Ramalan Gempa dan Tsunami Kamchatka dalam Manga Jepang, Tepat Sasaran atau Kebetulan?

Komik manga itu adalah karya dari seniman Jepang bernama Ryo Tatsuki.

Diterbitkan 04 Agustus 2025, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Ketika gempa dan tsunami melanda Kamchatka, Rusia, dan sejumlah negara di Pasifik pada 30 Juli 2025, jutaan pasang mata di seluruh dunia tertuju pada layar ponsel mereka.

Memantau setiap detik perkembangan tsunami dan upaya untuk penyelamatan diri serta evakuasi. Namun, di China, perhatian warganya justru tersedot ke arah yang berbeda.

Banyak orang secara serempak mencari kata kunci yang tidak biasa: "Ramalan Gempa Kamchatka".

Bukan tanpa alasan. Di tengah kepanikan, sebagian orang teringat pada sebuah komik manga Jepang yang terbit empat tahun lalu. Karya seniman Ryo Tatsuki itu, menurut para penggemarnya, telah "meramalkan" gempa dahsyat di bulan Juli 2025.

Manga tersebut -- yang awalnya hanya dikenal di kalangan kecil penggemar -- tiba-tiba menjadi bahan perbincangan viral di seantero Asia.

Sejak awal tahun, prediksi tentang gempa besar di bulan Juli 2025 memicu gelombang kecemasan, membuat ribuan wisatawan membatalkan perjalanan mereka ke Jepang.

Dan ketika tsunami benar-benar terjadi, pencarian tentang "ramalan Tatsuki" langsung meroket di aplikasi video Douyin, mencatat lebih dari 1,1 juta penayangan dalam hitungan jam.

"Apakah prediksi Ryo Tatsuki akhirnya menjadi kenyataan?" tulis salah satu media Hong Kong dalam artikel utamanya, dikutip dari laman CNN, Senin (4/8/2025).

Ketakutan yang membatalkan liburan Andrea Wang, seorang wisatawan China berusia 25 tahun, adalah salah satu dari banyak orang yang memutuskan untuk membatalkan liburannya ke Jepang.

Manga Tatsuki membuatnya khawatir akan keselamatan jiwanya. Meski tsunami yang terjadi tidak menimbulkan kerusakan besar, Wang tetap berkeras untuk tidak menginjakkan kaki ke Jepang selama sisa tahun ini.

Di sisi lain, ada yang mulai bernapas lega. Begitu tanggal 5 Juli -- yang disebut sebagai hari "bencana besar" dalam manga tersebut -- berlalu tanpa insiden, sebagian wisatawan segera memesan tiket ke Jepang.

Namun, rasa was-was tetap menggelayuti banyak orang, apalagi bagi mereka yang pernah menyaksikan kedahsyatan tsunami Tohoku 2011 yang menelan lebih dari 22.000 korban jiwa.

 

Ramalan Tatsuki: Antara Firasat dan Kebetulan?

Ryo Tatsuki dikenal dengan karyanya The Future I Saw, manga yang menggambarkan dirinya mengalami penglihatan di dalam mimpi, beberapa di antaranya dianggap merefleksikan kejadian nyata.

Kisahnya menjadi semakin populer setelah banyak yang percaya ia telah “meramalkan” gempa Tohoku 2011 dalam manga edisi 1999.

Namun, para skeptis menilai prediksi Tatsuki terlalu samar untuk dianggap serius. Tatsuki sendiri, dalam wawancara, meminta agar orang-orang tidak terlalu terpengaruh oleh mimpi-mimpinya. Para ahli seismologi pun berkali-kali mengingatkan bahwa gempa bumi tidak bisa diprediksi secara pasti.

Namun, cerita tentang Tatsuki telanjur menjadi bagian dari imajinasi kolektif, terutama di negara-negara yang hidup di bawah bayang-bayang Cincin Api Pasifik.

Di Jepang, di mana gempa dan tsunami adalah ancaman nyata, wajar jika manga semacam ini mendapat tempat istimewa di benak publik.

 

Wisatawan yang Dilema: Berani Pergi atau Menunggu?

Oscar Chu, seorang pengusaha asal Hong Kong yang biasanya rutin mengunjungi Jepang, sempat ragu untuk pergi musim panas ini. Meski ia tidak sepenuhnya percaya pada “ramalan”, namun peringatan dari Tatsuki dan peramal lain membuatnya menunda perjalanan.

"Saya tidak bisa mengatakan saya 100 persen percaya, tapi saya juga tidak berani mengabaikan sepenuhnya," ujarnya.

Setelah tsunami terjadi dan ternyata dampaknya minim, Oscar akhirnya memesan tiket.

"Anda tidak bisa menghindari hidup selamanya," katanya sambil tertawa getir. Namun, beberapa temannya tetap memilih berhati-hati, menghindari kawasan pantai, dan menunda kunjungan mereka.

 

Di Bawah Ancaman Gempa Seabad

Di luar ramalan manga, Jepang memang hidup dengan kewaspadaan tinggi terhadap potensi gempa bumi besar yang bisa terjadi kapan saja. Pemerintah secara rutin memperingatkan kemungkinan gempa megathrust di Palung Nankai dalam 30 tahun ke depan -- zona subduksi yang pernah memicu gempa besar pada 1944 dan 1946.

Meski prediksi ilmiah tentang waktu gempa masih diperdebatkan, kesiapsiagaan menjadi budaya di Jepang.

Sistem peringatan dini yang canggih terbukti efektif, seperti saat gempa besar mengguncang minggu ini. Peringatan evakuasi segera dikeluarkan untuk lebih dari dua juta warga yang tinggal di kawasan pesisir.

Bagi masyarakat Jepang, bencana bukan soal jika, melainkan kapan. Karena itu, tidak heran jika kisah seperti Tatsuki bisa menjadi simbol kewaspadaan, bahkan jika akhirnya tak terbukti secara ilmiah.

Seorang pengguna media sosial China, di platform Xiaohongshu, menulis: "Apa pun kebenarannya, berkat manga ini, lebih banyak orang kini peduli soal risiko gempa, mempersiapkan perlengkapan darurat, dan belajar menghadapi situasi darurat. Kesadaran semacam ini, pada akhirnya, jauh lebih penting dari sekadar ramalan."