Cina Masih Dendam Terhadap Invasi Jepang

Pemerintah Cina merayakan Hari Mukdeng terbesar untuk menumbuhkan kebencian kepada Jepang. Mayoritas warga Cina tersinggung karena pemerintah Jepang belum juga meminta maaf dalam peristiwa pada 1931.

Diterbitkan 20 September 2004, 08:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Beijing: Raungan sirene terdengar hampir di seluruh kota di Cina, Ahad (19/9). Sirine dibunyikan untuk memperingati invasi Jepang ke Kota Mukdeng (sekarang Shenyang), Cina pada 1931. Peristiwa itu dikenal sebagai awal invasi Jepang terhadap bagian timur laut Cina sebelum akhirnya Jepang menyerah pada 1945, sekaligus mengakhiri perang dunia kedua. Sejak empat tahun silam, hari itu dinyatakan sebagai Hari Pendidikan Pertahanan Nasional untuk menggugah semangat nasionalisme kaum muda Cina.

Peringatan kali ini sengaja dibuat besar-besaran. Malahan bisa dibilang sebagai peringatan Mukdeng terbesar dalam sejarah Cina. Hal itu untuk menorehkan sentimen anti-Jepang yang diembuskan pemerintah Cina. Pemerintah Komunis menganggap Jepang sebagai rival berat dalam mengejar status negara adikuasa di Asia. Selain itu, sebagian besar rakyat Cina merasa tersinggung terhadap pemerintah Jepang. Hingga saat ini Jepang tidak meminta maaf dan menyatakan penyesalan terhadap invasi yang menelan banyak korban, rakyat Cina.

Sentimen terhadap Jepang terlihat jelas di Beijing, ibu kota Cina. Pihak kepolisian membiarkan 20 demonstran berunjuk rasa menentang rencana Jepang mendapatkan tempat permanen di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam orasinya, pengunjuk rasa juga mengklaim kepulauan yang direbutkan kedua negara. Sambil menyanyikan lagu kebangsaan, para pengunjuk rasa mengimbau rakyat Cina untuk selalu waspada terhadap ancaman militer Jepang. Pemerintah Cina mendukung aksi para pengunjuk rasa. Pemerintah menyatakan, kegiatan serupa akan digelar di lebih dari 101 kota di Negeri Tirai Bambu.(YAN/Yoh)