Perbatasan Iran dan Turki Jadi Jalur Keluar, Eksodus Massal Belum Terjadi

Berikut kisah warga Iran yang memutuskan mengungsi hingga mereka yang

Diterbitkan 09 Maret 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Perlintasan darat di dekat Provinsi Van di wilayah timur Turki menjadi salah satu jalur utama yang masih menghubungkan warga Iran dengan dunia luar. Jalur ini menjadi penting setelah wilayah udara Iran ditutup sejak lebih dari sepekan lalu menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Teheran yang memicu perang di Timur Tengah.

Di gerbang perbatasan Kapikoy dalam beberapa hari terakhir, sebagian besar pelintas adalah warga Iran yang memiliki hubungan dengan Turki melalui pekerjaan, keluarga, atau teman. Banyak dari mereka mempercepat kunjungan yang sebelumnya telah direncanakan karena situasi perang.

Sebagian pelintas lainnya memiliki izin tinggal atau kewarganegaraan di negara ketiga dan menjadikan Turki sebagai tempat transit sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.

Namun, hanya sedikit warga Iran yang mengaku bahwa mereka berencana tinggal di Turki untuk jangka waktu yang tidak ditentukan demi menghindari perang.

Reza Gol, seorang dokter bedah plastik berusia 38 tahun, mengatakan perang bukan satu-satunya alasan perjalanannya. Ia melakukan perjalanan dari Urmia di Iran barat menuju Istanbul untuk menemui para pasiennya. Gol sebelumnya pernah tinggal di kota tersebut.

"Belum jelas apakah kami akan meninggalkan Iran untuk selamanya, tetapi setidaknya untuk sementara saya bisa menjernihkan pikiran," ujarnya kepada Associated Press. "Anda bisa melihat perbatasan tidak terlalu ramai. Semua orang tetap berada di rumah mereka. Untuk saat ini, orang-orang tidak meninggalkan semua yang mereka miliki dan melarikan diri."

Sementara itu, Pooneh Asghari dan suaminya, warga negara ganda Iran–Kanada, sedang bersiap untuk terbang kembali ke Kanada meskipun dengan berat hati. Mereka sebenarnya tidak lagi memiliki rumah di Kanada dan keduanya bekerja di Iran. Asghari mengatakan mereka berharap perjalanan ini hanya berlangsung singkat.

"Kami telah tinggal di Iran selama lebih dari lima tahun terakhir," katanya. "Seluruh kehidupan kami ada di sana."

Seorang perempuan bernama Fariba, yang hanya ingin disebut dengan nama depannya karena alasan keamanan, mengatakan ia menuju İzmir di Turki barat bersama putranya untuk menunggu hingga perang mereda.

Ia menuturkan sebagian besar teman dan tetangganya tidak memiliki kemampuan finansial untuk melarikan diri, yang mungkin menjelaskan mengapa tidak terjadi eksodus besar di perbatasan.

"Orang-orang sekarang sangat miskin," tutur Fariba. "Jadi, mereka tetap di rumah dan merasa takut."

Pembatasan Perbatasan dan Pembatalan Penerbangan

Warga Iran biasanya dapat memasuki Turki tanpa visa. Namun pada Senin (2/3), Menteri Perdagangan Turki mengumumkan penangguhan sementara perjalanan lintas batas untuk kunjungan singkat satu hari. Di sisi lain, menurut para pelancong dan laporan media setempat, pejabat perbatasan Iran membatasi sebagian warganya untuk melintas.

Meski demikian, sejak Kamis (5/3) pagi, warga Iran maupun warga negara dari negara lain kembali dapat melintasi gerbang perbatasan Kapikoy yang dikelilingi pegunungan tersebut secara normal.

Menteri Dalam Negeri Turki Mustafa Ciftci pada Rabu (4/3) menuturkan terdapat 2.032 pelancong yang masuk ke Turki dari Iran, sementara 1.966 orang kembali dari Turki ke Iran. Data terbaru setelah itu belum tersedia.

