Kepada Presiden Iran, Putin Janji Bantu Akhiri Perang

Iran dan Amerika Serikat (AS) telah saling mengajukan proposal baru untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 15:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Ashgabat - Presiden Rusia Vladimir Putin berjanji akan melakukan segala upaya untuk membantu mengakhiri perang di Timur Tengah. Janji itu disampaikan saat bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (8/10/2026), seperti dilaporkan media Rusia.

Kedua pemimpin negara yang termasuk paling banyak dikenai sanksi internasional itu bertemu setelah tiba di Turkmenistan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS). KTT tersebut dijadwalkan dimulai pada Jumat (9/10) di kawasan wisata Avaza, di tepi Laut Kaspia.

"Kami siap melakukan segala upaya yang kami mampu untuk membantu menyelesaikan konflik ini," kata Putin.

Menurut kantor berita Rusia, Putin juga mengatakan bahwa Iran telah melakukan "upaya nyata untuk mengakhiri perang" sejak AS dan Israel mulai melancarkan serangan pada 28 Februari.

Putin turut menyoroti perkembangan positif hubungan Rusia dan Iran.

Kedua negara semakin mempererat hubungan diplomatik dan militer sejak Rusia melancarkan serangan ke Ukraina pada Februari 2022. Sejak itu, Rusia dan Iran juga semakin bergantung satu sama lain.

Perundingan Buntu

Ukraina dan negara-negara Barat menuduh Iran memasok drone Shahed dan rudal jarak pendek kepada Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina. Sementara itu, Rusia dituduh memberikan data kepada Iran untuk membantu serangan terhadap sasaran AS di Timur Tengah.

Putin dan Pezeshkian sebelumnya juga bertemu di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgistan pada September lalu.

Keduanya kembali berkomunikasi melalui telepon pada Rabu (7/10). Dalam percakapan itu, Putin menyatakan kesiapannya menjadi penengah untuk membantu mengakhiri perang di Timur Tengah, menurut kantor berita pemerintah Iran, IRNA.

Rangkaian pertemuan dan komunikasi tersebut berlangsung di tengah kebuntuan perundingan antara Iran dan AS. Pezeshkian bahkan mengatakan pada pekan ini bahwa perundingan dengan Washington "tidak ada gunanya".

Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Ukraina juga belum menunjukkan kemajuan. Di tengah kebuntuan tersebut, Rusia dan Ukraina justru meningkatkan serangan.

"Kami terus berdialog, tetapi setiap kali kami berunding dengan AS, mereka kembali menyerang," kata Pezeshkian dalam pertemuannya dengan Putin, seperti dikutip media pemerintah Iran.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan kembali menyerang Iran sebelum pemilu sela AS pada 3 November. Pada Kamis, Trump mengatakan bahwa Washington tengah melakukan "pembicaraan yang produktif" dengan Iran.

Pezeshkian mengatakan Teheran menginginkan "kerangka kesepakatan akhir" untuk mengakhiri perang.

Namun, ia menuduh AS berusaha "memaksakan kebijakan dan pandangannya kepada semua negara".

"Jika AS terus bersikeras mengambil langkah sepihak, penyelesaian tidak akan tercapai," ungkap Pezeshkian, menurut media pemerintah Iran.

Pengaruh Rusia di Negara-Negara Bekas Uni Soviet

Putin dan Pezeshkian dijadwalkan menghadiri KTT CIS bersama para pemimpin Armenia, Azerbaijan, Belarus, Turkmenistan, dan sejumlah negara Asia Tengah lainnya.

CIS merupakan organisasi yang awalnya dibentuk untuk menghimpun negara-negara bekas Uni Soviet.

Menurut penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, pertemuan Putin dan Pezeshkian menjadi salah satu dari sejumlah pertemuan bilateral yang dijadwalkan berlangsung di sela-sela KTT tersebut.

CIS didirikan pada 1991 untuk mengurangi dampak keruntuhan Uni Soviet sekaligus menjaga hubungan di antara negara-negara bekas anggotanya.

Namun, sejumlah negara kemudian meninggalkan organisasi tersebut. Georgia keluar setelah berperang dengan Rusia pada 2008, sedangkan Ukraina menghentikan keikutsertaannya setelah Rusia mencaplok Crimea pada 2014.

Moldova juga keluar pada 2023 seiring upayanya mempererat hubungan dengan Uni Eropa.

Bagi Rusia, yang semakin terisolasi sejak melancarkan perang di Ukraina pada 2022, keberadaan CIS menjadi bukti bahwa Moskow masih memiliki pengaruh di kawasan bekas Uni Soviet.

Peneliti Carnegie Russia Eurasia Center di Berlin, Temur Umarov, mengatakan kepada AFP bahwa CIS menunjukkan Rusia "memang masih memiliki negara-negara yang berada dalam lingkup pengaruhnya, serta kawasan pengaruh yang diperkuat melalui lembaga resmi".

Meski demikian, KTT pada Jumat juga berlangsung ketika sejumlah anggota CIS berupaya memperluas hubungan ekonomi dan diplomatik dengan negara lain, terutama China dan negara-negara Barat.

Peneliti geopolitik Asia Tengah yang berbasis di Kazakhstan, Zhanibek Arynov, mengatakan bahwa negara-negara anggota CIS belum tentu mengikuti sikap politik Rusia.

"Sekalipun Rusia memutuskan menggunakan forum ini untuk menyuarakan sikap anti-Barat atau anti-Ukraina, bukan berarti anggota lainnya akan otomatis mendukung pandangan tersebut," kata Arynov kepada AFP.