Sukses

Setop Pakai Istilah Cuci Darah, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta Pemakaian istilah cuci darah harus disudahi. Penggunaan dua suku kata itu hanya menambah rasa takut pasien gagal ginjal melakukan perawatan untuk mempertahankan fungsi ginjal mereka.

"Cuci darah bukan istilah yang tepat," kata dr Aida Lydia PhD SpPD-KGH kepada Health-Liputan6.com usai jadi pembicara sebuah diskusi Kidney And Women's Health: Include, Value, Empower di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, HR Rasuna Said, Jakarta Selatan pada Kamis, 8 Maret 2018.

Cuci darah bila diartikan ke dalam bahasa asing menjadi blood washing. Menurut Aida, orang Inggris maupun Amerika sendiri tidak pernah menyebut perawatan pasien gagal ginjal itu dengan blood washing

"Pakailah istilah hemodialisis. Biar pasien, terutama yang perempuan, tidak mendadak drop mendengar (cuci darah) itu," kata Aida menambahkan.

 

 

Saksikan juga video menarik berikut:

1 dari 3 halaman

Jangan Lagi Gunakan Istilah Cuci Darah

Istilah cuci darah bagi Aida adalah momok. Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI) bahwa ada persepsi yang kurang tepat di masyarakat jadi sebaiknya pergunakan istilah yang benar.

"Kasih contoh kayak anemia. Orang dulu bilang itu kurang darah. Orang jadi takut. Kalau sekarang kita sampaikan anemia, mereka paham bahwa anemia itu kurang darah," ujar Aida.

 

2 dari 3 halaman

Cuci Darah atau Hemodialisis Harus Dilakukan Pasien Gagal Ginjal

Dalam sebuah kesempatan, dr Lily Sriwahyuni Sulistyowati MM, yang pada 2016 menjabat Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI mengatakan fungsi ginjal tidak akan kembali normal ketika seseorang didiagnosisi gagal ginjal kronis.

Hal yang bisa dilakukan hanya mempertahankan fungsi ginjal yang ada dengan rutin menjalani hemodialisis sebanyak satu sampai tiga kali setiap minggu. Bahkan perawatan cuci darah mesti dilakukan rutin di sepanjang hidup pasien gagal ginjal kronis.

"Atau sampai pasien mendapat ginjal baru melalui operasi pencangkokan ginjal," ujar Lily.

Dia menjelaskan bawa kerusakan jaringan ginjal yang berfungsi menyaring darah (nefropati) merupakan jenis penyakit tidak menular yang dapat dicegah dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.

“Dapat kita lihat bahwa sebagian besar penyebab gagal ginjal disebabkan faktor risiko perilaku yang kurang sehat, yang merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit tidak menular” kata Lily .