Sukses

Stephen Hawking Divonis Hidup Hanya 2 Tahun, Faktanya 50 Tahun Lebih

Liputan6.com, Jakarta  

Stephen Hawking yang dinyatakan meninggal oleh keluarganya di Cambridge, Inggris sudah terdiagnosa menderita gangguan saraf motorik yang menyebabkan tubuhnya lumpuh atau yang sering disebut Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) di tahun 1963, pada usianya yang ke-21.

Meski 80 persen penderita penyakit ini tak bisa bertahan hidup dalam waktu tidak sampai 5 tahun sejak didiagnosis, Hawking malah bisa bertahan hidup hingga setengah abad lebih.

Awalnya dokter yakin sang ilmuwan hanya bisa hidup dua tahun saja. Akhirnya dia bisa bertahan selama sepuluh tahun, bahkan lebih. Menurut para ilmuwan kesehatan, dalam sejarah tidak ada yang seperti dia.

Karena lumpuh, Stephen Hawking terpaksa menggunakan kursi roda yang dilengkapi dengan sistem komputer canggih sehingga dia bisa bicara melalui alat itu sekaligus bergerak atau berjalan.

1 dari 4 halaman

Mencolok sejak remaja

Hawking lahir pada 8 Januari 1942, tepat 300 tahun sejak kematian Galileo Galilei di Oxford, Inggris dari seorang ayah bernama Frank (seorang dokter) dan Isobel (perawat).

Hawking dan tiga adiknya tumbuh besar di Kota St. Albans, sebelah utara London tempat yang menumbuhkan dirinya sebagai seorang intelektual.

Sudah sejak sekolah dasar di Sekolah St. Albans, Hawking sudah menunjukkan perbedaan yang mencolok di antara teman-temannya. Meski sering main gim dan berada di hadapan komputer, pemuda cerdas brilian ini berhasil lulus dari University College di Universitas Oxford pada tahun 1959 saat usianya 17 tahun.

2 dari 4 halaman

Kenapa Bertahan Hidup?

Saat belajar di Kolese Trinity di Cambridge, Inggris, pada 1962Hawking bertemu Wilde, kawan sekolahnya di St.Albans yang menjadi sedang belajar bahasa modern di Kolese Westfield di London.

Sebelum keduanya berkencan, Hawking jatuh saat melakukan olahraga ice skating dan tidak bisa bangun. Dibawalah dia ke dokter oleh ibunya. Dokter saat itu mendiagnosanya menderita penyakit ALS dan memvonis hanya bisa bertahan hidup dua tahun.

Bertahun-tahun kemudian, dalam sebuah simposium di Cambdrige pada ulang tahunnya ke-70, Hawking merefleksikan betapa dirinya berjuang untuk tetap punya motivasi dalam menjalani hidupnya semenjak didiagnosa dan menderita sakit hingga lumpuh. "Kenapa mesti kerja keras untuk bisa menjadi seorang doktor (bergelar doktor) kalau kamu hanya bisa hidup dua tahun?,"tanyanya dalam hati.

Hawking lalu berkata pada dirinya dia harus melihat ke atas, ke bintang dan tidak ke bawah. "Cobalah untuk menjadi masuk akal atas apa yang Anda lihat dan apa yang menyebabkan alam semesta ini ada. Selalu cari tahu dan bagaimana pun susahnya hidup, ada hal yang bisa kamu lakukan dan hasilkanlah sesuatu. Jangan pernah menyerah."

 

3 dari 4 halaman

Ilmuwan Hebat

Kematian Stephen Hawking dikonfirmasi oleh keluarganya pada Rabu (14/3) dini hari waktu setempat di rumahnya di Kota Cambridge, Inggris. Hawking meninggalkan tiga orang anak, yakni Lucy, Robert, dan Tim. Ketiga anak Hawking mengatakannya dalam sebuah pernyataan yang berbunyi :

"Kami sangat sedih karena ayah tercinta kami telah meninggal dunia hari ini. Dia adalah ilmuwan hebat dan pria luar biasa yang pekerjaan dan warisannya akan dijalani selama bertahun-tahun. Keberanian dan ketekunannya dengan kecemerlangan dan humornya mengilhami orang-orang di seluruh dunia. Dia pernah berkata,'Tidak akan banyak alam semesta jika tidak ada tempat bagi orang-orang yang Anda cintai.' Kami akan merindukannya selamanya."

Artikel Selanjutnya
Stephen Hawking Meninggal, Duka Warganet di Media Sosial
Artikel Selanjutnya
5 Petuah Kontroversial Stephen Hawking untuk Manusia