Peminum Bir Lebih Berisiko Terkena Kanker

Orang yang minum bir atau minuman keras secara rutin mungkin akan menghadapi risiko tinggi terkena berbagai jenis kanker. Seperti kanker kerongkongan, perut, usus besar, paru-paru, pankreas, hati, dan prostat.

Diterbitkan 24 Agustus 2009, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Montreal: Orang yang minum bir atau minuman keras secara rutin mungkin akan menghadapi risiko tinggi terkena berbagai jenis kanker. Para peneliti dari Universitas McGill, Montreal, Kanada menyurvei hampir 3.600 pria Kanada yang berusia 35 hingga 70 tahun yang minum bir setiap hari memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker dibanding dengan pria yang kadang-kadang minum apalagi tidak sama sekali. Penyakit diderita pun berupa kanker kerongkongan, perut, usus besar, paru-paru, pankreas, hati, dan prostat.

Ketika para peneliti melihat jenis alkohol, ternyata hanya bir dan spiritus yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker dan bukan anggur. Menurut temuan yang dipublikasikan dalam Pencegahan dan Deteksi Kanker, secara umum, peluang terkena kanker meningkat disebabkan asupan alkohol semasa hidup para pria tersebut.

Ketika sampai terserang kanker perut (esophageal) misalnya, orang-orang yang minum satu hingga enam kali per minggu mempunyai risiko 83 persen lebih tinggi daripada yang tidak minum dan yang sedikit minum. Sedangkan peminum harian berisiko tiga kali lipat lebih tinggi. Selain itu, risiko terkena kanker umumnya meningkat tiap tahun pada pria yang rutin minum bir tiap hari.

"Hasil kami menunjukkan bahwa konsumen terberat selama masa hidupnya memiliki peningkatan terbesar dalam situs perkalian risiko kanker," ujar peneliti Dr. Andrea Benedetti kepada Reuters Health, baru-baru ini.

Sebelumnya, banyak penelitian menunjukkan bahwa peminum moderat, yang biasanya minum tidak lebih dari satu atau dua kali sehari, dianggap menjadi kebiasaan sehat, terutama berkaitan dengan risiko penyakit jantung.

Namun, dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat peminum moderat berisiko terkena kanker tertentu, setidaknya ketika pilihan peminum adalah bir atau minuman keras. Pertanyaannya adalah apakah peminum moderat harus dihilangkan? Bagaimanapun juga tidak dapat dijawab oleh satu penelitian.

"Dalam hal menyeimbangkan risiko ini (kanker) dengan risiko penyakit jantung, orang sebaiknya membicarakannya dengan dokter mereka," tambah Benedetti. Nah, masih tetap ingin melanjutkan kebiasaan minum Anda?(DIO)