Pohon Natal di Betlehem Kembali Menyala untuk Pertama Kalinya Sejak Perang Gaza

Selama dua tahun terakhir, Betlehem merayakan Natal dengan suasana yang lebih muram dan tanpa perayaan publik berskala besar.

Diterbitkan 08 Desember 2025, 11:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Ramallah - Keceriaan Natal kembali hadir di Betlehem—tempat kelahiran Yesus Kristus—pada 6 Desember 2025, ketika sebuah pohon Natal dinyalakan untuk pertama kalinya sejak perang di Gaza dimulai lebih dari dua tahun lalu. Berada di Tepi Barat yang diduduki, kota itu kembali dimeriahkan oleh simbol-simbol Natal yang telah lama absen.

Pohon Natal yang berdiri hanya beberapa meter dari Gereja Kelahiran di Alun-Alun Palungan itu tampak mencolok dengan hiasan bola merah dan emas. Upacara penyalaan pohon Natal digelar selama dua jam dan para pengunjung tidak dapat membendung antusiasme mereka ketika lampu kuningnya mulai berkelap-kelip dan bintang merah terang di puncaknya bersinar. Sorak-sorai menggema di bawah langit malam yang mendung dan diterangi bulan hampir purnama yang berpendar.

Perayaan ini menjadi acara besar pertama sejak perang pecah di Gaza setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Banyak yang melihatnya sebagai tanda kekuatan dan harapan.

"Ini seperti simbol ketangguhan," ujar Abeer Shtaya (27), staf Universitas Sains dan Teknologi Al-Zaytoonah di Salfit, yang menempuh perjalanan 100 km bersama sejumlah mahasiswa untuk merayakan dan mendukung warga Betlehem.

Di alun-alun, Mike Shahen (43), pemilik toko keramik, juga merasakan semangat yang sama. Setelah beberapa pengunjung mampir berbelanja, ia mengatakan, "Ini pesan bagi dunia bahwa keadaan tenang."

Ribuan orang hadir dalam upacara ini, baik umat Kristen maupun muslim, termasuk mereka yang datang dari berbagai wilayah Palestina, Israel, bahkan dari luar kawasan. Para biarawati terlihat menonton dari atap, sementara keluarga-keluarga—termasuk anak-anak kecil—memadati balkon untuk menyaksikan pohon dinyalakan.

Bagi sebagian orang, momen ini terasa sangat emosional.

"Acara ini tidak berlangsung selama dua tahun terakhir karena perang dan rasanya menyentuh setelah begitu banyak kematian," ungkap Lu Liyu (50), yang datang dari Israel utara, dekat perbatasan Lebanon.

Ia berasal dari Tiongkok, tetapi telah menetap di Israel selama puluhan tahun. Ia datang bersama sekelompok orang, termasuk Gary Lau, pebisnis yang tengah tinggal di Yerusalem.

"Berada di sini, dengan perayaan ini, sangat menyenangkan dan istimewa," kata Lau (51).

 

Lebih buruk daripada COVID-19

Peziarah Kristen perlahan mulai kembali dalam beberapa bulan terakhir, terutama mereka yang berasal dari Asia, Amerika Selatan, dan Eropa Timur. Menurut Fabien Safar, pemandu sekaligus direktur Terra Dei—lembaga yang menyelenggarakan ziarah ke Tanah Suci—sudah ada beberapa kelompok kecil yang berencana datang untuk Natal 2025, bahkan sebagian telah memesan perjalanan untuk tahun 2026. Ia memperkirakan pemulihan pariwisata yang sebenarnya baru akan terjadi pada 2027, meskipun semuanya sangat bergantung pada bagaimana situasi berkembang di Gaza dan Lebanon.

Situasi keamanan memang masih mengkhawatirkan. Meski gencatan senjata pada November 2024 seharusnya mengakhiri lebih dari setahun konflik antara Israel dan kelompok militan Hizbullah, Israel tetap melancarkan serangan ke Lebanon.

Safar menjelaskan bahwa para peziarah masih takut karena tidak ada akhir resmi atas perang di Gaza dan kekhawatiran mengenai kondisi di Lebanon semakin memperburuk situasi.

Kondisi ini memberi dampak besar bagi Betlehem, yang baru saja menyambut kembali wisatawan pada 2022 setelah pandemi COVID-19, sebelum perang Gaza kembali memukul sektor pariwisatanya. Padahal, perekonomian kota tersebut bergantung hampir sepenuhnya pada kunjungan wisatawan.

"Covid itu buruk, tetapi tidak ada apa-apanya dibanding dua tahun terakhir," tutur Shahen.

Namun perang bukan satu-satunya penyebab sulitnya kondisi di Betlehem. Sejak serangan Hamas pada 2023, perjalanan di Tepi Barat menjadi jauh lebih sulit karena antrean panjang di pos-pos pemeriksaan militer Israel. Selain itu, tingkat kekerasan di wilayah yang telah diduduki Israel sejak 1967 itu meningkat sejak perang Gaza pecah dan belum mereda meskipun ada gencatan senjata rapuh antara Israel dan Hamas yang dimulai Oktober ini.