Sukses

Unjuk Rasa Ricuh Terjadi Saat Peringatan Setahun Ledakan Beirut Lebanon

Liputan6.com, Beirut - Protes massal berujung kericuhan terjadi di Lebanon, terutama di Pelabuhan Beirut, menyerukan keadilan bagi para korban pada peringatan satu tahun ledakan dahsyat di kota itu.

Dikutip dari laman Xinhua, Kamis (5/8/2021) pengunjuk rasa di pusat kota Beirut berusaha masuk ke gedung parlemen dengan melemparkan batu ke arah pasukan keamanan. Sementara polisi antihuru-hara menggunakan bom asap dan meriam air untuk membubarkan mereka.

Keluarga korban juga menyerukan penyelidikan yang transparan untuk mengungkap kebenaran di balik ledakan tersebut.

Satu tahun setelah ledakan mematikan mengguncang pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020, tidak ada pejabat senior yang dimintai pertanggungjawaban. Hal inilah yang memicu kemarahan di kalangan warga Lebanon karena negara mereka juga mengalami keruntuhan ekonomi.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Ledakan Dahsyat di Beirut

Satu tahun lalu, ledakan dahsyat terjadi di pelabuhan di Beirut, Lebanon. Video-video beredar di media sosial yang merekam gumpalan asap di pelabuhan.

Tiba-tiba, terdengar dentaman susulan diiringi asap kemerahan. Sekejap kemudian, ledakan dengan intensitas yang lebih besar terjadi.

Awan berbentuk jamur dengan cepat menyapu area ledakan, kemudian menampilkan asap berwarna merah yang menjulang tinggi. Ribuan orang terluka dan lebih dari 200 nyawa melayang.

Belakangan, ketahuan bahwa ledakan berasal dari amonium nitrat yang selama enam tahun tersimpan di gudang pelabuhan. 

Gubernur Beirut Marwan Abboud langsung pergi ke lokasi kejadian setelah ledakan. Ia mengaku tak pernah menyaksikan tragedi ini sepanjang hidupnya. 

Ia juga menangis ketika melihat kerusakan yang terjadi.

"(Ini) mirip dengan apa yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki," ucapnya ketika diwawancara Sky News di tempat kejadian.

Gubernur Marwan berkata 300 ribu kehilangan tempat tinggal akibat ledakan Beirut.