Sukses

Ikut Tren Viral Chroming Challenge, Remaja Australia Usia 13 Tahun Meninggal

Liputan6.com, Melbourne - Seorang remaja berusia 13 tahun di Melbourne, Australia, meninggal usai melakukan chroming challenge yang viral di media sosial. 

Menurut Royal Children's Hospital Melbourne, chroming adalah praktik menghirup zat beracun seperti cat metalik, hairspray, lem, cairan korek api, lem, bensin, produk pembersih, dan sebagainya untuk mendapat sensasi mabuk.

Kasus yang menimpa Esra Haynes terjadi saat dia sedang menginap di rumah temannya. Dia meninggal setelah menghirup deodorant spray

Dilansir Strait Times, Senin (29/5/2023), Esra mengalami serangan jantung dan harus menjalani perawatan selama delapan hari di rumah sakit. Ketika dokter mengatakan bahwa kerusakan otaknya tidak bisa diperbaiki, keluarganya kemudian memutuskan untuk mematikan mesin yang membantunya bertahan hidup.

Media Australia melaporkan bahwa orang tua Esra, Paul dan Andrea Haynes, serta kakak-kakaknya Imogen, Seth, dan Charlie "memeluknya sampai akhir".

Pihak keluarga kemudian menyerukan lebih banyak tindakan untuk mencegah kematian seperti yang dialami Esra.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini

2 dari 2 halaman

Bukan Kasus Pertama

Ini bukan pertama kalinya remaja Australia meninggal setelah mencoba chroming challenge.

Sejak tahun 2019, dua anak laki-laki berusia 16 tahun meninggal akibat mengikuti tren tersebut. Sementara seorang gadis remaja menderita kerusakan otak.

Setelah kematian Esra, Departemen Pendidikan Victoria mengatakan sedang meningkatkan upayanya untuk memberikan lebih banyak informasi kepada anak-anak tentang chroming dan efek sampingnya yang mematikan.

Orang tua Esra juga menjalankan misi untuk meningkatkan kesadaran tentang tren berbahaya tersebut. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa itu chroming sampai mereka menerima telepon yang mengatakan bahwa putri mereka dilarikan ke rumah sakit karenanya.

Kepada anak-anak dan remaja lain, orang tua Esra berpesan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan putri mereka.

"Kami ingin membantu anak-anak lain agar tidak jatuh ke dalam perangkap konyol ini. Tidak diragukan lagi bahwa ini akan menjadi perang suci kami," kata ayah Esra.

Orang tua Esra juga menyerukan resusitasi jantung paru atau CPR menjadi pelajaran wajib di sekolah serta agar formula deodoran dibuat lebih aman dan tidak beracun.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.