Sukses

Cerita Dubes Yuddy Chrisnandi Selamatkan Bahasa Indonesia dan Sawit di Ukraina

Liputan6.com, Kyiv - Duta Besar Indonesia untuk Ukraina, Georgia, dan Armenia, Yuddy Chrisnandi baru saja merilis buku terbarunya di bidang hubungan internasional. Buku itu terkait pengalaman kerjanya di tahun ketiga sebagai duta besar di Ukraina.

Dalam peluncuran buku Perjalanan Kerja Tahun Ketiga Dubes RI di Kyiv, Dubes Yuddy bercerita tentang pengalamannya di bidang ekonomi hingga kebudayaan. Ada cerita menarik ketika ia menyelamatkan eksistensi Bahasa Indonesia dan sawit di Ukraina. 

Di Ukraina, ada universitas yang punya program Bahasa Indonesia di Universitas Nasional Taras Shevchenko. Programnya nyaris dihapus karena sepi peminat. 

"Saya katakan ke seluruh staf KBRI yang ada, selama saya menjadi Dubes saya tak ingin kehilangan legacy dari dubes-dubes sebelumnya, dan kita harus eksis memiliki program studi Bahasa Indonesia di universitas ternama," ujarnya saat peluncuran bukunya via Zoom, Jumat (29/5/2020). 

Perayaan HUT RI di Ukraina. Dok: Perjalanan Kerja Tahun Ketiga Dubes RI di Kyiv

Dubes Yuddy dan timnya langsung melobi berbagai lini di pemerintahan Ukraina, mulai dari parlemen hingga kementerian. Ia siap mencari sumber tenaga dan pembiayaan agar program Bahasa Indonesia tidak dihapus. 

"Kami melakukan pembicaraan yang sangat intens, kami menemui menteri pendidikannya, saya menemui ketua parlemennya, saya meyakinkan agar eksistensi sekolah bahasa Indonesia program S1 Indonesia dilanjutkan," ujar Dubes Yuddy. 

Usahanya pun berhasil. Program tak jadi dihapus dan sudah ada lulusan program Bahasa Indonesia dari Taras Shevchenko yang merupakan universitas prestisius di Ukraina. 

Lulusan tak hanya S1, melainkan juga S2. Para peminat Bahasa Indonesia di Ukraina pun sudah ada yang dikirim ke Indonesia.

2 dari 3 halaman

Juga Menyelamatkan Sawit

Dubes Yuddy bercerita pencapaian lain yang ia capai saat menjabat adalah menyelamatkan komoditas sawit. Saat itu, Uni Eropa ingin membatasi produk biofuel yang dianggap merusak lingkungan dan sawit menjadi salah satu yang berpotensi kena. 

Pencapaian itu dinilai monumenal oleh Dubes Yuddy, sebab sawit adalah 80 persen dari perdagangan antara Indonesia dan Ukraina. Jika Ukraina menyetop pembelian sawit, maka RI bisa kehilangan pendapatan signifikan.

"Karena ini kepentingan nasional kita, dan juga perintah dari presiden dan pemerintah RI, kami secara total melobi sebagian besar anggota parlemen Ukraina yang kami tidak kenal, kami melobi konglomerat Ukraina, bahkan sampai ketemu presiden sebelumyna Petro Poroshenko, dan bertemu Presiden Zelensky, semua orang yang saya anggap mengambil keputusan di Ukraina," ungkap Dubes Yuddy. 

Langkah Dubes Yuddy sejauh ini berhasil lewat melakukan konsesi-konsesi diplomatik. Ia mendapat jaminan dari pemerintah, parlemen, hingga oligarki berpengaruh di Ukraina bahwa aturan pelarangan sawit tak diberlakukan dan sedang pending.

"Semoga kita secara ekonomi tidak dirugikan," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: