beberapa pengaruh baik yang dapat kita rasakan antara lain: lebih menghargai diri, lebih mensyukuri keadaan, menikmati kesenangan secara sederhana, mengurangi perasaan berasalah dan meningkatkan kemampuan mengendalikan emosi.

Pengaruh-pengaruh baik ini dapat dirasakan setelah kita menyadari bahwa ternyata kita mampu menghadapi kesulitan atau ketidaknyamanan yang dirasakan saat berpuasa. Kita seperti mengapresiasi diri sendiri karena telah berhasil untuk bertahan hingga waktu berbuka tiba.

Selain itu, perlahan kita belajar untuk beradapatasi dengan situasi saat puasa dan menjadi terbiasa dengan segala ketentuan yang berlaku saat berpuasa.

 

Saksikan juga video menarik berikut:

 

2 dari 2 halaman

Meningkatkan Kualitas Kesehatan Mental

Berbagai penelitian menyebutkan, mereka yang telah berpuasa (terkhusus selama bulan Ramadan) mengalami peningkatan kualitas kesehatan mental. Bagi mereka yang meyakini kepercayaan religiositasnya, puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang harus dilakukan. Keyakinan kepercayaan yang kuat ini pun mampu memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Tingkat stres, kecemasan dan depresi yang dirasakan mengalami penurunan setelah berpuasa dibandingkan sebelum puasa itu dilakukan. Bahkan, ketika waktu berpuasa itu usai, tingkat stres, kecemasan dan depresi yang dirasakan berada dalam kondisi sedang.

Di sisi lain, penelitian juga menyebutkan seseorang yang berpuasa juga berpengaruh terhadap peningkatan harga dirinya. Peningkatan harga diri ini terjadi karena ada ikatan kuat antara keyakinan yang dimiliki dengan ritual ibadah yang dijalaninya.

—–

Puasa bukan sesuatu yang menyulitkan karena seolah-olah kita ditahan untuk melakukan apapun yang disuka atau biasa dilakukan. Puasa bukan juga sekadar menahan, tetapi juga mengajarkan kita untuk mengetahui batas atas yang kita suka.

Jauh di balik itu, berpuasa memiliki makna dan manfaat yang begitu dalam bagi mereka yang menjalaninya. Menjalani puasa dengan sepenuh hati tanpa ada pemaksaan dalam diri. Sesuatu yang dijalani dengan penuh keyakinan akan mudah dirasakan pengaruh baiknya kelak dalam diri kita.

 

Ditulis oleh Zahrah Nabila dari Pijarpsikologi.com untuk Liputan6.com

Artikel Selanjutnya
Koki Timnas Arab Saudi Siapkan Menu Khusus untuk Jalani Puasa di Piala Dunia 2018
Artikel Selanjutnya
Berbuka dengan yang Manis, Bolu Peca Bugis Jadi Pilihan