Reaksi Negara Arab dan Eropa Usai Tentara Israel Bunuh 6 Jurnalis di Gaza

Israel kembali melancarkan serangan membabibuta ke Gaza, Palestina. Serangan tersebut kembali menewaskan enam jurnalis yang sedang bertugas.

Diperbarui 26 Agustus 2025, 10:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Israel kembali melancarkan serangan membabibuta ke Gaza, Palestina. Serangan tersebut kembali menewaskan enam jurnalis yang sedang bertugas. Militer Israel mengebom Rumah Sakit Nasser di Khan Younis pada hari Senin, menewaskan lima jurnalis. Termasuk fotografer Al Jazeera, Mohammad Salama.

Secara total, 21 orang tewas dalam serangan ‘double-tap’ (satu rudal mengenai sasaran pertama, lalu rudal lainnya beberapa saat kemudian), ketika petugas penyelamat dan jurnalis tiba di fasilitas medis utama di Gaza selatan.

Serangan itu terjadi ketika Israel mengintensifkan serangannya untuk merebut Kota Gaza, pusat kota utama di wilayah kantong berpenduduk 2,3 juta jiwa tersebut, meskipun bencana kelaparan telah diumumkan minggu lalu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim serangan itu sebagai 'kecelakaan tragis'. Pasukan Israel menewaskan seorang jurnalis lain dalam insiden terpisah di Khan Younis pada hari Senin, sehingga jumlah jurnalis yang tewas menjadi enam orang.

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (26/8/2025), pembunuhan enam jurnalis Palestina oleh militer Israel, termasuk seorang juru kamera Al Jazeera, di Gaza telah memicu kecaman global. 

Jaringan Media Al Jazeera menuduh Israel "membunuh jurnalis sebagai bagian dari kampanye sistematis untuk membungkam kebenaran".

Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, Al Jazeera menyatakan kecamannya atas "kejahatan mengerikan yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel, yang secara langsung menargetkan dan membunuh para jurnalis sebagai bagian dari kampanye sistematis untuk membungkam kebenaran".

"Darah para jurnalis kami yang gugur di Gaza belum kering sebelum pasukan pendudukan Israel melakukan kejahatan lain terhadap juru kamera Al Jazeera, Mohammad Salama, bersama tiga jurnalis foto lainnya," kata jaringan tersebut, merujuk pada pembunuhan jurnalis Al Jazeera ternama, Anas al-Sharif, yang telah menjadi suara Gaza berkat liputannya yang ekstensif dari wilayah kantong tersebut, hanya dua minggu sebelumnya.

 

Pelanggaran Internasional

Al Jazeera menyebut serangan itu sebagai pelanggaran norma dan hukum internasional, "yang merupakan kejahatan perang".

"Meskipun terus-menerus menjadi sasaran, Al Jazeera tetap teguh dalam menyediakan liputan langsung genosida Israel di Gaza selama 23 bulan terakhir, dengan otoritas pendudukan melarang media internasional masuk untuk melaporkan perang tersebut," tambahnya.

Dewan Menteri Luar Negeri Negara-negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) telah mengadakan pertemuan luar biasa di Jeddah, Arab Saudi, untuk membahas agresi Israel yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina.

OKI mengutuk pembunuhan jurnalis dan profesional media oleh tentara Israel sebagai ‘kejahatan perang’ dan ‘serangan terhadap kebebasan pers’.

Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP)

PFLP, sebuah faksi sayap kiri Palestina yang didirikan pada tahun 1967, mengatakan serangan itu merupakan bukti ‘kebrutalan dan sadisme absolut pendudukan (Israel)’.

PFLP menyatakan, mereka meminta pertanggungjawaban Israel dan sekutunya, seraya menambahkan bahwa para pendukungnya, yang dipimpin oleh pemerintah AS, "bertanggung jawab penuh atas kejahatan terorganisir ini".

PFLP adalah kelompok terbesar kedua di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) setelah Fatah.

Lalu bagaimana rekasi negara Arab dan Eropa?

Negara Dataran Arab

Qatar

Qatar menyatakan bahwa serangan Israel ini merupakan episode baru "dalam rangkaian kejahatan keji yang terus berlanjut yang dilakukan oleh pendudukan terhadap saudara-saudara Palestina dan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional".

Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan, penargetan Israel terhadap jurnalis dan pekerja kemanusiaan membutuhkan "tindakan internasional yang mendesak dan tegas" untuk memberikan perlindungan dan memastikan akuntabilitas.

Kementerian juga menegaskan kembali kebutuhan mendesak akan solidaritas global untuk mengakhiri perang genosida brutal di Jalur Gaza, mengatasi situasi kemanusiaan yang memprihatinkan di wilayah kantong tersebut, dan bergerak maju menuju tercapainya perdamaian yang adil dan berkelanjutan yang menjamin berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat penuh berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Turki

Ankara mengecam serangan tersebut sebagai "kejahatan perang lainnya".

"Kebebasan pers dan nilai-nilai kemanusiaan kembali menjadi sasaran, di bawah bayang-bayang genosida, di tengah jeritan pilu orang-orang tak berdosa," ujar Burhanettin Duran, kepala direktorat komunikasi kepresidenan Turkiye, dalam sebuah unggahan di X.

