Ratusan Sandera di Beslan Tewas

Drama penyanderaan sekitar 1.200 orang di sebuah sekolah di Kota Beslan, Rusia, berakhir dengan tembak-menembak antara pasukan Rusia dengan penyandera. Diduga keras lebih dari 150 sandera tewas.

Diterbitkan 04 September 2004, 09:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Beslan: Drama penyanderaan di sebuah gedung sekolah di Kota Beslan, Provinsi Ossetia Utara, Rusia, Jumat (3/9), berakhir tragis. Negosiasi maraton yang dilakukan agar sandera dibebaskan oleh para pemberontak bersenjata buntu. Sekitar 1.200 sandera justru bebas dari penculikan setelah tembak-menembak antara pasukan Rusia dan kelompok penyandera. Diduga lebih dari 150 sandera tewas dalam tragedi berdarah ini [baca: Drama Penyanderaan di Beslan Berakhir].

Bunyi tembakan dan ledakan bom mulai terdengar setelah pasukan Rusia menyerbu gedung sekolah tempat kelompok militan Chechnya menyandera para guru, murid, dan orang tua murid sejak Rabu silam. Di antara suara desingan peluru dan ledakan bom, para sandera termasuk anak-anak berusaha menyelamatkan diri.

Penyerbuan yang dimulai pukul 08.00 pagi waktu setempat dilakukan setelah sekitar 30 wanita dan anak-anak melarikan diri dari tempat itu. Sebagian dari mereka keluar dengan telanjang dan bercucuran darah. Sepuluh penyandera dinyatakan tewas dalam baku tembak. Diduga, tiga di antaranya, termasuk pemimpin mereka terperangkap di lantai bawah saat ledakan keras terjadi.

Sejumlah laporan menyebutkan, sekitar 100 mayat tergeletak di gedung olah raga, tempat sandera dikumpulkan. Beberapa di antaranya tewas tertimpa atap yang ambruk menyusul ledakan itu. Sedangkan Penasihat Presiden Vladimir Putin di Chechnya, Aslambek Aslakhanov menyebutkan, korban tewas dalam drama penyanderaan itu diduga lebih dari 150 orang. Sejauh ini, baru 60 mayat yang sudah bisa diidentifikasi. Dia menambahkan, sembilan penyandera adalah tentara bayaran berkebangsaan Arab.

Sementara dalam siaran televisi, Kepala Dinas Keamanan Federal di Beslan, Valery Andreyev menyatakan 20 penyandera terbunuh. Sebelumnya, media Rusia melaporkan pasukan komando berhasil membunuh lima penyandera dan 13 lainnya kabur. Tentara Rusia kemudian mengejar mereka yang diduga bersembunyi di sebuah rumah dan sebagian membaur dengan warga setempat.

Kepala daerah setempat Alexander Dzasokhov menyatakan, para penyandera menuntut pemerintah Moskow menarik pasukannya dari Chechnya. Sedangkan menurut kantor berita Rusia Itar-Tass, sebelumnya para penyandera setuju pemerintah Rusia mengambil sepuluh dari 20 mayat sandera yang dieksekusi. Namun ketika petugas mengambil jenazah, penyandera mulai memasang bom dan menembaki orang-orang di sekitar lokasi. Saat itulah tentara mulai menyerbu.

Hingga kini, pihak keluarga sandera masih berkumpul di luar rumah sakit Kota Beslan. Mereka berusaha memastikan kondisi sanak keluarga mereka. Di dekat rumah sakit, mayat anak-anak dibaringkan di atas tandu untuk didentifikasi. Seperti diungkapkan pejabat setempat, sedikitnya 520 orang harus dirawat di rumah sakit. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar.

Sementara itu, sejumlah negara sahabat Negeri Beruang Merah menyampaikan bela sungkawa kepada pemerintah Rusia serta keluarga para korban penyanderaan. Di antaranya adalah Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat.

Dalam ucapan bela sungkawa Kanselir Jerman Gerhard Schroeder menyebutkan, tujuan politis tidak akan dapat dicapai dengan cara terorisme. Schroeder sebelumnya menelepon Putin dan menawarkan sebuah jet Angkatan Udara Jerman untuk merawat para korban yang terluka, Kamis silam.

Di Valkenburg, Belanda, Menteri Luar Negeri Belanda Ben Bot menyebut insiden itu sebagai tragedi kemanusiaan yang mendalam. Oleh karena itu, segala upaya harus dilakukan untuk memberantas terorisme. Bot menyampaikan bela sungkawa atas nama 25 negara Uni Eropa. Menlu Belanda itu menekankan kejadian ini mengingatkan Rusia untuk meninjau kembali kebijakan dalam menyelesaikan konflik di Chechnya.

Dari Washington DC, Amerika Serikat, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Richard Boucher menyatakan, negaranya mengutuk penyanderaan di Beslan. Dia menyebut aksi itu sebagai tindakan barbar dari terorisme yang tidak seharusnya terjadi.(DNP/Rcm dan Pin)