Sebagian besar pelintas kemudian menuju Bandara Van untuk melanjutkan perjalanan mereka. Pada Jumat (6/3) malam, sekitar 20 penumpang, sebagian besar warga Iran, terlihat berbaring di kursi-kursi bandara sambil menunggu penerbangan pada keesokan harinya.

Mehregan, seorang mahasiswa berusia 26 tahun yang belajar di China, sedang mengunjungi keluarganya di Ahvaz selama liburan musim dingin ketika perang pecah. Ia menempuh perjalanan darat lebih dari 15 jam melintasi Iran untuk mencapai perbatasan Turki.

Ia meminta agar nama lengkapnya tidak disebutkan karena khawatir berbicara kepada media dapat menimbulkan masalah dengan otoritas Iran.

Mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan itu memutuskan tidur di bandara sambil menunggu penerbangan ke Istanbul keesokan harinya, dari mana ia akan melanjutkan penerbangan ke China. Namun pada Sabtu (7/3), penerbangannya dibatalkan akibat badai salju sehingga ia bersiap mencari hotel di kota tersebut daripada tidur di bandara untuk malam kedua.

"Jika saya tidak bisa naik pesawat dari sini besok, saya akan kehilangan penerbangan ke China," katanya, seraya menambahkan bahwa tiket tersebut tidak dapat dikembalikan.

Dampak terhadap Kota Van

Kota Van, yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari perbatasan, sejak lama menjadi tujuan populer bagi warga Iran untuk bekerja, berwisata, dan berdagang. Biasanya hotel dan toko di kota ini dipadati pengunjung selama libur Nowruz di Iran pada pertengahan Maret.

Namun tahun ini para pelaku usaha memperkirakan jumlah pengunjung akan menurun.

"Biasanya suasana di sini sangat ramai saat Nowruz. Banyak teman kami datang dan menghabiskan liburan bersama kami," kata pemilik dua hotel di Van Resat Yesilagac. "Sekarang sebagian besar sepi, kecuali orang-orang yang datang karena perang. Kebanyakan dari mereka memiliki kewarganegaraan ganda dan hanya berhenti di Van satu atau dua hari sebelum terbang keluar."

Kekhawatiran tentang Migrasi di Turki 

Isu migrasi merupakan topik sensitif di Turki, yang sebelumnya pernah menampung hampir 4 juta pengungsi Suriah.

Pemerintah Turki juga terus memperkuat pertahanan di perbatasannya untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya gelombang pengungsi akibat ketidakstabilan di Iran. Langkah ini dilakukan setelah protes besar anti-pemerintah di Iran pada Januari lalu berujung pada penindakan keras.

Pada Januari, Kementerian Pertahanan Turki menyatakan bahwa keamanan di perbatasan dengan Iran diperkuat dengan membangun 380 kilometer tembok beton serta ratusan menara pengawas di sepanjang perbatasan kedua negara yang panjangnya sekitar 560 kilometer.

Pada Rabu, menteri dalam negeri Turki mengatakan pihaknya telah menyiapkan rencana darurat yang mencakup pembangunan kamp tenda dan zona penyangga untuk menghadapi kemungkinan gelombang warga Iran yang melarikan diri dari perang. Namun hingga saat ini gelombang tersebut belum terjadi.

Harrison Mirtar, seorang warga Iran–Kanada berusia 53 tahun, melintasi perbatasan Kapikoy sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Kanada setelah mengunjungi orang tuanya di Teheran. Ia mengaku marah atas campur tangan asing di negaranya, tetapi tidak terlalu khawatir meninggalkan orang tuanya di Iran.

Menurutnya, kedua orang tuanya telah melewati masa perang Iran–Irak yang brutal pada 1980-an.

"Mereka berada di tanah air mereka sendiri," katanya. "Kehidupan tetap berjalan, hanya saja sekarang ada bom."

Â