Fakta Komando Merah: Geng Narkoba Mematikan Brasil, Dibuat di Penjara Kuali Neraka oleh 'Professor'

Komando Merah dibentuk di Penjara yang berisi para kriminal dan tahanan politik pada tahun 1970-an. Geng ini awalnya fokus pada pelarian tahanan. Akhirnya berubah menjadi geng narkoba terbesar kedua di Brasil. Geng ini juga melakukan jual beli senjata.

Diterbitkan 30 Oktober 2025, 11:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kepolisian Rio de Janeiro Brasil melakukan operasi besar-besaran terhadap geng narkoba Comando Vermelho atau Komando Merah. Data terbaru pada Kamis (30/10/2025), korban tewas akibat baku tembak antara polisi dan geng narkoba terbesar di Rio de Janeiro bertambah menjadi 128 orang.

Dikuti dari CNN, Comando Vermelho atau Komando Merah dianggap sebagai geng kriminal terbesar di Rio de Janeiro. Geng ini telah berdiri selama 54 tahun. Awalnya, geng ini berdiri dengan tujuan memerangi penyiksaan dan penganiayaan yang dialami narapidana di penjara. 

Komando Merah dibentuk di Lembaga Pemasyarakatan Cândido Mendes, di Ilha Grande. Penjara yang berisi para kriminal dan tahanan politik pada tahun 1970-an. Awalnya geng ini dikenal dengan nama Red Phalanx.

Geng ini dibentuk oleh William da Silva Lima. Seorang penjahat yang dikenal dengan julukan ‘Profesor’. Pria ini menghabiskan lebih dari 30 tahun di penjara. Dia masuk penjara pada tahun 1971. Dia dijatuhi hukuman hampir 100 tahun penjara atas berbagai macam tindakan kejahatan. Mulai dari perampokan bank, pemerasan, dan penculikan.

Di penjara, ‘Profesor" menjadi perwakilan narapidana lain. Dia bertanggung jawab untuk berkomunikasi secara resmi dengan pihak berwenang.

Dalam buku Sejarah Comando Vermelho, sang penulis yakni Lima, menceritakan semua detail tentang kemunculan faksi tersebut dan keterlibatannya dalam kejahatan.

Dari Penjara Kuali Neraka

Saat itu, kondisi genting terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Cândido Mendes. Penjara yang dikenal dengan istilah "Kuali Neraka" atau "Kuali Setan”. Kondisi saat itu mendorong para tahanan untuk mulai mengorganisir diri guna mengakhiri situasi mereka. Dibentuklah Red Phalanx, Cikal bakal Comando Vermelho alias Komando Merah. 

Pada tahun 1979, para tahanan politik dibebaskan. Anggota "Red Phalanx" mulai mengorganisir diri dengan cara lain. Dua fokus utama kelompok ini adalah pelarian dari penjara dan investasi dalam perdagangan narkoba, terutama kokain.

Antara tahun 1983 dan 1986, geng Komando Merah memperluas operasinya di luar penjara dan mulai mendominasi titik-titik perdagangan narkoba di Rio de Janeiro.

Pada tahun 1985, geng ini menguasai 70 persen titik penjualan narkoba. Di titik inilah perang perebutan wilayah dimulai.

Pemimpin Komando Merah Dibunuh

Salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah kejahatan terjadi pada tahun 1994. Tahun itu dianggap sebagai salah satu pengkhianatan terbesar di dunia kriminal bawah tanah Rio de Janeiro. 

Penjahat yang dikenal sebagai ‘Orlando Jogador’, pemimpin geng Komando Merah di Complexo do Alemão, dibunuh oleh Uê karena masalah yang melibatkan perempuan.

Setelah membunuh Orlando Jogador, Uê mendirikan faksi saingan Komando Merah yakni ADA (Amigo dos Amigos). Selain itu, milisi dan TCP (Terceiro Comando Puro) juga merupakan musuh utama Komando Merah.

Jual Narkoba dan Senjata

Komando Merah bersekutu dan menyusun rencana "non-agresi" dengan PCC (Primeiro Comando da Capital). Mereka berkoalisi untuk berbagi rute perdagangan narkoba. Namun pada pertengahan 2016, kedua geng ini disebut-sebut pecah kongsi. 

Saat ini, Komando Merah dianggap sebagai geng kriminal terbesar di Rio de Janeiro dan terbesar kedua di Brasil. Geng ini memiliki karakteristik dan skema yang mirip mafia. Perdagangan narkoba masih menjadi salah satu area aktivitas utama kelompok kriminal yang berbasis di Rio de Janeiro ini.

Tak hanya narkoba, geng kriminal ini memperluas bisnisnya. Dengan cara juga melakukan jual beli senjata. Mereka tidak hanya menggunakan senjata yang diimpor dari negara lain, tetapi juga memproduksi "alat perang" di Brasil. 

Sebuah studi yang dilakukan Forum Keamanan Publik Brasil pada Februari 2025 mengungkapkan, perdagangan kokain bukan lagi aktivitas yang paling menguntungkan bagi kejahatan terorganisir di Brasil. 

Menurut penelitian "Pelacakan Produk dan Pemberantasan Kejahatan Terorganisir di Brasil," faksi-faksi seperti Primeiro Comando da Capital (PCC) dan Comando Vermelho (CV) menghasilkan R$ 146,8 miliar pada tahun 2022 melalui penjualan bahan bakar, emas, rokok, dan minuman. Omzet keuangan perdagangan kokain selama periode yang sama diperkirakan mencapai R$ 15 miliar.