Sukses

Asupan Gizi Ibu Hamil yang Salah Berisiko Anak ADHD

Liputan6.com, Jakarta Menurut Mental Health America, gangguan perilaku adalah pola berulang dan terus-menerus dari perilaku pada anak-anak dan remaja di mana hak-hak orang lain atau aturan sosial dasar yang dilanggar. Perilaku dapat menjadi agresif, seperti mengancam atau merugikan orang lain atau hewan, atau tidak agresif, seperti menyebabkan kerusakan yang disengaja untuk memiliki milik orang lain. Anak-anak atau remaja dengan gangguan perilaku juga dapat terlibat dalam perilaku curang--seperti berbohong dan pencurian--dan bolos sekolah, keluar hingga malam berakhir, dan pelanggaran aturan umum lainnya.

Dr. Barker dan rekannya mencatat bahwa gangguan perilaku sering terjadi bersamaan dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan penelitian telah menunjukkan bahwa terjadinya hal tersebut dapat timbul dari faktor keturunan.

Studi sebelumnya telah menghubungkan diet yang tidak sehat dalam kehidupan awal dengan kedua gangguan perilaku dan ADHD, di mana peneliti berspekulasi disebabkan oleh metilasi DNA dari gen seperti insulin faktor pertumbuhan 2 (IGF2).

Metilasi DNA adalah proses epigenetik ketika kelompok metil ditambahkan ke DNA, sehingga mengubah fungsi gen. IGF2 terlibat dalam perkembangan janin, serta pengembangan area otak yang terlibat dalam ADHD. Dengan demikian, Dr. Barker dan rekan berhipotesis bahwa diet atau pola makan yang tidak sehat selama kehamilan dapat memengaruhi gen ini sehingga menempatkan anak pada risiko masalah perilaku.

Untuk menilai hubungan antara diet tidak sehat dengan tingginya IGF2 pada bayi baru lahir, tim menganalisis data dari 164 anak-anak dan ibu mereka yang merupakan bagian dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children, juga dikenal sebagai "proyek Anak-anak dari tahun 90-an". 83 dari mereka memiliki gangguan awal perilaku, sedangkan 81 yang lain memiliki tingkat rendah dari masalah perilaku.

Melansir laman Medicalnewstoday, Senin (22/8/2016), para peneliti menilai diet ibu selama kehamilan, serta sampel darah dari anak-anak mereka - yang diambil saat lahir dan usia 7 tahun - untuk menentukan apakah diet prenatal mempengaruhi IGF2. Di antara kedua kelompok anak-anak, mereka yang ibunya memiliki diet tinggi lemak dan gula selama kehamilan menunjukkan metilasi DNA yang lebih tinggi dari IGF2 saat lahir, dibandingkan dengan anak-anak yang ibunya memiliki pola makan yang sehat pada kehamilan. Yang penting, IGF2 metilasi tinggi saat lahir hingga usia 7-13 tahun dengan onset dini gangguan perilaku itu terkait dengan gejala ADHD. Dr. Barker mengatakan penelitian ini menyoroti pentingnya diet yang sehat selama kehamilan.

Sekarang tim berencana untuk menyelidiki bagaimana kelompok gizi secara spesifik mempengaruhi perkembangan saraf, dalam kaitannya menentukan makanan yang terbaik untuk dikonsumsi ibu hamil guna menurunkan risiko ADHD pada keturunan mereka.

"Kita sudah tahu bahwa suplemen gizi untuk anak-anak dapat menurunkan risiko ADHD, sehingga penting dilakukan penelitian kedepannya untuk memeriksa peran perubahan epigenetik dalam proses ini," tambah Dr. Barker.