"Israel, yang terus melakukan kekejaman tanpa memperhatikan prinsip-prinsip kemanusiaan atau hukum apa pun, berada di bawah ilusi bahwa mereka dapat mencegah terungkapnya kebenaran melalui serangan sistematis terhadap jurnalis."

Iran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, serangan tersebut merupakan "kejahatan perang biadab", yang dilakukan oleh Israel untuk memajukan rencananya melakukan "genosida terhadap warga Palestina".

AS dan sekutu Israel lainnya yang telah mempersenjatainya selama perang harus bertanggung jawab kepada komunitas internasional setelah terlibat dalam "kejahatan mengerikan" Israel, kata Esmaeil Baghaei dalam sebuah pernyataan singkat.

Mesir

Kementerian Luar Negeri Mesir juga mengecam keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai "pelanggaran terang-terangan hukum humaniter internasional" lainnya.

"Mesir mengecam keras pendudukan Israel yang secara sengaja menargetkan jurnalis dan pekerja di bidang medis dan kemanusiaan, dan menolak kejahatan genosida yang dilakukannya terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza," katanya, seraya menyerukan kepada masyarakat internasional dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk turun tangan.

Arab Saudi

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam serangan Israel terhadap tenaga medis dan jurnalis.

"Kementerian menekankan penolakan Kerajaan atas pelanggaran Israel yang terus berlanjut terhadap hukum dan norma internasional," katanya.

"Kerajaan mengulangi seruannya kepada masyarakat internasional untuk mengakhiri kejahatan Israel ini dan menekankan perlunya melindungi tenaga medis, bantuan kemanusiaan, dan media."

Israel

Perdana Menteri Netanyahu mengatakan bahwa ia "sangat menyesalkan kecelakaan tragis" di Rumah Sakit Nasser.

Dalam pernyataan dari kantornya yang diunggah di X, Netanyahu mengatakan bahwa Israel "menghargai" pekerjaan jurnalis, staf medis, dan warga sipil.

"Otoritas militer sedang melakukan penyelidikan menyeluruh," tambah pernyataan itu.

Investigasi Israel terhadap tindakan pasukannya jarang mengarah pada tuntutan pidana atau bentuk pertanggungjawaban apa pun.

 

Negara Eropa

Inggris

Menteri Luar Negeri David Lammy menyatakan kengeriannya atas serangan tersebut.

"Mengerikan atas serangan Israel terhadap Rumah Sakit Nasser. Warga sipil, tenaga kesehatan, dan jurnalis harus dilindungi. Kita membutuhkan gencatan senjata segera," tulis Lammy dalam sebuah unggahan di X.

Spanyol

Kementerian Luar Negeri Spanyol mengeluarkan pernyataan yang mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran berat hukum humaniter.

"Pemerintah Spanyol mengutuk serangan Israel terhadap Rumah Sakit Nasser di Gaza, yang mengakibatkan tewasnya empat jurnalis dan warga sipil tak berdosa," kata kementerian tersebut.

"Kami tegaskan kembali bahwa situs-situs yang dilindungi secara khusus tidak dapat ditargetkan. Ini adalah pelanggaran berat dan tidak dapat diterima terhadap hukum humaniter internasional, yang harus diselidiki," katanya.

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya perlindungan khusus bagi jurnalis, dan menegaskan kembali "komitmen penuh" Spanyol terhadap hak akses informasi.

Jerman

Jerman mengatakan "terkejut dengan tewasnya beberapa jurnalis, petugas penyelamat, dan warga sipil lainnya".

"Serangan ini harus diselidiki," kata Kementerian Luar Negeri di X, sekaligus mendesak Israel untuk "mengizinkan akses segera bagi media asing yang independen dan memberikan perlindungan bagi jurnalis yang beroperasi di Gaza".

Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan serangan itu "tidak dapat ditoleransi”.

"Warga sipil dan jurnalis harus dilindungi dalam segala situasi. Media harus dapat menjalankan misinya secara bebas dan independen untuk meliput realitas konflik," ujar Macron dalam sebuah unggahan di X.

"Menciptakan populasi kelaparan adalah kejahatan yang harus segera dihentikan," tambahnya.

Kanada

Kanada mengutuk serangan tersebut dan menyatakan bahwa Israel berkewajiban melindungi warga sipil di zona pertempuran.

"Kanada sangat prihatin dengan serangan militer Israel di Rumah Sakit Nasser di Gaza, yang menewaskan lima jurnalis dan banyak warga sipil, termasuk tim penyelamat dan petugas kesehatan. Serangan semacam itu tidak dapat diterima," kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.

Komite Perlindungan Jurnalis

CPJ menyerukan kepada komunitas internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas “serangan ilegal yang terus-menerus terhadap pers”.

Dalam sebuah pernyataan, direktur regional CPJ, Sara Qudah, mengatakan bahwa pembunuhan jurnalis oleh Israel di wilayah tersebut terus berlanjut sementara "dunia menyaksikan dan gagal bertindak tegas terhadap serangan paling mengerikan yang pernah dihadapi pers dalam sejarah baru-baru ini."

"Pembunuhan ini harus diakhiri sekarang. Para pelaku tidak boleh lagi dibiarkan bertindak tanpa hukuman," kata Qudah.