Filsuf Dunia Jurgen Habermas Meninggal Dunia di Usia 96 Tahun

Pemikir yang dikenal luas melalui gagasan tentang komunikasi, rasionalitas, dan teori sosial itu mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu di Starnberg, dekat M

Diterbitkan 14 Maret 2026, 23:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Filsuf terkemuka dunia, Jürgen Habermas, meninggal dunia pada usia 96 tahun. Pemikir yang dikenal luas melalui gagasan tentang komunikasi, rasionalitas, dan teori sosial itu mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu di Starnberg, dekat Munich, Jerman.

Kabar duka tersebut disampaikan oleh penerbitnya, Suhrkamp. Selama puluhan tahun, Habermas dikenal sebagai salah satu intelektual paling berpengaruh di Jerman sekaligus figur penting dalam perdebatan filsafat dan politik modern.

Habermas menulis banyak karya yang melintasi batas disiplin akademik, mulai dari filsafat hingga sosiologi. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah buku dua jilid The Theory of Communicative Action yang menawarkan gagasan tentang bagaimana komunikasi rasional dapat membentuk masyarakat yang demokratis.

Pengalaman masa mudanya di bawah rezim Nazi turut memengaruhi jalan hidupnya. Habermas berusia 15 tahun ketika Defeat of Nazi Germany menandai berakhirnya Perang Dunia II di Eropa.

Dia kemudian mengenang momen itu sebagai titik balik ketika masyarakat Jerman mulai menyadari besarnya kejahatan rezim Nazi.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi salah satu alasan dia mendalami filsafat dan teori sosial. Dia pernah mengatakan bahwa saat itu masyarakat Jerman tiba-tiba menyadari telah hidup di dalam “sebuah sistem yang secara politik bersifat kriminal.”

Dalam perjalanan intelektualnya, Habermas juga aktif terlibat dalam berbagai perdebatan politik dan sosial. Dia memiliki hubungan yang kompleks dengan gerakan mahasiswa sayap kiri pada akhir 1960-an.

Meski berdialog dengan gerakan tersebut, dia sempat memperingatkan bahaya yang disebutnya sebagai “fasisme sayap kiri.” Namun kemudian dia mengakui bahwa gerakan mahasiswa turut mendorong liberalisasi besar dalam masyarakat Jerman.

Kerap Kritik Politik Jerman

Dilansir dari APNews, Sabtu (14/3/2026), pada dekade 1980-an, Habermas menjadi tokoh penting dalam perdebatan akademik yang dikenal sebagai Historikerstreit. Dalam polemik itu, dia menentang pandangan sejumlah sejarawan yang mencoba membandingkan kejahatan rezim Adolf Hitler dengan kekejaman rezim lain seperti pemerintahan Joseph Stalin. Habermas menilai perbandingan tersebut berpotensi mereduksi besarnya kejahatan Nazi.

Habermas juga kerap menyuarakan pandangan politiknya. Dia pernah mendukung Kanselir Jerman dari kubu kiri-tengah, Gerhard Schröder, pada 1998. Di sisi lain, dia beberapa kali mengkritik kepemimpinan penerusnya, Angela Merkel, yang dinilainya terlalu teknokratis dan kurang memiliki visi politik.

Dalam isu Eropa, Habermas juga menyoroti minimnya perhatian elite politik Jerman terhadap pembangunan Uni Eropa yang lebih kuat secara politik. Dia bahkan memuji Presiden Prancis Emmanuel Macron atas gagasan reformasi Eropa yang disampaikannya setelah terpilih pada 2017.

Habermas lahir pada 18 Juni 1929 di Düsseldorf dan tumbuh di kota Gummersbach. Saat kecil, dia mengalami kondisi celah langit-langit mulut (cleft palate) yang membuatnya harus menjalani sejumlah operasi. Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi pemikirannya tentang pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia.

Dia pernah mengatakan bahwa bahasa lisan merupakan “lapisan kebersamaan yang tanpanya manusia tidak dapat hidup sebagai individu.” Namun dia juga menilai tulisan memiliki keunggulan karena dapat menyembunyikan kekurangan dalam komunikasi lisan.

Habermas meninggalkan tiga anak: Tilmann, Judith, dan Rebekka yang meninggal pada 2023. Istrinya, Ute Habermas-Wesselhoeft, juga wafat pada tahun lalu. Warisan pemikiran Habermas hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam diskusi tentang demokrasi, komunikasi publik, dan masyarakat modern.