Kemlu AS: Lebih dari 2.000 Warga AS telah Kembali dari Israel

Kemlu AS mencatat, sejak operasi militer Iran dimulai pada 28 Februari, lebih dari 70.000 orang dilaporkan telah meninggalkan Timur Tengah.

Diterbitkan 21 Maret 2026, 08:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Lebih dari 2.000 warga negara Amerika Serikat telah berhasil dipulangkan dari Israel dalam beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Proses evakuasi dilakukan melalui kerja sama antara Departemen Luar Negeri AS dan maskapai nasional Israel, El Al Airlines.

Dalam pernyataan resminya pada Kamis (19/3/2026), Departemen Luar Negeri AS menyebut pihaknya mengatur penerbangan langsung dari Tel Aviv ke berbagai kota di Amerika Serikat yang dikhususkan bagi warga AS. Program ini berlangsung antara 16 hingga 19 Maret.

“Penerbangan tanpa henti ini memungkinkan lebih dari 2.000 warga Amerika kembali ke tanah air dari Israel,” demikian keterangan resmi tersebut, dikutip dari Antara News, Sabtu (21/3).

Untuk mempercepat proses evakuasi, tiket penerbangan dijual dengan harga khusus agar dapat dijangkau oleh seluruh warga yang ingin meninggalkan wilayah konflik. Selain penerbangan khusus, El Al juga tetap menyediakan sebagian kursi di penerbangan komersial reguler menuju Amerika Serikat bagi warga AS.

Maskapai tersebut dijadwalkan mengoperasikan sedikitnya 28 penerbangan ke Amerika Utara dalam sepekan ke depan, bergantung pada izin dari otoritas Israel.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya lebih luas Washington dalam mengevakuasi warganya dari kawasan yang terdampak konflik. Sejak operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, lebih dari 70.000 warga AS dilaporkan telah meninggalkan Timur Tengah.

Departemen Luar Negeri juga mencatat lebih dari 60 penerbangan evakuasi telah dioperasikan selama periode tersebut.

Konflik meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan itu memicu kerusakan luas serta korban jiwa di kalangan sipil. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di berbagai titik di Timur Tengah.

Situasi keamanan yang belum stabil mendorong sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, untuk mempercepat evakuasi warga sipil dari wilayah terdampak konflik.