Sukses

COVID-19 Varian Omicron Merebak, Afrika Selatan Berupaya Hindari Lockdown

Liputan6.com, Johannesburg - Kasus Virus Corona COVID-19 di Afrika Selatan terpantau tengah naik, di mana varian baru Omicron terdeteksi.

Kedati demikian, seperti dilaporkan VOA Indonesia, Selasa (30/11/2021), peningkatan kasus COVID-19 di negara itu tak berdampak pada penutupan wilayah yang lebih ketat atau hingga lockdown. Presiden Cyril Ramaphosa mengatakan kepada mereka yang belum divaksinasi bahwa kini sudah waktunya untuk menerima vaksin.

Warga Afrika Selatan merasa lega bisa mengawali minggunya seperti hari Senin lainnya. Sepanjang akhir pekan terjadi ketegangan yang tinggi selagi masyarakat menunggu tanggapan pemerintah terhadap varian Omicron.

Presiden Cyril Ramaphosa pada Minggu 28 November malam mengatakan kepada bangsanya meskipun kasus COVID-19 meningkat, langkah-langkah pemakaian masker saat ini dan larangan keluar rumah setelah tengah malam sudah cukup.

Pada kesempatan itu, Ramaphosa juga mengatakan sementara dunia belajar untuk hidup dengan virus, vaksinasi adalah kunci untuk menjaga negara itu tetap terbuka.

Menurut data pemerintah, sekitar 41 persen orang dewasa di Afrika Selatan telah vaksinasi COVID-19.

"Masih ada terlalu banyak orang yang meragukan dan menolak untuk divaksinasi. Vaksinasi sejauh ini merupakan cara paling penting untuk melindungi diri kita dan orang-orang di sekitar kita dari serangan varian Omicron untuk mengurangi dampak dari gelombang keempat dan membantu memulihkan kebebasan sosial yang kita semua dambakan," kata Ramaphosa seraya mengatakan bahwa sudah waktunya warga yang lainnya melakukan vaksinasi.

Presiden Afsel itu juga memperingatkan pemerintah sedang menjajaki kebijakan kewajiban vaksin untuk bisa mengakses layanan atau tempat tertentu. Barista Allen Mphole mengatakan hal itu akan menyulitkan polisi dan bisa menyebabkan perpecahan sosial.

"Kita akan melihat pertengkaran di mana ada orang-orang yang tidak percaya pada vaksin tetapi ada orang-orang lain yang mempercayainya. Jadi, itu akan menimbulkan ketegangan bukan saja antara pelanggan dengan orang yang melayani mereka, tetapi juga di antara pelanggan sendiri."

Kemunculan varian Omicron memicu larangan perjalanan yang meluas ke Afrika selatan oleh Inggris, Amerika, Uni Eropa, dan negara-negara lain. Ramaphosa menyebutkan nama-nama negara dalam pidatonya Minggu malam.

Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa keputusan negara-negara tersebut tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan dan secara tidak adil menghukum ekonomi negara-negara miskin.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

WHO Kritik Larangan Perjalanan untuk Afrika Selatan

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkritik aturan terbaru yang diterapkan kepada Afrika Selatan akibat varian COVID-19 Omicron. Dengan menyebut larangan perjalanan tidak efektif dan mengatakan negara-negara seharusnya melakukan pengujian untuk mencegah penyebaran virus.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Senin mengingatkan kembali tidak ada wilayah dunia yang aman dari virus, sampai semua warga dunia aman, dan mengingatkan gentingnya situasi dunia. Ia juga mengatakan dunia tidak seharusnya menghukum negara di mana varian virus itu ditemukan.

"Kita harus berterima kasih kepada Afrika Selatan dan Botswana karena telah mendeteksi, mendaftar, dan melaporkan varian ini, bukannya malah menghukumnya. Memang, Omicron menunjukkan mengapa dunia memerlukan kesepakatan baru tentang pandemi," ujar Tedros.

Larangan perjalanan telah diberlakukan di benua itu, dan Mauritius, Rwanda, dan Kenya melakukan pembatasan penerbangan.

Inggris mengatakan penerbangan ke Afrika Selatan akan dilanjutkan minggu ini, meskipun karantina selama 10 hari di hotel akan diwajibkan bagi orang-orang yang datang di negara itu.

3 dari 3 halaman

Infografis Varian Baru Omicron Hantui Dunia