Krisis Kemanusiaan Sudan: Warga di 2 Wilayah Alami Kelaparan Akut

Apa penyebab krisis kemanusiaan di Sudan?

Diterbitkan 06 Februari 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Khartoum - Krisis kemanusiaan di Sudan kian memburuk. Lembaga pemantau kelaparan global yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa kekurangan gizi akut telah mencapai ambang kelaparan di dua wilayah tambahan di Darfur Utara, yakni Um Baru dan Kernoi.

Kondisi ini terjadi di tengah perang saudara berkepanjangan yang telah memicu pengungsian massal dan gelombang kekerasan bernuansa etnis, dikutip dari laman Japan Today, Jumat (6/2/2026).

Dalam laporan terbarunya yang dirilis Kamis (5/2), Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (Integrated Food Security Phase Classification/IPC) menyatakan bahwa tingkat kekurangan gizi akut pada anak-anak di bawah usia lima tahun di Um Baru hampir dua kali lipat dari ambang batas kelaparan. Situasi serupa juga ditemukan di wilayah Kernoi.

Meski peringatan tersebut belum merupakan deklarasi kelaparan secara formal, IPC menegaskan bahwa data terbaru menunjukkan tingkat kelaparan yang sangat mengkhawatirkan dan membutuhkan respons segera.

Kedua wilayah tersebut berada dekat perbatasan Chad dan menjadi tujuan ribuan warga yang melarikan diri dari distrik al-Fashir pada akhir tahun lalu. Al-Fashir sebelumnya telah ditetapkan sebagai wilayah yang dilanda kelaparan sebelum akhirnya jatuh ke tangan Pasukan Pendukung Cepat (Rapid Support Forces/RSF). Upaya RSF untuk mengonsolidasikan kendali kemudian memicu bentrokan lanjutan di Kernoi dan Um Baru.

Perang saudara antara RSF dan militer Sudan yang meletus hampir tiga tahun lalu telah menyebabkan krisis pangan meluas di berbagai wilayah negara itu. Pada November lalu, IPC untuk pertama kalinya mengonfirmasi kondisi kelaparan di al-Fashir dan Kadugli. Di Kadugli, militer Sudan pada Selasa menyatakan berhasil mematahkan pengepungan kota yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Secara nasional, jumlah kasus kekurangan gizi akut terus meningkat. IPC memperkirakan hampir 4,2 juta kasus terjadi tahun ini, naik dari sekitar 3,7 juta kasus pada 2025.

 

Akses Terbatas dan Krisis Pendanaan

IPC menyoroti bahwa terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan yang menyelamatkan jiwa di Darfur Utara telah memperparah situasi. Di Kernoi, hanya sekitar 25 persen anak-anak yang menderita Malnutrisi Akut Parah tercatat menerima perawatan. Sementara itu, di wilayah Kordofan Raya, konflik bersenjata telah mengganggu produksi pangan serta jalur distribusi bahan makanan.

Keterbatasan respons kemanusiaan juga diperburuk oleh krisis pendanaan global. CARE International, salah satu lembaga bantuan utama yang beroperasi di Sudan, menyatakan bahwa pemotongan dana donor telah membatasi kemampuan mereka untuk menjangkau kelompok paling rentan.

“Kelaparan benar-benar telah mengakar di beberapa wilayah tempat kami bekerja,” kata Penasihat Advokasi Kemanusiaan CARE, Elizabeth Courtney.

Menurut Courtney, tambahan pendanaan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pasokan pangan menjelang musim hujan dan musim paceklik, ketika stok makanan dari panen sebelumnya menipis atau telah habis sepenuhnya. Tanpa dukungan segera, jutaan warga Sudan berisiko menghadapi kondisi kelaparan yang lebih parah dalam beberapa bulan ke depan.