Polisi Australia Temukan 6 Senjata Api di Rumah Pelaku Penembakan Pantai Bondi

Polisi Australia mengungkapkan bahwa pelaku memiliki senjata api secara ilegal.

Diperbarui 15 Desember 2025, 13:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Canberra - Polisi Australia menemukan sedikitnya enam senjata api di rumah pelaku penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, yang menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai puluhan lainnya.

Seluruh senjata tersebut diketahui dimiliki secara legal oleh pelaku, meski Australia menerapkan regulasi senjata api yang sangat ketat, dikutip dari laman New York Post, Senin (15/12/2025).

Otoritas setempat mengungkapkan, dua pelaku bersenjata yang melepaskan tembakan saat ribuan warga Yahudi merayakan Hanukkah diyakini merupakan ayah dan anak. Keduanya masing-masing bernama Naveed Akram (24) dan seorang pria berusia sekitar 50 tahun.

“Penyelidikan awal menunjukkan keduanya memiliki hubungan keluarga, diduga ayah dan anak,” ujar pejabat kepolisian setempat, Senin.

Dalam insiden tersebut, sang ayah tewas di lokasi kejadian setelah terlibat baku tembak dengan polisi. Sementara Akram dilarikan ke rumah sakit dengan luka tembak serius akibat tindakan aparat keamanan.

Polisi menyebutkan, kedua pelaku diduga bertanggung jawab atas kematian sedikitnya 15 orang, dengan rentang usia korban antara 10 hingga 87 tahun. Sebagian besar korban diyakini berasal dari komunitas Yahudi yang tengah merayakan hari pertama Hanukkah di pantai populer tersebut.

Hasil penggeledahan menunjukkan, pelaku memiliki sedikitnya enam senjata api yang seluruhnya terdaftar dan mengantongi izin resmi. Senjata yang digunakan dalam serangan tersebut diduga mencakup senapan dan senapan laras panjang.

Penembakan ini terjadi meskipun Australia telah memperketat undang-undang kepemilikan senjata api sejak tragedi Port Arthur pada 1996. Dalam kebijakan tersebut, senapan semi-otomatis dilarang, serta diterapkan pembatasan ketat dalam pendaftaran dan pembelian seluruh jenis senjata api.

 

Insiden Penembakan di Australia Pernah Terjadi di Port Arthur

Serangan di Bondi menjadi penembakan massal paling mematikan di Australia sejak tragedi Port Arthur, yang menewaskan 35 orang dan melukai 24 lainnya.

Insiden berdarah itu terjadi pada Minggu malam waktu setempat di Pantai Bondi, salah satu destinasi wisata paling ramai di Sydney. Sekitar 1.000 orang dilaporkan berkumpul di lokasi untuk mengikuti perayaan keagamaan.

Saksi mata melaporkan suasana berubah menjadi kacau ketika suara tembakan terdengar disertai teriakan panik. Orang-orang berlarian mencari perlindungan saat pelaku terus melepaskan tembakan selama sekitar 10 menit.

Aksi penembakan akhirnya terhenti setelah seorang pedagang buah setempat, Ahmed al-Ahmed (43), berhasil mendekati Akram dan menjatuhkannya ke tanah sebelum polisi mengamankan situasi.

Selain anak-anak, sejumlah korban diketahui merupakan tokoh agama, termasuk seorang rabi, serta seorang penyintas Holocaust. Hingga kini, hampir 40 orang dilaporkan mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.

Pihak berwenang menyatakan penyelidikan masih berlangsung, termasuk untuk mengungkap motif serangan dan memastikan tidak ada ancaman lanjutan terhadap publik.