Cerita Wanita Hamil Kabur dari Zona Perang: Saya Berdoa Agar Bayi dalam Kandungan Tidak Lahir

Kini, wanita tersebut telah tiba di Uganda. Bagaimana kisah perjuangannya melintasi zona perang?

Diterbitkan 28 Agustus 2025, 11:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Khartoum - Pada Mei lalu, Amira menempuh perjalanan berbahaya melintasi salah satu zona perang paling mematikan di Sudan. Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) baru saja merebut kota tempat tinggalnya, En Nahud, di Kordofan Barat.

Pilihan untuk bertahan sudah tak ada lagi. Amira, yang sedang hamil tujuh bulan, merasa satu-satunya jalan hanyalah melarikan diri.

"Tidak ada rumah sakit, tidak ada apotek," ujarnya.

"Saya takut jika tetap tinggal, tidak akan ada lagi kendaraan yang bisa membawa saya pergi. Perjalanan pun nyaris mustahil—sulit dan sangat mahal," dikutip dari laman BBC, Kamis (28/8/2025).

Di Bawah Bayang-bayang RSF

Perang saudara antara militer Sudan dan RSF sudah menghantam warga sipil selama lebih dari dua tahun. Kini, garis depan konflik bergeser ke Kordofan, tepat di jalur pelarian Amira.

BBC tidak menyebutkan nama asli Amira demi melindungi identitasnya. Ia merekam perjalanan tersebut dalam bentuk buku harian audio, yang kemudian dibagikan oleh organisasi kampanye global Avaaz. BBC juga menghubunginya melalui telepon di Kampala, Uganda, tempat ia kini menunggu waktu persalinan.

Sejak awal perjalanan, Amira sudah menghadapi ancaman.

"Semua transportasi dikendalikan RSF," jelasnya.

Ketika ia dan suaminya naik sebuah truk, keributan terjadi antara pemuda yang menyewakan kendaraan itu untuk keluarganya dengan sopir RSF. Ternyata sopir menjual kursi tambahan pada penumpang lain.

"Dia langsung mengeluarkan senjata dan mengancam akan menembak," kata Amira.

"Semua orang ketakutan. Nenek dan ibu si pemuda menangis, memegangi kaki sopir, memohon agar ia tidak menarik pelatuk. Saya sendiri merasa, kalau dia menembak, mungkin lebih dari satu orang akan mati—karena dia mabuk dan menghisap ganja."

Ketegangan itu akhirnya reda. Sopir menyimpan senjatanya, tetapi pemuda itu terpaksa ditinggalkan di En Nahud.

 

Perjalanan yang Melelahkan

Truk yang kelebihan muatan melaju di jalan berlubang, menyeberangi sungai, membawa sekitar 70 hingga 80 orang. Para ibu berusaha menjaga anak-anak mereka tetap aman di tengah guncangan.

"Saya terus berdoa agar bayi ini tidak lahir dalam perjalanan," ujar Amira lirih.

Mereka tiba di el-Fula, ibu kota Kordofan Barat. Namun Amira tak berani lama tinggal di sana karena tentara pemerintah mulai mendekat.

"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika tentara masuk ke el-Fula," katanya dalam catatan audionya. Ia khawatir, karena suaminya berasal dari etnis yang kerap dicurigai memiliki hubungan dengan RSF.

PBB sebelumnya melaporkan adanya dugaan pembunuhan di luar hukum oleh militer Sudan terhadap warga sipil yang dianggap terkait dengan RSF. Militer membantah, menyebutnya sebagai "pelanggaran individual" oleh oknum prajurit.

 

Melintasi Rintangan

Dari el-Fula, perjalanan menuju perbatasan Sudan Selatan memakan waktu tiga hari dengan beberapa kali berganti kendaraan.

"Para sopir RSF seenaknya menentukan siapa yang boleh naik, di mana duduk, dan berapa bayarnya. Tidak ada harga pasti. Mereka bersenjata, dan kekerasan bisa terjadi kapan saja," kata Amira.

Sepanjang jalan, mereka berulang kali dihentikan di pos-pos pemeriksaan RSF dan diminta membayar. Sementara itu, makanan dan air semakin sulit didapat.

Dalam satu perjalanan, ban kendaraan pecah di tengah hutan akasia. Tanpa air, Amira merasa hidupnya benar-benar di ujung tanduk.

"Hari itu saya yakin, ini akhir hidup saya," kenangnya.

"Saya menyerah. Saya hanya berbaring di tanah dengan selimut."

Namun keberuntungan masih berpihak. Ia dan suaminya akhirnya bisa menumpang sebuah truk pengangkut sayuran hingga mencapai Abyei di perbatasan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan ke Juba, ibu kota Sudan Selatan, sebelum akhirnya menyeberang ke Uganda.

 

Menanti Kehidupan Baru

Kini, Amira berada di Kampala, jauh dari medan perang, namun tetap dibayangi rasa cemas.

"Saya takut menghadapi persalinan pertama tanpa ditemani ibu saya," ucapnya. "Hanya ada suami dan teman yang mendampingi. Semuanya terasa kacau dan membebani."

Amira sendiri bukan orang biasa. Ia adalah aktivis perempuan dan pro-demokrasi yang aktif membantu warga sipil selama perang melalui Ruang Tanggap Darurat. Namun keberadaannya sering dipandang curiga oleh militer. Beberapa rekannya bahkan ditangkap.

"Saya takut pada tentara maupun intelijen militer. Mereka menangkap pemuda seenaknya," katanya. "Tapi RSF pun sama buruknya. Mereka menjarah, memperkosa—tidak ada bedanya."

Bagi Amira, tantangan terbesar kini bukan hanya melahirkan di pengasingan, melainkan juga memikirkan masa depan.

"Saya berharap perang berakhir, meski Sudan tak akan pernah sama lagi," ujarnya. "Kalau perang berhenti, setidaknya ada rasa aman. Orang tidak akan mati begitu saja, seperti sekarang."