Sukses

Kelompok Terkait Al-Qaeda Lancarkan Serangan Bom Bunuh Diri di Somalia, 9 Orang Tewas

Liputan6.com, Jakarta - Sembilan orang tewas dalam dugaan serangan bom bunuh diri di ibu kota Somalia, Mogadishu, kata polisi dan saksi.

Serangan pada Selasa 14 September itu telah menewaskan dan melukai warga sipil dan anggota pasukan keamanan.

"Masih ada penyelidikan yang sedang berlangsung tetapi dengan semua indikasi sejauh ini, seorang pembom bunuh diri menyebabkan ledakan itu," kata perwira polisi Mohamed Ali seperti dikutip oleh kantor berita AFP, seraya menambahkan bahwa enam anggota pasukan keamanan dan tiga warga sipil tewas dan 11 orang lainnya terluka.

Dadir Hassan, petugas polisi lain di Mogadishu, mengatakan jumlah korban tewas mencapai 11 orang.

Dia mengatakan kepada Anadolu Agency melalui telepon bahwa pelaku bom bunuh diri menargetkan sebuah toko teh yang ramai di dekat pangkalan militer utama di Mogadishu.

“Penyelidikan awal mengkonfirmasi bahwa serangan itu adalah hasil dari seorang pembom bunuh diri yang meledakkan dirinya sendiri di sebuah kedai teh di mana pasukan keamanan dan warga sipil sering berkunjung dan kami dapat memastikan bahwa setidaknya 11 orang, termasuk tentara, tewas dan beberapa lainnya terluka,” kata Hassan.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Bom Bunuh Diri

Pemboman itu diklaim oleh kelompok bersenjata al-Shabab yang terkait dengan al-Qaeda, yang telah berusaha untuk menggulingkan pemerintah federal Somalia.

"Saya telah melewati daerah itu beberapa menit setelah ledakan, seluruh daerah itu berantakan dengan sepatu yang ditinggalkan milik para korban," kata saksi Kudow Yusuf kepada AFP.

Saksi lain, Adan Hussein, mengatakan dia melihat beberapa mayat, beberapa di antaranya berseragam, dibawa ke ambulans.

Perdana Menteri Somalia Mohamed Hussein Roble mengutuk serangan "tidak pandang bulu".

"Tindakan biadab ini menunjukkan bagaimana teroris al-Shabab haus akan pertumpahan darah tanpa pandang bulu dari orang-orang Somalia, memaksa kami untuk bekerja sama dalam memerangi terorisme," kata Roble.

Al-Shabab menguasai ibu kota hingga 2011, ketika didorong keluar oleh pasukan Uni Afrika, tetapi masih menguasai wilayah di pedesaan dan sering melancarkan serangan terhadap target pemerintah dan sipil di Mogadishu dan di tempat lain.