Sukses

Ancaman Mengerikan Bila Es di Antarktika Terus Mencair

Liputan6.com, Jakarta - Perubahan iklim global menyebabkan es di Antarktika terus mencair. Pencairan es di Antartika ini akan menimbulkan ancaman yang mengerikan bagi Bumi dan penghuninya.

Institut Penelitian Dampak Iklim Potsdam (Potsdam Institute of Climate Impact Research/PIK) memprediksi, mencairnya es Antarktika pada abad ini dapat mengakibatkan permukaan laut global naik hingga tiga kali lipat dari yang pernah terjadi sepanjang abad sebelumnya.

"Meski kami menyaksikan kenaikan permukaan laut sekitar 19 sentimeter dalam 100 tahun terakhir, mencairnya es Antarktika dapat mengakibatkan kenaikan hingga 58 sentimeter pada abad ini," kata penulis utama studi itu Anders Levermann dari PIK dan Observatorium Bumi Lamont-Doherty (Lamont-Doherty Earth Observatory /LDEO) Universitas Columbia di New York.

Menurut PIK, faktor-faktor lain yang akan mengakibatkan semakin tingginya permukaan laut adalah ekspansi termal air laut di bawah pemanasan global dan mencairnya gletser gunung di Antarktika yang menjadi penyebab sebagian besar kenaikan permukaan laut sejauh ini.

 

2 dari 3 halaman

Jadi Risiko Terbesar

Para ilmuwan meyakini Antarktika saat ini akan menjadi faktor terbesar dalam kenaikan permukaan air laut, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Earth System Dynamics dari European Geosciences Union (EGU).

"Faktor Antartika ternyata menjadi risiko terbesar, dan juga ketidakpastian terbesar, untuk permukaan laut di seluruh dunia," kata Levermann, seperti dikutip dari Xinhua, Minggu (16/2/2020).

Dengan asumsi skenario emisi gas rumah kaca konstan, kisaran kenaikan permukaan laut yang "sangat mungkin" pada abad ini yang disebabkan oleh pencairan es Antartika adalah antara 6 sampai 58 sentimeter.

Jika emisi gas rumah kaca dapat "dikurangi dengan cepat", kisarannya hanya akan berada di angka 4 sampai 37 sentimeter, menurut studi itu.

Lapisan es Antartika berpotensi menaikkan permukaan air laut global hingga puluhan meter. "Yang kita ketahui dengan pasti adalah jika tidak menghentikan pembakaran batu bara, minyak, dan gas, risiko di wilayah-wilayah metropolis pesisir mulai dari New York hingga Mumbai, Hamburg atau Shanghai akan meningkat," kata Levermann.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading