Sukses

Bedanya Donor Darah Dulu dan Sekarang

Liputan6.com, Jakarta Berkembangnya penelitian dan teknologi ternyata juga cukup memengaruhi perubahan gaya hidup untuk masing-masing orang mendonorkan darahnya saat ini. Bila dibandingkan dulu, selain pendonor masih sedikit, alat pemeriksaan juga terbatas dan manual.

Seperti itulah yang disampaikan Kepala Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (PMI), DKI Jakarta Dr. Shalimar Salim saat ditemui di Kantor PMI Pusat, Jakarta. Menurutnya, perkembangan PMI setiap tahun cukup baik karena pendonor darah terus berkembang dan penelitian darah juga semakin canggih. Sehingga alat-alat otomatis juga dimanfaatkan oleh PMI.

"Dulu untuk mengambil contoh hemoglobin, memerlukan alat kedokteran yang lama. Sekarang kita punya alat otomatis sehingga kemungkinan kesalahan sedikit sekali. Selain itu, semakin lama penelitian juga semakin berkembang. Seperti misalnya dulu kita tahu bahwa orang dnegan golongan darah O bisa menyumbangkan darahnya kepada semua orang. Sekarang tidak boleh lagi karena adanya penelitian rhesus pada golongan darah," kata Shalimar, ditulis Kamis (8/5/2014).

Shalimar pun juga memuji banyak orang yang mau membantu sesama dengan mendonorkan darahnya. Karena dulu, PMI harus gencar promosi agar masyarakat mau mendonorkan darahnya. Tapi sekarang, masyarakat seperti memiliki kesadaran sendiri.

"Perubahan kebiasaan donor darah juga tiap tahunnya meningkat. Target kita itu 300 ribu kantong pertahun. Tapi tahun lalu terkumpul 330 ribu kantong darah untuk DKI. Di DKI sendiri kebutuhan kantung darah per harinya 1000 kantung darah. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo lah yang paling banyak memerlukan darah hingga 500 sehari. Wajar kan karena RSCM merupakan RS rujukann nasional," jelasnya.

Sejarah PMI

Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak sebelum Perang Dunia Ke-II. Saat itu, tepatnya pada tanggal 21 Oktober 1873 Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai), yang kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang.

Perjuangan untuk mendirikan Palang Merah Indonesia kembali dilakukan pada tahun 1932. Kegiatan tersebut dipelopori oleh Dr. RCL Senduk dan Dr Bahder Djohan. Rencana tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia. Mereka berusaha keras membawa rancangan tersebut ke dalam sidang Konferensi Nerkai pada tahun 1940 walaupun akhirnya ditolak mentah-mentah.

Seperti tak kenal menyerah, saat pendudukan Jepang, para pelopor kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk kedua kalinya rancangan itu harus kembali disimpan.

Tujuh belas hari setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, yaitu pada tanggal 3 September 1945, Presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional. Atas perintah Presiden, maka Dr. Buntaran yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia Kabinet I, pada tanggal 5 September 1945 membentuk Panitia 5 yang terdiri dari dr R. Mochtar (Ketua), dr. Bahder Djohan (Penulis), dan dr Djuhana, dr Marzuki dan dr. Sitanala (anggota).

Akhirnya Perhimpunan Palang Merah Indonesia berhasil dibentuk pada 17 September 1945 dan merintis kegiatannya melalui bantuan korban perang revolusi kemerdekaan Republik Indonesia dan pengembalian tawanan perang sekutu maupun Jepang. Oleh karena kinerja tersebut, PMI mendapat pengakuan secara Internasional pada tahun 1950 dengan menjadi anggota Palang Merah Internasional dan disahkan keberadaannya secara nasional melalui Keppres No.25 tahun 1959 dan kemudian diperkuat dengan Keppres No.246 tahun 1963.

Kini jaringan kerja PMI tersebar di 30 Daerah Propinsi / Tk.I dan 323 cabang di daerah Tk.II serta dukungan operasional 165 unit Transfusi Darah di seluruh Indonesia.

Dua Petani Tewas Tertabrak di Tepi Sawah

Tutup Video
Loading