Sukses

Awas, Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Bisa Muncul di Trimester Pertama Kehamilan

Liputan6.com, Jakarta Penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak bisa terjadi pada trimester pertama kehamilan ibu. Kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa sejak lahir, bisa terjadi karena gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin.

Hal ini diungkap oleh dokter dari Rumah Sakit Harapan Kita, dr. Oktavia Lilyasari , SpJP (K), FIHA, dalam 27th Annual Scientific Meeting of Indonesia Heart Association atau ASMIHA, di Kuningan, Jakarta.

"Biasanya pembentukan jantung itu terjadi pada trimester pertama, atau tiga bulan pertama kehamilan," kata Oktavia pada Jumat (20/4/2018).

"Jadi biasanya kita wanti-wanti pada ibu hamil, tiga bulan pertama, jangan minum obat macam-macam, jangan terekspos udara macam-macam, karena pada saat itulah terjadi perkembangan organ, terutama untuk jantung."

Beberapa jenis obat teratogenik tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil karena bisa memberi efek tidak baik bagi perkembangan janin.

"Dia tidak hanya untuk penyakit jantung bawaan, tapi juga untuk kelainan bawaan," ujar Oktavia.

Untuk itu, ibu hamil harus mengkonsultasikan diri ke dokter kandungan apabila ingin mengonsumsi obat untuk sakit yang dideritanya, termasuk penyakit-penyakit ringan.

Selain itu, jika ibu hamil memiliki obat yang harus dikonsumsi secara rutin seperti obat darah tinggi, perlu berkonsultasi dengan dokter. Biasanya dokter akan menyarankan obat pengganti yang relatif lebih aman untuk perkembangan janin, dr Oktavia menjelaskan.  

 

Simak juga video menarik berikut ini:

 

1 dari 2 halaman

Ibu Diabetes Anak Berisiko 20 Persen

Oktavia mengatakan, PJB sendiri sudah ada sejak lahir. Gangguan pada struktur jantung ketika berada dalam kandunganlah yang membuat penyakit tersebut muncul.

Beberapa faktor risiko yang menyebabkan PJB sendiri antara lain adalah faktor maternal.

"Kalau ibunya mengidap diabetes, anaknya berisiko terkena penyakit jantung bawaan sebesar 20 persen," ungkap dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) tersebut.

Faktor lainnya adalah genetik. Oktavia mengatakan, apabila salah satu keluarga menderita PJB, bayi yang dikandung ibu tersebut memiliki risiko lebih besar.

Beberapa hal lain yang juga menjadi faktor risiko adalah radiasi, polusi, kebiasaan merokok, dan beberapa sindroma akibat kelainan kromosom seperti sindrom down. Selain itu, penyakit rubela pada ibu juga bisa menyebabkan hal tersebut di awal kehamilan.

 

Artikel Selanjutnya
Gampang Cemas Saat Hamil, Normal Enggak Sih?
Artikel Selanjutnya
Hamil Kembar, Ini Tantangan yang Dihadapi Ibu