Masyarakat Adat Serbu KTT Iklim COP30 di Brasil, Bentrok dengan Petugas Keamanan

Apa tuntutan mereka? Simak informasi selengkapnya berikut ini.

Diterbitkan 12 November 2025, 18:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Brasilia - Puluhan pengunjuk rasa dari masyarakat adat yang membawa tongkat kayu menerobos perimeter keamanan dan sempat menyerbu lokasi Konferensi Tahunan Ke-30 Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (COP30) di Belem, Brasil. Insiden itu memicu bentrokan dengan petugas keamanan pada Selasa (11/11/2025) malam waktu setempat, saat para delegasi internasional tengah bersiap meninggalkan area Parque da Cidade.

Para demonstran menyuarakan tuntutan utama mereka terkait hak atas tanah, keadilan ekonomi, dan penolakan terhadap upaya memperluas kegiatan produksi, eksplorasi, dan penggunaan sumber energi berbasis fosil. Mereka membawa bendera dan poster bertuliskan slogan seperti "Tanah kami bukan untuk dijual" dan "Kami tidak bisa makan uang... Kami ingin tanah kami bebas dari agribisnis, eksplorasi minyak, penambang ilegal, dan penebang liar".

Kelompok tersebut juga meneriakkan tuntutan agar para miliarder dikenai pajak atas peran mereka dalam menyebabkan "panas" yang memperburuk krisis iklim.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, yang menjadi tuan rumah COP30, juga menjadi sasaran seruan keras terkait eksplorasi minyak di muara Sungai Amazon.

"Pemerintah Lula, malulah, kalian menghancurkan iklim dengan pengeboran ini," teriak para pengunjuk rasa seperti dikutip dari kantor berita Anadolu.

Tim keamanan PBB akhirnya berhasil mengusir para demonstran dari area konferensi. Sebelumnya, sempat terjadi baku hantam di dekat pintu masuk, sehingga petugas keamanan dengan cepat memblokade akses menggunakan meja-meja setelah situasi memanas.

Menurut laporan media lokal, setidaknya dua petugas keamanan terluka dalam bentrokan tersebut. Seorang penjaga mengalami luka di dahi setelah terkena pukulan dari drum atau stik drum, sementara seorang lainnya dilaporkan terkena pukulan di kepala. Aparat keamanan juga menyita beberapa tongkat kayu yang dibawa oleh para pengunjuk rasa.

Wilayah Amazon, tempat kota Belem berada, merupakan salah satu kawasan yang paling merasakan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Pada tahun 2024, kawasan ini dilanda kekeringan historis yang diperparah oleh banyaknya kebakaran hutan, menjadikannya simbol nyata dari krisis iklim yang dibahas dalam konferensi COP30.