PBB: Badai Pasir dan Debu Kian Parah, 330 Juta Orang Terdampak

Apa yang membuat situasinya memburuk? Berikut penjelasan WMO.

Diterbitkan 13 Juli 2025, 17:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jenewa - Badai pasir dan debu semakin meningkat dalam hal intensitas dan frekuensi, mengancam kesehatan dan mata pencaharian ratusan juta orang di seluruh dunia. Demikian menurut laporan baru yang dirilis Kamis (10/7/2025) oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Airborne Dust Bulletin, laporan tahunan WMO yang memantau tren, penyebab, dan dampak badai debu dan pasir secara global, mengungkapkan bahwa sekitar 330 juta orang di lebih dari 150 negara terdampak oleh bahaya debu di udara ini setiap tahunnya. Meskipun sebagian besar pergerakan debu disebabkan faktor alam, WMO memperingatkan bahwa pengelolaan lahan dan air yang buruk, kekeringan, serta degradasi lingkungan akibat ulah manusia secara signifikan memperburuk intensitas dan frekuensinya.

"Badai pasir dan debu bukan sekadar jendela kotor dan langit berkabut. Ini merugikan kesehatan dan kualitas hidup jutaan orang, serta menyebabkan kerugian jutaan dolar akibat gangguan terhadap transportasi udara dan darat, pertanian, dan produksi energi surya," kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo seperti dilansir kantor berita Anadolu.

Konsentrasi debu tahunan global pada 2024 memang sedikit menurun dibandingkan tahun 2023, namun daerah-daerah seperti Chad – tempat Depresi Bodele berada – mencatat kadar antara 800 hingga 1100 mikrogram per meter kubik udara, jauh melampaui batas normal global. Di belahan bumi selatan, Australia tengah dan pantai barat Afrika Selatan mengalami konsentrasi tertinggi.

Pada 2024, badai debu melanda berbagai wilayah, mulai dari Laut Karibia—tempat debu dari Afrika menyeberang secara transatlantik—hingga China utara. Wilayah ini biasanya mengalami badai debu pada musim semi, namun tahun ini juga menghadapi badai debu pada musim panas, yang tergolong langka dan dipicu oleh perubahan iklim yang menghangat. Sebuah peristiwa badai debu yang terjadi pada musim dingin melumpuhkan aktivitas di Irak, Kuwait, dan Semenanjung Arab.

Kerugian Ekonomi

Setiap tahunnya, menurut WMO, diperkirakan sekitar 2 miliar ton debu – setara dengan 307 Piramida Besar Giza – terangkat ke atmosfer. Lebih dari 80 persen debu ini berasal dari Afrika Utara dan Timur Tengah, serta dapat menempuh jarak ribuan kilometer, bahkan melintasi lautan.

Lembaga ini memperingatkan pula bahwa beban terhadap kesehatan meningkat tajam. Indikator baru yang dikembangkan bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa 3,8 miliar orang – hampir setengah populasi dunia – terpapar debu dalam kadar yang melampaui ambang batas keselamatan WHO antara tahun 2018 dan 2022. Angka ini meningkat dari 2,9 miliar orang (44,5 persen) pada periode 2003–2007.

Dari segi ekonomi, buletin WMO mencatat bahwa dampaknya sangat besar. Di Amerika Serikat saja, menurut sebuah studi di jurnal Nature, debu dan pengikisan tanah oleh angin menyebabkan kerugian sebesar USD 154 miliar pada 2017—empat kali lipat lebih besar dibandingkan pada 1995.

"Buletin ini menunjukkan bagaimana risiko kesehatan dan biaya ekonomi terus meningkat – dan bagaimana investasi dalam sistem peringatan dini, mitigasi, serta pengendalian debu dapat memberikan hasil yang sangat besar," imbuh Saulo.