Sukses

PM Jacinda Ardern Minta Maaf Atas Rasisme Selandia Baru di Masa Lalu

Auckland - Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, meminta maaf atas tindakan kepolisian negaranya pada 50 tahun lalu yang memiliki nuansa rasisme. Para polisi pada saat itu menarget kelompok minoritas Pasifik untuk dideportasi. 

Dilaporkan ABC Indonesia, Senin (2/8/2021), tindakan itu dilakukan oleh aparat dan petugas imigrasi, yang sering kali membawa anjing, untuk menangkap dan mendeportasi orang-orang yang telah memperpanjang masa berlaku visa kerja mereka.

Sepertiga dari jumlah orang yang tinggal melebihi masa berlaku visa izin tinggal atau 'overstayers' di Selandia Baru adalah orang-orang dari negara Pasifik, tetapi mewakili 86 persen dari tuntutan hukum.

Hanya lima persen warga Inggris dan Amerika di Selandia Baru dituntut di muka hukum pada periode yang sama, meskipun jumlahnya sama-sama sepertiga dari 'overstayers'.

"Hari ini, saya berdiri atas nama pemerintah Selandia Baru untuk menawarkan permintaan maaf resmi dan tanpa pamrih kepada komunitas Pasifik atas penerapan diskriminatif undang-undang imigrasi tahun 1970-an," kata Ardern pada pertemuan pejabat Pasifik di Auckland.

"Pemerintah menyatakan kesedihan dan penyesalannya atas terjadinya penggerebekan saat subuh dan pemeriksaan acak polisi, dan bahwa tindakan tersebut pernah dianggap sebagai langkah yang tepat."

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Masih Teringat

Meski tindakan ini terjadi hampir 50 tahun yang lalu, Ardern mengatakan hal itu tetap terukir jelas dalam ingatan mereka yang terkena dampak.

Mereka hidup "dengan kepercayaan dan keyakinan pada pihak berwenang yang terganggu".

Jacinda Ardern juga mengambil bagian dalam ritual tradisional Samoa yang dikenal sebagai ifoga, di mana subjek memohon pengampunan dengan mengekspos diri mereka pada semacam penghinaan publik.

Anggota komunitas Pulau Pasifik membentangkan tikar putih besar di atas kepala Ardern yang menutupi seluruh tubuhnya. Beberapa saat kemudian mereka melepaskannya dan memeluknya.

Menteri Masyarakat Pasifik William Sio, yang beremigrasi bersama keluarganya dari Samoa ke Selandia Baru pada 1969, menggambarkan penggerebekan itu sebagai tindakan "rasisme yang paling buruk".

Wellington telah mendorong migrasi dari pulau-pulau Pasifik seperti Samoa, Tonga dan Fiji setelah Perang Dunia II untuk mengisi kekurangan pekerja seiring dengan ekonomi yang berkembang.

Tetapi mereka yang bermigrasi malah mendapat serangan balik pada tahun 1970-an, dengan klaim bahwa mereka mengambil pekerjaan orang-orang Selandia Baru.

 

3 dari 4 halaman

Apresiasi dari Putri Tonga

Putri Tonga, Mele Siu'ilikutapu Kalaniuvalu Fotofili mengatakan dampak serangan fajar tersebut telah menghantui komunitasnya hingga beberapa generasi setelahnya.

"Kami berterima kasih kepada pemerintah Anda karena membuat keputusan yang tepat untuk meminta maaf," katanya kepada Jacinda Ardern. 

"Untuk memperbaiki perlakuan ekstrem, tidak manusiawi, rasis dan tidak adil, khususnya terhadap komunitas saya, di era serangan fajar."

Mele Siu'ilikutapu mengatakan, walau beberapa anggota komunitas Tonga mungkin berada di sisi hukum yang salah pada saat itu, itu tidak membenarkan tindakan ekstrem yang diambil terhadap mereka.

Jacinda Ardern mengatakan Selandia Baru berkomitmen untuk menghilangkan rasisme dan dia berharap permintaan maaf telah menjadi "akhir dan penyembuhan yang sangat dibutuhkan bagi komunitas Pasifik kita".

Ketika Jacinda Ardern pertama kali mengumumkan dia akan mengeluarkan permintaan maaf, William Sio berusaha keras menahan air matanya karena mengingat pengalamannya yang mengerikan saat menjadi sasaran.

"Kenangan yang terukir adalah wajah ayah saya yang tidak berdaya ... seseorang mengetuk pintu Anda pada dini hari dengan senter di wajah Anda, mereka tidak menghormati pemilik rumah kami," katanya.

4 dari 4 halaman

Infografis COVID-19: