Sukses

PM Inggris Boris Johnson Didesak Meminta Maaf ke Ratu Elizabeth II

Liputan6.com, London - Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson didesak meminta maaf ke Ratu Elizabeth II. Desakan itu terkait dengan mundurnya sejumlah menteri dari kabinet yang dipimpinnya. 

"PM Inggris harus minta maaf kepada Ratu," kata mantan menteri George Freeman.

"Ada lebih banyak reaksi terhadap pengunduran diri Boris Johnson sebagai pemimpin Konservatif dari para menteri yang telah memintanya untuk pergi dalam 24 jam terakhir."

George Freeman, yang mengumumkan pengunduran dirinya sebagai menteri sains pagi ini, mengatakan Johnson harus meminta maaf kepada Ratu dan menyarankannya untuk segera memanggil Perdana Menteri Inggris sementara.

Seperti yang dilaporkan editor politik BBC Chris Mason, Johnson berencana untuk tetap pada jabatannya sebagai perdana menteri hingga musim gugur sehingga kontes kepemimpinan Konservatif dapat diadakan dan penggantinya dikonfirmasi.

Mundur Sebagai Pemimpin Partai Konservatif

Boris Johnson mundur dari jabatannya sebagai pemimpin Partai Konservatif Inggris setelah kehilangan dukungan dari para menteri dan anggota parlemennya, penyataan resminya akan disampaikan segera.

Kontes kepemimpinan Partai Konservatif akan berlangsung musim panas ini dan perdana menteri baru akan menggantikan posisinya pada waktunya untuk konferensi partai pada bulan Oktober.

Sementara itu, Johnson akan terus menjabat sebagai perdana menteri, demikian dikutip dari laman BBC, Kamis (7/7/2022).

Gelombang pengunduran diri yang diajukan untuk Boris Johnson terus mengalir dari pemerintah atas kepemimpinannya. Sehingga memutuskan untuk mundur.

Anggota senior kabinetnya, termasuk kanselir Nadhim Zahawi, mendesaknya untuk mengundurkan diri dan "pergi dengan bermartabat".

Johnson diperkirakan akan memberikan pernyataan pengunduran diri di luar No 10 Downing Street nanti.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Terlibat Skandal

Perdana Menteri Boris Johnson terlibat skandal saat merayakan ulang tahun ketika ada lockdown pandemi COVID-19. Kejadian itu berlangsung di kantor perdana menteri Inggris di Downing Street pada Juni 2020. 

Namun, pihak staf berdalih hanya berkumpul kurang dari 10 menit saja.

Menurut laporan ITV, ada 30 orang yang hadir di acara ultah Boris Johnson, padahal saat itu aturan kumpul-kumpul terbatas menjadi dua orang saja. 

Pesta ulang tahun ini disebut adalah kejutan usai PM Johnson berkunjung ke sekolah di Hertfordshire. Para staf mengaku hanya makan kue. 

Namun, sore harinya PM Johnson dilaporkan kembali merayakan ulang tahun di kediamannya. Namun, hal itu dibantah pihak PM Johnson yang berkata hanya mengundang sedikit anggota keluarga. 

BBC melaporkan, Selasa (25/1/2022), bahwa sore itu PM Johnson menggelar pesta barbeque. 

Selain itu, Menteri Lingkungan George Eustice juga pasang badan dan menyebut kurang dari 10 orang yang hadir di pesta di Downing Street.

3 dari 4 halaman

Dituntut Mundur

Tokoh Partai Buruh menuntut PM Johnson agar mundur karena tidak mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri. 

"Ini satu lagi bukti bahwa kita memiliki perdana menteri yang percaya bahwa aturan-aturan yang ia buat tidak diterapkan kepada dirinya sendiri," ujar Sir Keir Stamer, pemimpin Partai Buruh. 

Saat ini, ada laporan yang sedang disusun terkait pelanggaran PM Johnson. Laporan itu disusun oleh Sue Gray, seorang PNS senior yang mengumpulkan laporan pelanggaran-pelanggaran COVID-19 di area kantor pemerintah di saat ada pembatasan. 

Saat ini, ada laporan yang sedang disusun terkait pelanggaran PM Johnson. Laporan itu disusun oleh Sue Gray, seorang PNS senior yang menjabat di Kantor Kabinet.

Gray mengumpulkan laporan pelanggaran-pelanggaran COVID-19 di area kantor pemerintah di saat ada pembatasan.

Beberapa anggota parlemen dari Partai Konservatif sedang menanti rilisnya laporan Sue Gray untuk memutuskan apakah ikut meminta agar PM Johnson lengser. 

4 dari 4 halaman

Bukti Sudah Ada, PM Inggris Boris Johnson Tetap Ogah Mundur

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dinilai bertanggung jawab penuh atas pesta yang diadakan di kantornya di Downing Street yang melanggar aturan COVID-19, tetapi menolak untuk mengundurkan diri karena skandal tersebut.

Sebuah laporan yang sangat dinanti-nantikan yang ditugaskan oleh pemerintah, diterbitkan pada Rabu (25/5), menyelidiki 16 acara yang diadakan di Downing Street pada tahun 2020 dan 2021.

Ditulis oleh pegawai negeri senior Sue Gray, laporan setebal 37 halaman itu menggambarkan pesta-pesta dengan minuman keras yang dihadiri oleh banyak orang, yang melanggar aturan penguncian yang diberlakukan oleh pemerintah, demikian dikutip dari laman xinhua, Kamis (26/5/2022).

"Banyak dari peristiwa ini seharusnya tidak dibiarkan terjadi," laporan Gray menggarisbawahi.

"Kepemimpinan senior harus memikul tanggung jawab untuk budaya ini."

"Mereka yang berada di posisi paling junior menghadiri pertemuan di mana senior mereka hadir," tambahnya.

Johnson menghadiri beberapa acara, termasuk pesta ulang tahun kejutan yang diselenggarakan untuknya pada 19 Juni 2020, di mana ia menerima denda dari Polisi Metropolitan Inggris.

Beberapa pekan lalu, The Met menyelesaikan penyelidikannya sendiri tentang pelanggaran penguncian di Downing Street, mengeluarkan total 126 denda kepada 83 orang.

Berbicara kepada anggota parlemen di sesi Pertanyaan Perdana Menteri (PMQ) mingguan di House of Commons (majelis rendah Parlemen) setelah laporan Sue Gray diterbitkan, Johnson mengatakan, dia mengambil "tanggung jawab penuh atas semua yang terjadi di bawah pengawasan saya."

Namun, dia menambahkan bahwa dia "terkejut dan kecewa seperti orang lain di DPR."

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS